Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dekatkan Akses Layanan Kesehatan, 25 Pengurus Koperasi Merah Putih Mataram Bekali Diri Kelola Klinik dan Apotek

Nurul Hidayati • Senin, 25 Mei 2026 | 14:35 WIB
Salah satu pemateri pelatihan Singkat Pengelolaan Usaha Klinik dan Apotek Desa/Kelurahan yang berlangsung di Gedung Pusat Layanan Terpadu (PLUT) KUMKM NTB di Mataram ini diinisiasi oleh Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (DEKOPINWIL) NTB pada Sabtu (23/5).
Salah satu pemateri pelatihan Singkat Pengelolaan Usaha Klinik dan Apotek Desa/Kelurahan yang berlangsung di Gedung Pusat Layanan Terpadu (PLUT) KUMKM NTB di Mataram ini diinisiasi oleh Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (DEKOPINWIL) NTB pada Sabtu (23/5).

LombokPost - Sebanyak 25 pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih dari 25 kelurahan di Kota Mataram mengikuti Pelatihan Singkat Pengelolaan Usaha Klinik dan Apotek Desa/Kelurahan.

Langkah ini diambil guna membekali pengurus koperasi dengan pengetahuan dan keterampilan taktis dalam mengelola unit usaha layanan kesehatan di tingkat tapak.

Pelatihan yang berlangsung selama satu hari pada Sabtu (23/5) di Gedung Pusat Layanan Terpadu (PLUT) KUMKM NTB di Mataram ini diinisiasi oleh Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (DEKOPINWIL) NTB.

Baca Juga: Tiap KK Dapat Rp 7 Juta, Penerima Program Desa Berdaya Transformatif Mulai Diverifikasi

Dalam pelaksanaannya, DEKOPINWIL NTB menggandeng Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram).

Unit usaha klinik dan apotek tingkat kelurahan sendiri merupakan salah satu dari beberapa klaster bisnis yang digariskan oleh pemerintah untuk diimplementasikan oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Melalui pembekalan ini, akselerasi operasional unit usaha tersebut diharapkan dapat berjalan lebih matang dan profesional.

Baca Juga: Pilot Project Desa Berdaya, TP PKK NTB dan Lobar Kawal Desa Taman Ayu

Kurikulum Komprehensif dan Potensi Bisnis yang Menjanjikan

Untuk memastikan kesiapan pengurus, pelatihan ini membedah materi tata kelola usaha kesehatan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Beberapa materi pokok yang disajikan meliputi Manajemen Klinik dan Apotek Desa/Kelurahan.

Ada juga Regulasi, Legalitas, dan Perizinan Usaha Kesehatan formal. Standar Pelayanan Kesehatan baku.

Baca Juga: Percepat Desa Berdaya 2026, Gubernur Pastikan Intervensi Tepat Sasaran bagi Miskin Ekstrem

Termasuk Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dan Operasional harian. Pengelolaan Keuangan khusus sektor medis. Model Bisnis dan Strategi Keberlanjutan Usaha (Sustainability Strategy).

Di tengah sesi, para peserta mendapatkan pemaparan empiris dari dr Lalu Zulhirsan, MARS, selaku pemateri Manajemen Klinik sekaligus pengelola klinik swasta di wilayah Lingsar, Lombok Barat. Dirinya berbagi rekam jejak kliniknya yang dirintis sejak 2013.

”Berawal dari penetrasi pasar yang minim dengan rata-rata 100 kunjungan pasien per bulan, kini klinik tersebut sukses menggaet 100 hingga 150 pasien per hari, di mana mayoritas pasien merupakan segmen umum non-BPJS,” tambahnya.

Melihat studi kasus tersebut, digabungkan dengan realitas tingginya kesadaran proteksi kesehatan masyarakat pasca-pandemi, pemateri Strategi Keberlanjutan Usaha, dr. Adnanto Wiweko, menegaskan bahwa lini bisnis klinik dan apotek memiliki potensi ekonomi dan profitabilitas yang sangat tinggi untuk dijalankan secara mandiri oleh KDKMP.

Sinergi Program Desa Berdaya untuk Entaskan Kemiskinan Ekstrem

Wakil Ketua Bidang Ketahanan Pangan DEKOPINWIL NTB, Giri Arnawa, memberikan apresiasi tinggi kepada akademisi FKIK Unram yang telah turun tangan mengedukasi sektor penggerak ekonomi kerakyatan ini.

”Kami berharap cakupan pelatihan ini dapat segera diperluas ke 9 kabupaten/kota lainnya di NTB, terutama untuk mendukung kesuksesan Program Desa Berdaya yang sedang digulirkan Pemerintah Provinsi NTB,” tambahnya.

Giri, yang juga merupakan bagian dari Tim Percepatan Pembangunan Pemprov NTB, memaparkan data strategis bahwa saat ini terdapat 106 desa/kelurahan di wilayah NTB yang masuk dalam kategori kantong kemiskinan ekstrem. Wilayah-wilayah inilah yang menjadi sasaran prioritas intervensi Program Desa Berdaya.

Salah satu kendala krusial yang dialami oleh masyarakat di area miskin ekstrem tersebut adalah sulitnya akses keterjangkauan terhadap fasilitas kesehatan formal.

Keterbatasan ini kerap memperpanjang rantai kerentanan sosial dan ekonomi warga lokal.

Kehadiran unit usaha klinik dan apotek yang dikelola langsung oleh KDKMP di wilayah prioritas tersebut diyakini menjadi solusi jitu.

”Selain menjadi sumber pendapatan baru bagi koperasi, unit usaha ini sekaligus memotong jarak geografis pelayanan medis, sehingga masyarakat rentan dapat memperoleh pertolongan kesehatan pertama secara lebih dekat, cepat, dan murah,” tuturnya.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Klinik dan Apotek Desa #Program Desa Berdaya #FKIK Unram #KOPERASI MERAH PUTIH #Dekopinwil NTB