LombokPost—Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB membawa 12 pelaku industri pariwisata dalam kegiatan table top di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk memperkuat promosi destinasi Lombok dan Sumbawa di pasar internasional.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian keikutsertaan NTB dalam Malaysia Association of Tour and Travel Agents (MATTA) Fair yang berlangsung 3-6 September 2026.
Kepala BPPD NTB Sahlan M Saleh mengatakan, dalam kegiatan table top tersebut pihaknya membawa 12 seller dari NTB yang terdiri atas hotel dan travel agent. Mereka dipertemukan dengan sekitar 60 buyer dari Kuala Lumpur.
"Table top sore ini kami membawa industri sebanyak 12 seller dari NTB terdiri dari hotel dan travel agent," kata Sahlan, Kamis (3/9).
Baca Juga: Pariwisata Sumbang 21,5 Persen PDRB NTB, Serap 28 Persen Tenaga Kerja
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB, dan asosiasi pariwisata dalam mempromosikan berbagai potensi wisata Lombok dan Sumbawa ke luar negeri.
Sahlan menyebut Malaysia menjadi salah satu pasar penting bagi pariwisata NTB. Wisatawan asal Malaysia, kata dia, menjadi penyumbang wisatawan tertinggi melalui penerbangan udara.
"Kami sangat sadar bahwa potensi Lombok dan Sumbawa sangat cocok untuk wisatawan dari Malaysia," ujarnya.
Dalam pertemuan B2B tersebut, BPPD NTB mempresentasikan sejumlah potensi pariwisata Lombok dan Sumbawa di hadapan para buyer.
Di antaranya wisata Hiu Paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Pantai Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta gili-gili yang tersebar di Lombok.
Baca Juga: NTB Usulkan Reward dan Punishment dalam RAN Konservasi Hiu Paus
Sahlan mengatakan, masih banyak agen perjalanan dari Malaysia yang belum mengetahui sejumlah destinasi tersebut.
Karena itu, forum tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan destinasi yang dinilai memiliki peluang menjadi produk wisata bagi wisatawan Malaysia.
"Masih banyak agent dari Malaysia tidak mengetahui destinasi seperti hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, gili-gili yang banyak di Lombok dan lainnya sehingga menjadi produk yang menarik wisatawan," jelasnya.
Desa Adat Sade juga sempat menjadi pembahasan dalam presentasi tersebut. Hal ini menjadi perhatian tersendiri mengingat kawasan wisata budaya di Lombok Tengah itu sebelumnya dilanda kebakaran. Pihaknya kemudian menjelaskan tentang kondisi destinasi tersebut dalam presentasi.
"Tidak banyak yang tahu tapi ada beberapa yang tanya, tentu dalam presentasi sudah kami jelaskan," katanya.
Dari kegiatan table top tersebut, BPPD NTB menargetkan nilai transaksi sebesar Rp 5 miliar.
Sementara dalam MATTA Fair yang berlangsung selama tiga hari, target transaksi industri pariwisata NTB mencapai Rp 25 miliar.
Sahlan mengatakan, target tersebut menjadi bagian dari upaya untuk terus memperluas pasar pariwisata NTB dan mendorong Lombok serta Sumbawa semakin dikenal wisatawan mancanegara.
"Ini adalah upaya kami untuk terus mendorong agar destinasi Lombok dan Sumbawa menjadi destinasi mendunia," pungkasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan