LombokPost - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan komitmennya untuk tidak menukar kelestarian alam dengan kemajuan ekonomi semata.
Dalam pemaparan Rencana Pembangunan Rendah Karbon, Kepala Bappeda NTB, Baiq Nelly Yuniarti, memaparkan visi besar "NTB Makmur Mendunia" yang tetap menjaga hijaunya hutan dan birunya laut.
Nelly mengungkapkan bahwa komitmen pembangunan rendah karbon kini bukan sekadar wacana, melainkan sudah "dikunci" dalam dokumen hukum RPJPD 2025-2045 dan menjadi pilar utama RPJMD 2025-2029.
Targetnya pun tak main-main: menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 41,91 persen hingga tahun 2029.
Ubah Sampah Jadi Energi
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pengelolaan sampah. Nelly mengakui bahwa mengubah pola pikir (mindset) masyarakat menjadi tantangan terberat.
Ia berencana menggandeng tokoh agama dan memanfaatkan "fatwa sampah" untuk mendisiplinkan warga.
“PR terbesar kami adalah mindset. Kita punya tempat sampah banyak, tapi budaya nongkrong sambil nyampah masih kuat. Ke depan, kami mendorong perubahan radikal pemilahan sampah dari rumah dan meminta dukungan Bappenas untuk studi kelayakan mengubah sampah menjadi energi alternatif,” tegas Nelly, Rabu (4/3/2026).
Sektor Unggulan dan Transisi Energi Di sektor energi, NTB telah mencapai bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen.
Pemprov juga mulai memelopori penggunaan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas. Sementara itu, di sektor pertanian, NTB sukses mempertahankan kualitas ekspor 21 ton vanili organik ke Amerika Serikat setiap tahunnya.
Nelly juga memuji keberhasilan sektor peternakan yang mampu membangun ribuan unit biodigester. “Limbah ternak yang dulu polutan, kini jadi biogas untuk masak dan pupuk organik. Kita buktikan jadi petani tidak harus merusak iklim,” tambahnya.
Kreativitas di Tengah Keterbatasan Fiskal
Menanggapi kritik terkait anggaran, Nelly mengakui adanya keterbatasan fiskal daerah.
Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut harus dijawab dengan kreativitas kolaborasi, bukan pelemahan komitmen. Ia mengajak dunia usaha melakukan investasi hijau dan mitra pembangunan untuk mengisi celah pendanaan.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dalam sekat sektoral. APBD terbatas, tapi semangat menjaga NTB tetap teguh. Kami butuh investasi hijau dan dukungan semua pihak agar NTB jadi pionir pembangunan rendah karbon di Indonesia,” pungkasnya menutup sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.
Editor : Kimda Farida