LombokPost- Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Savana Propok yang berada di dalam wilayah kerja Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), tepatnya di Resort Aikmel, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (2/6/2026) ini, menghanguskan vegetasi savana yang mulai mengering akibat memasuki musim kemarau.
Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan menegaskan pihaknya telah menerima laporan resmi terkait insiden tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan intensif di lapangan, kepulan asap dan titik api pertama kali terdeteksi pada siang hari.
"Titik api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 11.00 WITA di kawasan Savana Propok 2 pada koordinat 50 446438 E dan 9067279 S. Kebakaran kemudian meluas hingga mencapai kawasan Savana Propok 1 yang didominasi oleh vegetasi savana kering," ungkap Budhy Kurniawan dalam keterangannya, Selasa malam (2/6/2026).
Baca Juga: Kapolda NTB Kerahkan 868 Personel, Gelar Patroli Rinjani Presisi Serentak di 10 Polres
Merespons laporan tersebut, aksi cepat segera diambil di tingkat tapak. Kelompok Pengelola Savana Propok langsung mengerahkan 15 orang anggotanya, untuk bergerak menuju lokasi kejadian sekitar pukul 13.00 WITA guna melakukan upaya pemadaman secara manual dan melokalisir perambatan api.
Namun, kondisi di lapangan memberikan tantangan berat bagi para petugas. Hingga pukul 18.00 WITA, api masih belum bisa sepenuhnya dijinakkan.
Keterbatasan personel, minimnya pasokan logistik, serta peralatan pemadaman yang sangat terbatas menjadi kendala utama dalam proses pemadaman di area savana tersebut.
Hingga pukul 19.00 WITA, beberapa titik api terpantau masih aktif membakar kawasan. Mengingat waktu yang sudah memasuki malam hari, petugas akhirnya mengambil keputusan taktis untuk keselamatan tim di lapangan.
"Mengingat kondisi telah memasuki malam hari dengan tingkat pencahayaan yang sangat terbatas, serta mempertimbangkan faktor keselamatan personel yang bertugas, kegiatan pemadaman dihentikan sementara," jelas Budhy.
Ia menambahkan operasi pemadaman secara total akan dilanjutkan kembali pada Rabu pagi (3/6/2026). Saat ini, Balai TNGR terus melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan berbagai pihak terkait, guna mendukung upaya penanganan kebakaran secara lebih efektif, sekaligus meminimalkan dampak kerusakan terhadap ekosistem kawasan Rinjani.
Seiring dengan mulai meningkatnya intensitas musim kemarau di wilayah NTB, kondisi vegetasi di kawasan taman nasional menjadi sangat rentan dan mudah terbakar.
Menanggapi situasi krusial ini, Kepala Balai TNGR mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat, pengunjung kawasan, pelaku wisata alam, petani, peternak, dan para pendaki untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan," tegas Budhy.
Pihak Balai TNGR meminta dengan sangat agar masyarakat, tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api.
Beberapa aktivitas yang dilarang keras di antaranya adalah pembakaran lahan, pembakaran sisa-sisa vegetasi, membuang puntung rokok secara sembarangan, hingga menyalakan api unggun tanpa pengawasan yang memadai.
Budhy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam pencegahan ini. Ia meminta siapa saja yang melihat titik api, kepulan asap, atau indikasi kebakaran di dalam maupun di sekitar kawasan hutan untuk segera melapor kepada petugas terdekat.
Baca Juga: Pendakian Gunung Rinjani Dibuka, Sopir Sembalun Kembali Dapat Penghasilan
Partisipasi dan kepedulian seluruh pihak merupakan faktor penting dalam menjaga kelestarian ekosistem TNGR, serta melindungi sumber daya alam yang menjadi warisan bersama bagi generasi saat ini dan yang akan datang," pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa