Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pengalaman Autentik Jadi Daya Tarik Utama Desa Wisata NTB, Sumbang 25 Persen Kunjungan Wisatawan

Yuyun Kutari • Selasa, 7 Juli 2026 | 00:55 WIB
Sejumlah wisatawan saat berkunjung ke Desa Sade, Lombok Tengah, menyaksikan langsung kehidupan tradisional dan budaya Suku Sasak yang masih terjaga. (IVAN/LOMBOK POST)
Sejumlah wisatawan saat berkunjung ke Desa Sade, Lombok Tengah, menyaksikan langsung kehidupan tradisional dan budaya Suku Sasak yang masih terjaga. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Disparekraf NTB memetakan adanya lonjakan minat yang besar dari para pelancong, untuk merasakan langsung atmosfer saat berkunjung ke desa wisata.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Disparekraf NTB Chandra Aprinova mengungkapkan, dari estimasi kunjungan, sektor desa wisata di NTB diperkirakan mampu menyerap sekitar 25 persen atau berkisar di angka 500 ribu kunjungan per tahun, dari total rata-rata kunjungan pariwisata umum daerah yang berada di kisaran 2 juta wisatawan.  

Baca Juga: Homestay hingga Kuliner Lokal, Desa Wisata NTB Dongkrak Ekonomi

Sejauh ini, pergerakan pasar masih didominasi oleh wisatawan domestik sebesar 70 persen. Mayoritas dari mereka merupakan rombongan dari kota-kota besar yang datang menggunakan moda transportasi bus melalui paket agen tur. 

“Sedangkan sisanya diisi oleh wisatawan mancanegara (wisman) yang membawa karakteristik unik dan kontras antardestinasi,” kata dia. 

Chandra memetakan, wisman asal Eropa, khususnya dari Jerman dan Belanda, menjadi pasar yang paling potensial bagi kawasan pedesaan. Mereka umumnya datang bersama keluarga atau merupakan pelancong usia mapan yang sudah pensiun. 

“Itu yang keluarga, biasanya yang sudah usia-usia mapan. Mereka senang ke desa-desa untuk mencari ketenangan,” tegas dia. 

Baca Juga: Manfaat Desa Wisata, Peluas Lapangan Kerja

Karakteristik wisatawan Eropa ini disebut sangat menyukai ketenangan, aktivitas berjalan kaki (hiking), dan memiliki durasi tinggal (length of stay) yang relatif lama, yakni berkisar antara satu hingga dua minggu di kawasan seperti di Desa Wisata Tetebatu atau Kembang Kuning.  

Chandra mengutarakan, aktivitas mereka sangat dinamis dari hari ke hari, mulai dari berjalan-jalan, berbaur dengan kegiatan masyarakat, hingga mencoba berbagai aktivitas lokal lainnya. 

Dengan berkunjung ke desa wisata menunjukkan adanya wisatawan premium yang saat ini justru lebih senang berwisata ke kawasan pedesaan. 

Mereka tidak hanya sekadar melihat pemandangan alam, melainkan ingin bergaul dan merasakan langsung fenomena kehidupan sehari-hari masyarakat desa. 

Menurutnya, para wisatawan tersebut sangat tertarik untuk belajar menari tradisional, memasak kuliner lokal, hingga turun ke sawah untuk belajar memanen padi bersama warga demi mendapatkan pengalaman otentik yang selama ini mereka cari. 

“Pengalaman ini hanya bisa mereka dapatkan ketika di desa wisata dengan berbagai macam paket yang disediakan,” jelas Chandra. 

Baca Juga: Upaya Satria Efendi Mengembangkan Desa Wisata Santong. Kombinasikan Air Terjun, Kopi dan Cengkeh untuk Gaet Wisatawan

Hal ini dinilainya cukup berbeda dengan karakteristik wisatawan asal Australia yang secara umum lebih menyukai hiburan malam, suasana yang dinamis, serta aktivitas rekreasi komunal seperti di kawasan Gili Tramena.

Chandra juga menyoroti keterkaitan erat antara desa wisata dengan konsep wellness tourism atau wisata kebugaran. 

Lingkungan desa yang masih alami, makanan organik, serta aktivitas fisik seperti berjalan kaki, bertani, dan berinteraksi dengan alam menjadi nilai tambah yang semakin dicari wisman.   

Aktivitas seperti yoga, meditasi, hingga konsumsi makanan tradisional dianggap selaras dengan tren gaya hidup sehat yang kini berkembang di dunia pariwisata internasional.

Editor : Akbar Sirinawa
#wellness tourism #wisatawan #NTB #Desa Wisata #wisatawan domestik