LombokPost - Dinas Kesehatan (Dikes) NTB melaporkan perkembangan terbaru, mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak yang terjadi di tiga wilayah, yakni Bima, Dompu dan Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri menegaskan, hingga pekan ke-7 tahun 2026, tercatat sebanyak 985 kasus suspek campak di NTB yang seluruhnya berasal dari tiga daerah tersebut.
Peningkatan kasus dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) secara lengkap.
“Kasus ini didominasi oleh anak usia di bawah lima tahun. Sebagian besar terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau bahkan belum pernah diimunisasi sama sekali,” terangnya, Jumat (13/3).
Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir turut menyebabkan akumulasi populasi rentan terhadap penularan campak.
Selain itu, tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku juga ikut mendorong peningkatan kasus.
“Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB campak,” kata Fikri.
Menghadapi situasi tersebut, Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah melakukan berbagai langkah penanganan.
Salah satunya dengan memperkuat surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) di seluruh puskesmas di Bima, Dompu dan Kota Bima.
“Program ini memprioritaskan pemberian imunisasi kepada bayi dan balita usia 9 hingga 59 bulan,” terang pria yang juga Plt Direktur RSUD NTB tersebut.
Langkah lain yang dilakukan adalah pemberian vitamin A, kepada penderita campak untuk mencegah komplikasi serta menurunkan risiko kematian.
Baca Juga: Klinik Unram Datangi Kampus, Civitas FHISIP Langsung Pindahkan Faskes BPJS Usai Dengar Layanan Ini
Pemerintah juga meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, dan anjuran segera berobat ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala demam yang disertai batuk, pilek, serta ruam pada kulit.
Di sisi layanan kesehatan, pemerintah memastikan ketersediaan logistik penanganan KLB, termasuk vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). “Penguatan juga dilakukan pada sistem triase isolasi campak di fasyankes,” ujarnya.
Langkah tersebut meliputi, pemisahan cepat pasien suspek campak yang menunjukkan gejala demam, ruam, serta batuk atau pilek, di instalasi gawat darurat maupun layanan rawat jalan.
Fikri mengatakan fasilitas kesehatan juga menyiapkan area isolasi khusus untuk kasus infeksius, terutama pada layanan pediatri, serta melakukan penanganan segera terhadap pasien yang mengalami komplikasi seperti sesak napas, diare, atau kesulitan makan.
“Upaya ini dilakukan untuk mencegah penularan yang lebih luas, khususnya saat terjadi lonjakan kasus atau dalam situasi KLB,” tegasnya.
Pemprov NTB, lanjut Fikri, terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala hingga situasi dinyatakan terkendali. “Masyarakat kami imbau tetap tenang namun tetap waspada. Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal agar rantai penularan campak dapat diputus,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Andi Saguni memaparkan dalam siaran resminya, data terbaru tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan enam kematian.
Selain itu, terdapat 45 KLB campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. “Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” jelasnya.
Masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan menjelang libur panjang Lebaran, karena mobilitas masyarakat dan aktivitas berkumpul dapat meningkatkan risiko penularan.
“Karena itu masyarakat perlu tetap waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap,” tegasnya.
Editor : Kimda Farida