LombokPost-Dinas Perhubungan (Dishub) NTB meminta para pelaku jasa transportasi dan pariwisata, tidak menyikapi rencana pengoperasian pesawat amfibi (seaplane) secara berlebihan.
“Kita jangan terlalu underestimate dulu terkait dengan keberadaan seaplane ini,” terang Sekretaris Dishub NTB Chairy Chalidyanto, Senin (27/7).
Berdasarkan hasil rapat koordinasi teknis, Chairy menjelaskan seaplane dirancang khusus sebagai moda transportasi, untuk wisatawan kelompok premium yang memiliki anggaran tinggi namun dengan waktu kunjungan terbatas.
Baca Juga: Seaplane Batujai Ditolak Masyarakat, Pemprov NTB Kedepankan Komunikasi
Karakter penggunanya sangat bertolak belakang dengan mayoritas pelancong di Lombok yang didominasi, oleh wisatawan mandiri atau backpacker yang menyukai perjalanan hemat anggaran.
Ia kemudian menggambarkan pola perjalanan penumpang seaplane yang pada umumnya sangat singkat.
Wisatawan dari Bali, misalnya, yang ingin melihat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan sekitarnya dalam waktu cepat, bisa langsung kembali pada hari yang sama.
Selain menyasar segmen premium, biaya perjalanan menggunakan seaplane uga relatif tinggi. Karena itu, Chairy menilai kecil kemungkinan moda tersebut bersaing langsung dengan transportasi yang selama ini digunakan masyarakat maupun wisatawan pada umumnya.
“Mereka waktunya terbatas, datang ke satu titik wisata, misalnya Mandalika, lalu kembali lagi. Jadi tidak mengganggu aktivitas transportasi yang sudah ada," bebernya.
Baca Juga: SEAPLANE BATUJAI: PEMBANGUNAN UNTUK SIAPA?
Untuk tahap awal, Chairy menyebutkan belum seluruh destinasi wisata di NTB akan disinggahi. Kawasan Bendungan Batu Jai di Lombok Tengah menjadi lokasi utama yang dinilai paling siap untuk dibangun sebagai pangkalan operasional (home base).
Penetapan Batu Jai sebagai titik sasaran tidak lepas dari spesifikasi penyiapan pangkalan yang tergolong rumit.
Menurutnya, pangkalan pesawat amfibi tidak bisa disamakan dengan pembuatan dermaga biasa karena harus memenuhi standar kebandarudaraan, termasuk ketersediaan area steril dan tempat rehat armada.
“Home base seaplane inj tidak seperti membangun dermaga. Perlakuannya hampir sama seperti bandara karena penumpang pesawat harus melalui area yang steril,” jelasnya.
Baca Juga: Warga Lingkar Bendungan Batujai Tolak Seaplane, Tuntut Transparansi dan Kepastian Perut
Menanggapi penolakan warga, Dishub NTB bersama operator berencana menggelar sosialisasi langsung menjelang pelaksanaan uji coba penerbangan guna memberikan pemahaman secara menyeluruh.
Pemprov NTB akan mengawal investasi ini agar membawa dampak ekonomi positif (multiplier effect) bagi warga lokal. Sesuai instruksi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, pangkalan di Batu Jai wajib menyerap tenaga kerja dari masyarakat setempat.
Selain itu, jarak antara Batu Jai dan Mandalika yang cukup jauh justru menjadi peluang emas bagi penyedia transportasi darat lokal untuk menyambung konektivitas penumpang.
Juga disediakan area ruang tunggu yang diprioritaska,n bagi pelaku UMKM lokal untuk berjualan. Ia meyakinkan publik agar tidak khawatir akan masuknya armada atau pengemudi dari luar daerah.
Seluruh moda pendukung darat dan aktivitas pendukung di pangkalan dipastikan akan sepenuhnya memberdayakan potensi masyarakat lokal.
"Mungkin masyarakat sekitar Batujai nanti bisa bekerja di sana. UMKM lokal juga bisa mengisi ruang-ruang usaha. Transportasi lokal tetap akan dibutuhkan untuk mengantar wisatawan dari Batujai ke Mandalika," terangnya.
Baca Juga: Sumur Bor Jadi Kebutuhan Mendesak Warga NTB Menghadapi Bencana Kekeringan
Sementara itu, mengenai tahapan realisasi, proses perizinan pengoperasian siplen masih berjalan di sejumlah kementerian. Perizinan tersebut mencakup Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait navigasi penerbangan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) karena memanfaatkan kawasan Bendungan Batujai, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) karena operasionalnya juga menggunakan wilayah perairan.
Apabila seluruh proses perizinan selesai sesuai jadwal, Dishub NTB berharap uji coba penerbangan siplen di Batujai dapat dilakukan pada Agustus mendatang.
“Mudah-mudahan Agustus nanti kita sudah bisa melihat uji coba penerbangan siplen di Batujai,” pungkas Chairy.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan