LombokPost - Rencana pengembangan layanan pesawat amfibi atau seaplane, di Bumi Gora kian serius.
Dinas Perhubungan (Dishub) NTB memastikan dalam waktu dekat akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pihak mitra sebagai langkah awal realisasi program tersebut.
Kepala Dishub NTB Ervan Anwar mengatakan penandatanganan MoU menjadi tahapan penting sebelum masuk ke proses teknis lebih lanjut.
“Kalau seaplane segera terealisasi, nanti akan ada MoU dengan pihak mitra,” terangnya.
Berdasarkan draf MoU yang diperoleh Lombok Post, pada Pasal 1 tentang maksud dan tujuan, disebutkan kesepakatan bersama ini sebagai dasar bagi para pihak dalam melaksanakan pengembangan layanan seaplane.
Adapun tujuannya, melakukan kajian kelayakan, kajian peraturan lingkungan, serta identifikasi kebutuhan infrastruktur terkait pengoperasian layanan seaplane di NTB.
Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung prioritas strategis NTB dalam meningkatkan konektivitas, memperkuat sektor maritim, serta melakukan diversifikasi produk pariwisata.
Sementara itu, dalam Pasal 2 tentang Objek dan Ruang Lingkup, ditegaskan objek kesepakatan adalah pengembangan layanan seaplane.
Ruang lingkupnya meliputi penyusunan studi kelayakan dan teknis keselamatan, pengembangan rute dan destinasi, fasilitasi koordinasi teknis dan operasional, investasi serta penyediaan infrastruktur, hingga promosi pengembangan berbagai destinasi dan pemasaran pariwisata.
Adapun pada Pasal 3 tentang Pelaksanaan, disebutkan implementasi kesepakatan bersama akan diatur lebih lanjut dalam perjanjian kerja sama sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk kepentingan persiapan maupun pelaksanaan kerja sama tersebut, pihak pertama akan menunjuk kepala perangkat daerah terkait sesuai tugas dan fungsinya sebagai pelaksana.
Ervan menegaskan, pengembangan layanan seaplane bukan perkara sederhana karena melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota serta pengelola aset.
“Kalau seaplane ini juga ada banyak yang diurus, makanya bukan pusat saja. Ada balai wilayah sungai, dengan kabupaten karena asetnya di situ, itu banyaklah,” jelasnya.
Dishub NTB akan berperan dalam memfasilitasi berbagai kebutuhan koordinasi dan perizinan. Salah satu lokasi yang direncanakan menjadi titik pendaratan seaplane adalah Bendungan Batujai.
Selain itu, kawasan Mandalika juga masuk dalam rencana pengembangan. Ada juga rencana lokasi pendaratan di kawasan Teluk Saleh, Pulau Sumbawa. Ini diarahkan untuk mendukung konektivitas wisatawan, termasuk membuka akses penerbangan dari Bali menuju Labuan Bajo maupun sebaliknya.
“Nanti mungkin di Teluk Saleh rencana untuk mendukung konektivitas wisatawan ke Labuan Bajo, dari Bali dan sebaliknya,” ujarnya.
Menurut Ervan, rencana ini juga merupakan bagian dari wujud kerja sama regional Bali–NTB–NTT dalam memperkuat konektivitas antar destinasi wisata unggulan di kawasan timur Indonesia.
Terkait perizinan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI, Ervan menyebut prosesnya masih berjalan. Umumnya, izin tersebut berkaitan dengan penetapan rute penerbangan. “Izin Kemenhub sedang berproses. Biasanya itu harus di rute,” katanya.
Lebih jauh, berbagai aspek akan dikaji secara menyeluruh dalam studi kelayakan, mulai dari kelayakan teknis pendaratan, visibilitas, dampak lingkungan, hingga aspek ekonomi.
“Ya kelayakannya sih, visiblenya, untuk pendaratan, dampak lingkungannya semua. Semua aspek, termasuk secara ekonomi juga,” tegas Ervan.
Dengan tahapan yang tengah disiapkan tersebut, Pemprov NTB berharap pengembangan layanan seaplane, bisa menjadi alternatif transportasi strategis yang memperkuat konektivitas antardestinasi sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Sebelumnya di akhir Desember 2025 lalu, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mendampingi investor dari PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (Aman Air) meninjau langsung kawasan Bendungan Batujai.
Kunjungan tersebut terkait rencana pengembangan Bendungan Batujai, sebagai pusat terminal penerbangan pesawat air khusus pariwisata berkualitas pertama di Indonesia yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.
Baca Juga: Teluk Saleh Siap Jadi Surga Konservasi Hiu Paus Berbasis Biota Pertama di Indonesia
Investor merencanakan pengoperasian dua unit pesawat jenis Twin Otter Seaplane untuk melayani penerbangan eksklusif dari Batujai menuju sejumlah destinasi wisata unggulan di Indonesia.
Beberapa rute yang disiapkan meliputi Benoa, Benete, Teluk Moyo, Labuan Bajo, Teluk Saleh, Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, serta destinasi wisata lainnya.
Editor : Kimda Farida