Perempuan Aik Berik Sulap Hasil Hutan Jadi Gastronomi Bernilai Tinggi

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:20 WIB
DUKUNG: Ketua TP PKK NTB Sinta M. Iqbal (kiri) membubuhkan tanda tangan dokumen Nota Kesepahaman pada Event Pop-Up Gastronomi: Coffee Experience bertajuk "Puan Rimba - A Living Culture Journey" di Svarga Renjana Villa, Sabtu (29/8). (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST)
DUKUNG: Ketua TP PKK NTB Sinta M. Iqbal (kiri) membubuhkan tanda tangan dokumen Nota Kesepahaman pada Event Pop-Up Gastronomi: Coffee Experience bertajuk "Puan Rimba - A Living Culture Journey" di Svarga Renjana Villa, Sabtu (29/8). (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST)

LombokPost–Hasil hutan tak lagi sekadar menjadi komoditas mentah. Di tangan perempuan kawasan hutan Aik Berik, beragam pangan lokal diolah menjadi sajian gastronomi bernilai tinggi sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan.

Semangat tersebut terlihat dalam Event Pop-Up Gastronomi: Coffee Experience bertajuk “Puan Rimba - A Living Culture Journey” di Svarga Renjana Villa, Sabtu (29/8).

Baca Juga: Satu Kebun Tiga Cuan Ala Kopi Andalan Pawang Tenun

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Women Forest Defender (WFD) yang diinisiasi KONSEPSI.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan perhutanan sosial, memperluas jaringan pasar produk perempuan, sekaligus mendorong kebijakan daerah yang responsif gender.

Ketua TP PKK Provinsi NTB Sinta M Iqbal yang meninjau kegiatan tersebut mengapresiasi perkembangan pemberdayaan perempuan di kawasan pinggir hutan Aik Berik. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan mulai menunjukkan hasil nyata.

“Saya melihat apa yang sudah dilakukan teman-teman di sini, dan pendampingannya ini sudah terlihat hasilnya. Terima kasih kepada para pendamping yang sudah meluangkan waktu dan pemikirannya,” ujarnya.

Baca Juga: Tani Merdeka Kawal Swasembada Pangan

Sinta mendorong para perempuan pelaku usaha untuk tidak berhenti mengembangkan produk. Mereka diminta terus belajar, memperluas informasi, dan membaca peluang pasar agar produk lokal mampu menjangkau konsumen lebih luas.

“Saran saya, jangan berhenti di sini. Teruslah belajar, cari informasi sebanyak mungkin, dan kembangkan produk agar pasarnya semakin luas,” tambahnya.

Ia juga mengapresiasi inovasi kuliner yang mengangkat bahan pangan lokal menjadi sajian modern dengan cita rasa internasional, namun tetap mempertahankan kearifan lokal.

Baca Juga: Permen Susu Tapir Barokah, Contoh Produk Lokal yang Sukses Naik Kelas

Menurut Sinta, konsep tersebut telah masuk dalam kategori gastronomi fusion. Bahkan, sajian lokal dengan kemasan fusion seperti yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut dinilai masih cukup sulit ditemukan di ibu kota provinsi.

“Sajian makan siang ini sebenarnya sudah masuk Gastronomi Fusion yang dibentuk dengan kearifan lokal. Di ibu kota provinsi saja, mendapatkan menu lokal yang dikemas fusion seperti ini cukup sulit,” katanya.

Sinta juga mendorong para chef yang terlibat untuk berbagi pengetahuan kepada generasi muda di daerah. Dengan begitu, pengembangan gastronomi berbasis pangan lokal tidak berhenti pada satu kelompok, tetapi dapat melahirkan lebih banyak talenta kuliner dari NTB.

“Selamat untuk para Chef, tolong ajarkan juga adik-adiknya agar ke depan lahir banyak Chef tangguh dari daerah ini,” tambahnya.

Baca Juga: APPSI NTB Bertekad Bangkitkan Pasar Tradisional

Upaya memperluas pasar produk hasil hutan juga diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Benang Stokel dan Svarga Renjana Villa.

Kerja sama tersebut membuka peluang bagi produk UMKM lokal untuk masuk ke ekosistem pariwisata. Produk yang ditawarkan antara lain gula semut, sirup gula aren, kopi arabika, madu murni, aneka sambal kemasan, hingga keripik daun singkong dan talas.

Ketua KUPS Benang Stokel Yuliana Marwita mengatakan, pengolahan pangan lokal tersebut tidak sekadar bertujuan meningkatkan nilai ekonomi. Produk yang dihasilkan juga menjadi media untuk memperkenalkan potensi kawasan hutan sekaligus mengampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam.

“Kami memberikan bahan pangan yang berada di sekitaran hutan agar bisa dikenal luas dan kelestariannya tetap terjaga. Terima kasih kepada TAF dan KONSEPSI yang telah membimbing kelompok kami,” ungkap Yuliana.

Baca Juga: Mengisi Cangkir yang Kosong: Kontradiksi Budaya Kopi Melbourne-Mataram dan Rapuhnya Rumah Kita

Dukungan terhadap pengembangan produk lokal juga datang dari Owner Svarga Renjana Villa Ni Luh Suarni. Ia menilai daerah memiliki sumber daya yang tidak kalah dibandingkan daerah lain yang lebih maju.

Pengalamannya memasarkan kopi dan gula semut ke sejumlah hotel di Gili Trawangan menunjukkan produk lokal memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar pariwisata.

“Daripada menggunakan kopi saset, mengekspos hasil bumi kita sendiri akan jauh lebih bernilai,” jelas Ni Luh Suarni.

Kerja sama tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk perempuan di sekitar kawasan hutan untuk mendapatkan pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, semakin banyaknya produk lokal yang terserap sektor pariwisata dapat memperkuat nilai ekonomi hasil hutan tanpa harus mengorbankan kelestarian kawasan.

Kegiatan ini turut dihadiri Direktur KONSEPSI NTB Moh Taqiruddin, perwakilan The Asia Foundation (TAF) Dorta Pardede, serta pengamat makanan dan pegiat pemberdayaan masyarakat.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
gastronomi hasil hutan Aik Berik NTB Perempuan