LombokPost – Sebanyak 395 Jamaah Calon Haji (JCH) Kloter 04 asal Kabupaten Bima, dijadwalkan bertolak dari Asrama Haji Embarkasi Lombok menuju Madinah pada Sabtu (25/4) pukul 23.05 WITA.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB H Lalu Muhammad Amin mengatakan selama proses pemeriksaan kesehatan di Asrama Haji Embarkasi Lombok, terdapat tiga JCH ditetapkan tunda berangkat ke Tanah Suci.
"Kami pastikan tunda berangkat ke Tanah Suci setelah hasil pemeriksaan kesehatan terakhir, ada tiga jamaah ini dinyatakan tidak laik terbang karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh ke Arab Saudi,” jelas Amin.
Ia pun merinci kondisi tiga jamaah tersebut. Satu jamaah mengalami anemia berat dengan kadar hemoglobin 5,9, satu jamaah dengan suspek pneumonia, serta satu lagi jamaah suspek demensia disertai gangguan psikotik.
“Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi tim medis. Keselamatan jamaah menjadi prioritas utama sehingga yang bersangkutan harus mendapat penanganan lebih lanjut sebelum bisa diberangkatkan pada kesempatan berikutnya,” katanya.
Agar kloter tetap utuh sebanyak 395 JCH, Kanwil Kemenhaj NTB mengganti posisi jamaah yang tunda berangkat tersebut berasal dari jamaah Kota Mataram.
"Proses pemberangkatan haji ini harus cepat, jadi kami nggak bisa mendatangkan dari Bima, makanya kami pilih dari Kota Mataram," terang Amin.
Terhadap JCH yang ditunda keberangkatannya, itu telah dirujuk ke RSUD NTB dan RS Mutiara Sukma. Tim Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram terus memantau kondisi kesehatan mereka.
Sementara itu, selain tiga jamaah yang tertunda, data kesehatan Kloter 4 Kabupaten Bima menunjukkan sebagian besar jemaah masuk kategori risiko tinggi.
Dari total jemaah, sebanyak 290 orang atau 73,42 persen tercatat memiliki riwayat penyakit penyerta dengan rincian 26 orang kategori berat, 142 orang kategori sedang, dan 122 orang kategori ringan.
Amin mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius petugas haji karena mayoritas jamaah berasal dari kelompok usia lanjut.
“Sebagian besar jemaah memang masuk kategori risiko tinggi, sehingga pengawasan kesehatan selama di asrama maupun saat di Tanah Suci akan diperketat,” jelasnya.
Selama berada di Asrama Haji Embarkasi Lombok, sebanyak 34 jamaah tercatat mendapat pelayanan di poliklinik. Petugas juga menyiapkan sembilan kursi roda untuk membantu mobilitas jemaah yang membutuhkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi primer dengan 176 kasus, disusul pemeriksaan kesehatan umum sebanyak 72 kasus, serta hiperlipidemia atau kolesterol tinggi sebanyak 31 kasus.
“Karena itu kami terus mengingatkan jemaah untuk menjaga kondisi fisik, mengatur pola makan, dan mematuhi anjuran petugas kesehatan agar ibadah dapat berjalan lancar,” tandas Amin.
Editor : Akbar Sirinawa