Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Antisipasi Ancaman Rabies, Disnakkeswan NTB Gandeng Komunitas Atasi Lonjakan Anjing Liar

Yuyun Kutari • Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:59 WIB
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi (tengah), saat berdiskusi dengan AKHL, dan sejumlah komunitas pencinta dan peduli hewan area Kota Mataram dan Lombok Tengah, belum lama ini. (IST/LOMBOK POST).
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi (tengah), saat berdiskusi dengan AKHL, dan sejumlah komunitas pencinta dan peduli hewan area Kota Mataram dan Lombok Tengah, belum lama ini. (IST/LOMBOK POST).

LombokPost - Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhamad Riadi, menerima audiensi dari Aliansi Kesehatan Hewan Lombok (AKHL), bersama sejumlah komunitas pencinta dan peduli hewan wilayah Kota Mataram dan Lombok Tengah.

“Pertemuan ini berfokus pada perumusan langkah strategis terkait program pengendalian populasi anjing liar dan sterilisasi massal,” terang Riadi.

Dalam diskusi tersebut, lonjakan populasi anjing liar di Pulau Lombok menjadi sorotan utama. Pasalnya, fenomena ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, kenyamanan lingkungan, hingga tingginya risiko penularan penyakit zoonosis berbahaya seperti rabies.

Baca Juga: Bocah SD Diserang Anjing Liar, Disnakeswan Waspada Rabies

Isu ini dinilai makin mendesak mengingat posisi geografis Pulau Lombok yang sangat strategis, karena dihimpit langsung oleh dua wilayah, yakni Pulau Sumbawa dan Provinsi Bali.

Tingginya mobilitas logistik dan manusia lintas pulau tersebut menuntut adanya sistem pengawasan serta pengendalian kesehatan hewan yang ekstra ketat.

“Posisi Lombok yang berada di antara Bali dan Sumbawa membuat kita harus bergerak cepat, mobilitas lintas pulau yang tinggi ini menuntut adanya sistem pengawasan kesehatan hewan yang ketat agar risiko penularan penyakit seperti rabies bisa kita tekan sedini mungkin,” bebernya.

Kendati demikian, upaya pengendalian populasi ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan klasik di lapangan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah dog catcher (penangkap anjing) yang terampil dan bersertifikasi.

Selain itu, tingginya biaya operasional untuk program sterilisasi massal kerap terbentur oleh keterbatasan anggaran daerah. 

Namun, Disnakkeswan NTB sangat menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif dari para komunitas peduli hewan yang terus bergerak aktif di lapangan. Komunitas dinilai konsisten mencari solusi jangka panjang yang cerdas dan tetap mengedepankan prinsip humane, artinya manusiawi atau memperhatikan kesejahteraan hewan.

“Kami sangat mengapresiasi semangat teman-teman komunitas yang tidak lelah mencari solusi pengendalian populasi yang cerdas dan humane. Kami menyadari adanya keterbatasan anggaran dan tenaga terampil seperti dog catcher, namun kendala ini tidak boleh menghentikan langkah kita,” lanjutnya.  

Baca Juga: Pertama di Indonesia! BRIN dan Vaksindo Kembangkan Vaksin Rabies Berbasis mRNA: Lebih Aman dan Siap Mendunia!

Riadi menegaskan sikap suportifnya dan siap mendukung penuh program-program kerja komunitas di lapangan. Dukungan tersebut akan diwujudkan mulai dari fasilitasi teknis, edukasi bersama kepada masyarakat, hingga koordinasi kebijakan yang diperlukan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. 

Sinergi yang kuat antara pemerintah dan komunitas ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah populasi anjing liar yang kompleks secara berkelanjutan. Goal besarnya adalah mewujudkan Pulau Lombok yang aman, sehat, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat, sekaligus tetap ramah terhadap kesejahteraan hewan.

Editor : Akbar Sirinawa
#Rabies #sterilisasi #Sumbawa #Anjing liar #Lombok