Setelah sempat rehat beberapa pekan untuk melakukan penyempurnaan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) agar sesuai dengan standar ketat Badan Gizi Nasional (BGN), dapur ini kini tampil lebih percaya diri dalam mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah pembenahan ini menjadi bukti nyata bahwa Yayasan Batu Emas, sebagai pengelola, tidak main-main dalam menjalankan amanah pemerintah sejak 29 September 2025. Di bawah komando Muhazam, SP., SPPG Karang Bongkot kini bukan sekadar dapur umum, melainkan barometer kualitas bagi seluruh SPPG di Nusa Tenggara Barat.
Baca Juga: Dapur MBG Ramai-Ramai Urus Sertifikat Higiene, Dikes Mataram Pastikan Tak Ada "Jalur Belakang"
Seiring dengan kembalinya operasional pasca-perbaikan, Yayasan Batu Emas melakukan manuver strategis dalam manajemen distribusi. Untuk menjamin efektivitas dan ketepatan waktu, kini dilakukan pembagian wilayah kerja yang lebih spesifik.
"Kami mulai melayani Biaya Operasional Satuan (B3), namun demi pelayanan yang lebih optimal, beberapa sekolah kami serahkan pengelolaannya ke unit dapur lain seperti SPPG Bajur dan Telaga Waru," jelas Muhazam saat ditemui pada Minggu (3/5/2026).
Langkah berani ini diambil semata-mata untuk memperpendek rantai distribusi. Dengan jarak tempuh yang lebih singkat, suhu makanan dapat dipertahankan dan kesegarannya tetap terjaga hingga tiba di meja belajar siswa.
Baca Juga: Dapur MBG Diwajibkan Punya Dua Tempah Dedoro
Saat ini, SPPG Karang Bongkot tetap konsisten melayani 2.615 penerima manfaat setiap harinya yang tersebar di 22 institusi pendidikan, mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMPN 2 Labuapi, hingga tingkat SMA di wilayah Desa Karang Bongkot, Perampuan Kuranji, Kuranji Dalang, dan Telaga Waru.
Muhazam menerapkan disiplin tinggi dalam mengontrol rantai pasok bahan baku. Ia menjamin bahwa kuantitas besar tidak boleh mengorbankan kualitas rasa maupun kandungan nutrisi.
Setiap porsi makanan yang keluar dari dapur Karang Bongkot dirancang secara ilmiah untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, yang meliputi:
Keseimbangan Nutrisi: Paduan sempurna karbohidrat, protein hewani, sayuran segar, dan buah-buahan.
Standar Kesehatan: Makanan disiapkan dalam kondisi steril, bebas kuman, dan memenuhi kaidah ilmu kesehatan melalui peningkatan sanitasi lingkungan secara berkala.
"Kami tidak hanya sekadar memberi makan, tapi memastikan apa yang dikonsumsi anak-anak mampu mendukung pertumbuhan dan fokus belajar mereka," tegas Muhazam.
Menggerakkan Roda Ekonomi Lokal
Kehadiran SPPG Karang Bongkot ternyata membawa dampak sistemik yang lebih luas.
Dengan kebutuhan bahan baku yang masif setiap harinya, Yayasan Batu Emas secara aktif menyerap hasil tani dan produk lokal Lombok Barat.
Pola ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan antara penyedia program dan masyarakat sekitar.
Dedikasi yang ditunjukkan tim Yayasan Batu Emas kini menjadi standar baru (benchmark) bagi pengelola SPPG lainnya.
Di tengah tantangan pemenuhan gizi nasional, SPPG Karang Bongkot berdiri tegak sebagai garda terdepan dalam mencetak "Generasi Emas" melalui piring-piring makanan yang bersih, sehat, dan menggugah selera.
Kembalinya eksistensi dapur ini menjadi kabar baik bagi ribuan pelajar di Labuapi, membuktikan bahwa pelayanan publik yang berkualitas bisa diwujudkan dengan manajemen yang profesional dan hati yang tulus untuk mengabdi.
Editor : Siti Aeny Maryam