LombokPost-Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Sabtu malam (22/8), meninggalkan duka yang mendalam.
Peristiwa tersebut juga berdampak terhadap keberlangsungan warisan budaya Sasak yang selama ini hidup di tengah masyarakat Sade. “Saya sudah turun langsung ke lokasi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB, pemerintah desa, tokoh adat dan masyarakat untuk mendata dampak kebakaran,” terang Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB Muhamad Ihwan, Minggu (23/8).
Baca Juga: Dampak Kebakaran Desa Wisata Sade, Kerugian Material Tembus Rp 34 Miliar
Sejumlah benda budaya, perangkat ritual, kesenian tradisional, tenun, pusaka hingga pengetahuan budaya masyarakat ikut terdampak. “Pemulihan Sade perlu ditempatkan sebagai agenda pemulihan kebudayaan, bukan sekadar rehabilitasi permukiman,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan awal sektor kebudayaan, kawasan Desa Adat Sade yang terdampak meliputi 75 rumah tradisional atau adat, satu masjid, empat berugak sekenam besar, enam berugak sekepat, delapan lumbung alang, 69 artshop, satu Bale Beleq, satu toilet umum wisatawan, satu gerbang Desa Adat Sade dan satu pelonggo.
Dampak kebakaran juga menyentuh perangkat kesenian tradisional. Berdasarkan keterangan masyarakat, terdapat sekitar delapan unit gendang beleq, dengan empat unit di antaranya berhasil diselamatkan. Selain itu, sekitar 30 kenceng, lima trompong, dua gong serta perangkat gamelan dan perlengkapan begawe lainnya ikut terdampak.
Sebagian besar perangkat tersebut dilaporkan musnah. Kerugian juga menyangkut benda pusaka yang selama ini disimpan di rumah-rumah warga. Pusaka tersebut antara lain keris, tombak, kelewang dan benda pusaka lainnya.
Baca Juga: Pemprov NTB Gerak Cepat, Kebut Rekonstruksi Desa Wisata Sade Pascakebakaran
Setiap rumah rata-rata memiliki sekitar tiga keris. Jika dikalikan dengan 75 rumah yang terdampak, terdapat estimasi sekitar 225 keris.
Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan awal dan akan diverifikasi melalui inventarisasi rumah per rumah. Selain benda pusaka, sejumlah naskah lontar yang menjadi bagian dari warisan pengetahuan leluhur masyarakat Sade juga dilaporkan musnah.
Di antaranya Jatiswara dan Puspakarma serta satu jenis lainnya. Kehilangan tersebut dinilai memiliki nilai kebudayaan yang besar karena lontar tidak sekadar menjadi benda, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan, sejarah, nilai dan pandangan hidup masyarakat.
Peralatan tenun juga ikut terdampak. Hampir setiap rumah masyarakat memiliki peralatan tenun dan berdasarkan keterangan lapangan, sebagian besar atau seluruh peralatan tersebut terdampak kebakaran.
“Sejumlah tenunan lama dan hasil tenun yang tersimpan di rumah juga dilaporkan hilang,” jelas dia.
Padahal, tenun merupakan bagian dari warisan pengetahuan tradisional masyarakat Sasak yang berkaitan dengan keterampilan, simbol, identitas, ekonomi budaya dan pewarisan antargenerasi.
Begitu pula dengan peralatan presean dan perlengkapan ritual. Dari pendataan sementara, terdapat sekitar 10 penyalin dan empat tameng serta perlengkapan lain yang digunakan dalam kegiatan adat dan ritual.
Baca Juga: BTN Salurkan Bantuan untuk 320 Warga Terdampak Kebakaran Sade
Disbud NTB menilai dampak kebakaran tidak berhenti pada hilangnya warisan budaya benda. Kebakaran juga berpotensi mengganggu pelaksanaan ritual, begawe, presean, musik tradisional, tenun dan berbagai praktik budaya lainnya.
Sebagian pengetahuan budaya masyarakat selama ini juga melekat pada benda dan ruang tradisional yang terbakar. Benda pusaka, tenunan lama, lontar dan perangkat ritual memiliki nilai sejarah keluarga dan komunitas yang tidak sepenuhnya dapat dinilai dengan Rupiah.
Di sisi lain, kondisi sosial masyarakat juga menjadi perhatian. Dalam komunikasi langsung di lapangan, sebagian warga, khususnya anak-anak dan lansia, masih mengalami trauma akibat kebakaran.
Masyarakat menyampaikan kebutuhan berupa dapur darurat, pemeriksaan kesehatan, pendampingan psikologis serta ruang aman bagi anak dan lansia. Mereka juga berharap fasilitas darurat ditempatkan di lokasi aman sehingga anak-anak tidak harus menyeberang jalan.
“Pemulihan psikososial masyarakat harus berjalan bersamaan dengan pemulihan kebudayaan,” ujar Ihwan.
Pihaknya bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB saat ini telah melakukan koordinasi dan peninjauan lapangan untuk mengidentifikasi aset budaya yang terdampak. Menggali informasi dari tokoh adat dan masyarakat, serta mendata benda budaya yang hilang maupun yang masih dapat diselamatkan.
Baca Juga: Kemenpar Pastikan Pendampingan Pemulihan Kampung Adat Sade Lewat Poltekpar Lombok
Langkah selanjutnya diarahkan pada inventarisasi dan dokumentasi yang lebih menyeluruh. Pendataan tidak hanya mencakup bangunan, tetapi juga pusaka, gamelan, lontar, tenun, alat tenun, presean, perlengkapan ritual, arsip, foto dan pengetahuan budaya.
Pihaknya juga menilai pentingnya segera mendokumentasikan pengetahuan dari para tetua, ketua adat, pemandu senior, pelaku ritual, penenun, seniman serta masyarakat yang memahami sejarah Sade. “Benda yang hilang mungkin dapat direkonstruksi, tetapi pengetahuan yang tidak sempat direkam dapat hilang untuk selamanya,” tegasnya.
Disbud mengusulkan pengembangan Sade Digital Heritage. Program tersebut mencakup dokumentasi foto dan video, pemetaan kawasan, dokumentasi arsitektur, ritual, tenun, gamelan dan pusaka, digitalisasi lontar yang masih tersisa serta penyusunan database warisan budaya Sade.
Untuk pembangunan kembali, rekonstruksi tidak diarahkan sekadar mengganti bangunan yang terbakar. Bentuk asli rumah, tata ruang, lumbung, berugak, bale, fungsi ruang, bahan, teknik konstruksi, ritual hingga sistem kehidupan adat perlu dikaji kembali.
Dengan demikian yang dibangun kembali bukan hanya bentuk fisik, tetapi juga sistem kebudayaannya. “Kami mengusulkan konsep Sade sebagai living heritage, yakni Sade tetap menjadi kampung yang dihuni dan dijalankan masyarakatnya dengan adat, tradisi, pengetahuan dan ritual yang tetap hidup,” kata dia.
Aspek keselamatan juga menjadi bagian penting dalam rekonstruksi. Sistem deteksi dini kebakaran, sumber air, alat pemadam, jalur evakuasi, titik kumpul, SOP kebakaran, pelatihan masyarakat hingga sistem tanggap darurat perlu diperkuat.
“Teknologi keselamatan harus modern, tetapi karakter kebudayaannya tetap dipertahankan,” katanya.
Untuk memastikan proses pemulihan berjalan terpadu, Dinas Kebudayaan mengusulkan pembentukan Tim Terpadu Pemulihan Kebudayaan Desa Adat Sade.
Tim tersebut melibatkan Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah, Pemerintah Desa Rembitan, masyarakat dan tokoh adat Sade. Juga akademisi atau ahli antropologi, ahli arsitektur tradisional serta Kementerian Kebudayaan RI sesuai kebutuhan.
Tahapan pemulihan diarahkan mulai dari penyelamatan, pendataan, dokumentasi, digitalisasi, pemulihan, rekonstruksi, pelestarian hingga pemanfaatan.
“Sebelum pembangunan fisik dilakukan secara menyeluruh, perlu disusun Masterplan Pemulihan dan Rekonstruksi Kebudayaan Desa Adat Sade,” tegasnya.
Masterplan tersebut nantinya mencakup peta kawasan, zonasi kawasan adat, desain rumah tradisional, tata ruang, lumbung dan berugak, ruang ritual, sistem sosial dan budaya, mitigasi kebakaran, fasilitas wisata, dokumentasi dan digitalisasi, pemulihan tenun, seni tradisional dan ritual serta program pewarisan pengetahuan kepada generasi muda.
Ihwan menegaskan, kebakaran Sade harus menjadi momentum untuk mengembalikan kawasan tersebut pada kekuatan budaya aslinya. Dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat dan keselamatan kawasan.
“Bukan sekadar membangun kembali Sade yang terbakar, tetapi menghidupkan kembali Sade sebagai kampung adat yang hidup,” pungkasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan