Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ekonomi Domestik Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Nurul Hidayati • Minggu, 10 Mei 2026 | 14:55 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas (Tengah), memaparkan bahwa ekonomi nasional masih menunjukkan taji dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen (yoy) pada triwulan kedua (tw-II) tahun 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas (Tengah), memaparkan bahwa ekonomi nasional masih menunjukkan taji dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen (yoy) pada triwulan kedua (tw-II) tahun 2026.

LombokPost – Di tengah awan mendung yang menyelimuti perekonomian global, kabar segar datang dari kinerja ekonomi domestik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, memaparkan bahwa ekonomi nasional masih menunjukkan taji dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen (yoy) pada triwulan kedua (tw-II) tahun 2026.

Capaian impresif ini, menurut Hario, tak lepas dari moncernya konsumsi rumah tangga yang bertepatan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri.

Baca Juga: Ambisi Indonesia 2045: Tak Sekadar Mimpi, Ekonomi Hijau Siap Sulap Limbah Jadi Rupiah!

Tak hanya itu, realisasi gaji ke-14 bagi pegawai pemerintah turut memberikan suntikan energi pada konsumsi pemerintah, yang dibarengi dengan tren investasi yang tetap terjaga.

"Pertumbuhan ekonomi kita di triwulan kedua ini sangat kokoh di angka 5,61 persen. Ini adalah buah dari terjaganya daya beli masyarakat dan akselerasi belanja pemerintah," ujar Hario mengacu pada data laporan kondisi perekonomian terbaru.

Namun, Hario memberikan catatan agar tetap waspada. Pasalnya, perekonomian global saat ini masih dalam tren melambat.

Baca Juga: Bukan Tebak-tebakan! Ternyata Ini "Resep Rahasia" Bappenas Biar Ekonomi Indonesia Tetap Melejit Tapi Polusi Nihil

Konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda serta kerentanan rantai pasok global menjadi faktor utama penghambat laju ekonomi dunia.

BI memproyeksikan ekonomi global pada 2026 hanya akan tumbuh di angka 3,0 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Ada risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. Aliran modal global pun cenderung bergeser ke aset safe-haven, sehingga kondisi di pasar negara berkembang (emerging markets) menjadi lebih tertekan," imbuhnya.

Baca Juga: Koperasi, Ekonomi Indonesia dan Relevansi Gen Z

Selain itu, inflasi global pada 2026 diperkirakan merangkak naik, yang secara otomatis mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter dunia.

Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia masih menjadi penopang yang tangguh.

Sektor ekspor non-migas, khususnya komoditas dari sektor industri pengolahan, terus menunjukkan kinerja positif yang menopang neraca perdagangan.

Kabar baik lainnya datang dari stabilitas harga. Inflasi domestik tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5% ± 1 persen. 

Hario menekankan bahwa terjaganya inflasi ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat di tingkat nasional maupun daerah.

"Dengan inflasi yang tetap pada sasaran, daya beli masyarakat tetap kuat, dan ini menjadi fondasi penting bagi kesinambungan pemulihan ekonomi kita ke depan," pungkasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#domestik #Inflasi #Bank Indonesia #global #NTB