Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPBD Catat 44.058 Warga NTB Terdampak Bencana Selama Januari 2026

Yuyun Kutari • Senin, 2 Februari 2026 | 12:08 WIB
Hujan deras mengakibatkan rumah warga tergenang banjir di salah satu desa, di Kabupaten Sumbawa, pada Sabtu (31/1).
Hujan deras mengakibatkan rumah warga tergenang banjir di salah satu desa, di Kabupaten Sumbawa, pada Sabtu (31/1).

LombokPost - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat terjadinya 52 kejadian bencana alam di NTB, selama periode 1 Januari hingga 31 Januari 2026.

“Bencana hidrometeorologi masih mendominasi, dan memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat maupun infrastruktur di berbagai wilayah,” terang Kepala Pelaksana BPBD Sadimin.

Dari total kejadian tersebut, banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi, yakni sebanyak 26 kejadian. Selain banjir, cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang juga cukup tinggi dengan 22 kejadian.

Sementara itu, tanah longsor serta gelombang pasang atau abrasi masing-masing tercatat 2 kejadian. Pada periode yang sama, BPBD memastikan tidak terdapat kejadian bencana gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, erupsi gunung api, maupun tsunami.

Meski demikian, tingginya frekuensi banjir dan cuaca ekstrem tetap menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.  Berdasarkan data rekapitulasi BPBD, rangkaian bencana tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan sembilan orang mengalami luka-luka.

Sementara itu, tidak ada laporan korban hilang. Secara keseluruhan, sebanyak 44.058 jiwa warga terdampak, baik harus mengungsi maupun mengalami gangguan aktivitas akibat bencana. 

Dari sisi kerusakan permukiman warga, BPBD mencatat 428 unit rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 23 rumah rusak berat, 35 rumah rusak sedang, dan 370 rumah rusak ringan.

Selain rumah yang mengalami kerusakan struktural, sebanyak 12.944 rumah dilaporkan terendam banjir, sehingga memaksa sebagian warga menghentikan aktivitas dan membutuhkan bantuan darurat. 

Bencana alam tersebut juga berdampak langsung terhadap pelayanan dasar masyarakat.

Tercatat 24 unit fasilitas pendidikan, lima unit fasilitas kesehatan, serta tiga unit perkantoran mengalami kerusakan maupun gangguan operasional.

“Kondisi ini berpotensi menghambat kegiatan belajar mengajar, pelayanan kesehatan, serta pelayanan administrasi kepada masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Kerusakan Infrastruktur Akibat Bencana Capai Rp 10 Miliar, BPBD NTB Ajukan DSP ke BNPB

Selain itu, kerusakan juga terjadi pada sarana dan prasarana vital. BPBD mencatat kerusakan pada 7 unit jembatan, 130 meter ruas jalan, 18 meter tanggul, 14 titik jaringan listrik, serta 700 meter jaringan air bersih.

Kerusakan infrastruktur ini berdampak pada aksesibilitas, distribusi logistik, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Dampak bencana juga dirasakan pada sektor sosial dan ekonomi.

Luas lahan pertanian yang terdampak mencapai 1.306 hektare sawah, sementara 60 hektare tambak atau kolam turut mengalami kerusakan.

Selain itu, 16 unit pertokoan atau warung dilaporkan terdampak, yang berakibat pada terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Sadimin menegaskan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi potensi bencana ke depan, mengingat kondisi cuaca yang masih dinamis. 

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG sebagai langkah antisipasi dalam merencanakan aktivitas sehari-hari.

“Tetap waspada, jaga kesehatan, dan ikuti perkembangan cuaca terkini dari sumber terpercaya agar kita semua siap untuk selamat,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#meninggal dunia #dampak bencana #fasilitas pendidikan #pelayanan kesehatan #Tsunami #kerusakan infrastruktur #jembatan #Bencana alam #warga terdampak #Kekeringan #NTB #hujan lebat #Cuaca Ekstrem