Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Laku Saat Iduladha, Sapi NTB Tetap Punya Pasar di Jabodetabek

Yuyun Kutari • Sabtu, 6 Juni 2026 | 22:46 WIB
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi. (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB memastikan, sapi yang tidak habis terjual selama momentum Iduladha, tidak diperbolehkan kembali masuk ke Bumi Gora. 

Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah masuknya wabah penyakit hewan menular berbahaya ke wilayah NTB.  

Kepala Disnakkeswan NTB Muhamad Riadi mengatakan, larangan tersebut merupakan upaya menjaga NTB tetap bebas dari penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

Baca Juga: Kasus Cacing Hati Masih Muncul pada Hewan Kurban di NTB, Ini Penjelasan Disnakkeswan

Menurutnya, sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera telah terpapar penyakit tersebut, sehingga risiko penularan harus diantisipasi secara ketat. 

“Kami memang melarangnya. Tidak bisa dibawa balik lagi ke NTB karena Pulau Jawa dan Sumatera sudah terkena LSD, sementara di NTB masih aman,” ujarnya.  

Riadi menjelaskan, para peternak kini mulai beradaptasi dengan regulasi tersebut. Tren perilaku peternak pada 2024 hingga 2025 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. 

Setelah memahami bahwa ternak yang dibawa keluar daerah, tidak dapat dipulangkan kembali ke NTB, para pelaku usaha peternakan mulai menyiapkan strategi mitigasi masing-masing.  

Untuk peternak skala kecil yang biasanya membawa dan memasarkan sekitar enam hingga sepuluh ekor sapi, mereka umumnya menyewa lapak-lapak musiman di pinggir jalan kawasan Jakarta.

Baca Juga: BAZNAS NTB Terapkan Tiga Pola Distribusi Daging Kurban Iduladha 1447 Hijriah

Jika hingga Iduladha masih ada sapi yang belum terjual, pilihan yang tersedia adalah menjualnya dengan harga diskon atau melelangnya di bawah target harga awal.  

Meski demikian, Riadi menegaskan peternak tidak akan mengalami kerugian total terhadap modal yang telah dikeluarkan. 

Menurutnya, penjualan dengan harga lebih rendah masih berada dalam batas yang aman, untuk menutup biaya produksi maupun operasional pengiriman.  

“Targetnya mungkin Rp 25 juta per ekor, tetapi akhirnya laku Rp 17 juta per ekor. Itu tidak sampai rugi, karena semurah-murahnya dijual pasti kembali modal,” katanya.  

Sementara itu, peternak atau pelaku usaha skala besar umumnya telah mengantisipasi risiko tersebut, dengan membangun maupun menyewa kandang penampungan sementara di daerah penyangga ibu kota.

Baca Juga: Lumbung Ternak NTB "Serbu" Jawa: 11 Ribu Sapi Dikirim, Barantin Perketat Benteng Biosekuriti

Fasilitas itu digunakan untuk menampung sapi yang belum terjual hingga mendapatkan pasar baru. “Di 2025 lalu saya sempat mengunjungi salah satu pelaku usaha ternak kita di Tangerang,” ujar Riadi.  

Ia juga mengimbau para peternak tradisional agar tidak terlalu khawatir apabila masih memiliki banyak sapi yang tersisa setelah Iduladha. 

Pasar harian di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, dinilai memiliki daya serap yang tinggi terhadap pasokan sapi asal NTB.  

Sapi-sapi yang belum terjual saat Iduladha tetap berpeluang terserap oleh pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat Jabodetabek, terutama jika ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif.  

“Dengan catatan harganya murah, karena nanti dijual lagi untuk kebutuhan harian masyarakat Jabodetabek,” tandasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#sapi #jabodetabek #iduladha #NTB #Hewan Ternak