PR Pemerintah, Sadarkan Orang Tua yang Belum Jadikan Imunisasi Prioritas

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 04:56 WIB
GENERASI NTB: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua Tim Pembina Posyandu NTB Sinta Agathia Iqbal ikut memberikan imunisasi secara simbolis, saat pemantauan kasus stunting di Desa Nggembe, Bima, beberapa waktu lalu. (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST).
GENERASI NTB: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua Tim Pembina Posyandu NTB Sinta Agathia Iqbal ikut memberikan imunisasi secara simbolis, saat pemantauan kasus stunting di Desa Nggembe, Bima, beberapa waktu lalu. (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST).

LombokPost-Pemahaman orang tua tentang pentingnya imunisasi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah. “Capaian imunisasi sempat berada pada angka batas aman, tetapi kita tetap meningkatkan target,” terang Ketua Tim Pembina Posyandu NTB Sinta Agathia Iqbal. 

Di lapangan, persoalan yang dihadapi saat ini bukan semata soal pelayanan maupun ketersediaan vaksin. Pemahaman masyarakat mengenai manfaat imunisasi justru menjadi bagian yang perlu terus diperkuat.

Sebab, manfaat imunisasi pada akhirnya kembali kepada masyarakat dan anak yang mendapatkan perlindungan. “Pemahaman itu yang kita masih edukasi bahwa ini kepentingannya ada di mereka, ada di masyarakat sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Cegah Kanker Serviks Sebelum Terlambat! Ini Panduan Lengkap Vaksin HPV: Usia Berapa Harus Suntik?

Upaya edukasi dilakukan bersama oleh berbagai unsur di lapangan. Kader Posyandu berulang kali turun mengingatkan masyarakat, sementara Puskesmas juga terus melakukan pendekatan kepada sasaran.

Dari sisi PKK, pesan mengenai pentingnya imunisasi turut disampaikan ketika melakukan kegiatan di tengah masyarakat. Namun, Sinta mengakui masih ada orang tua yang masih menganggap anak tetap tumbuh sehat meski tidak mendapatkan imunisasi.

Artinya, masih ditemukan anggapan imunisasi tidak terlalu diperlukan. Ada orang tua yang merasa tidak ada masalah meski anaknya tidak mendapatkan imunisasi karena tetap bisa berjalan maupun berbicara.

Ada juga perubahan gaya hidup yang membuat sebagian orang tua, mulai jarang membawa anak ke Posyandu. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada perhatian mereka terhadap imunisasi. “Memang situasinya seperti ini dan harus dipandu terus,” kata dia.

Sinta menegaskan, kondisi di lapangan tidak selalu bisa disebut sebagai penolakan imunisasi. Sebagian orang tua sebenarnya bersedia ketika diarahkan untuk datang dan mendapatkan vaksinasi.

Hanya saja, kesadaran mengenai seberapa penting imunisasi bagi anak belum sepenuhnya terbentuk. Karena itu, penguatan edukasi dinilai tetap menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi.

Baca Juga: Bukan Hanya untuk Wanita! Ini Alasan Mengapa Pria Juga Butuh Vaksin HPV demi Cegah Kanker dan Kutil Kelamin

Pendekatan kepada masyarakat tidak cukup hanya mendorong orang tua datang ke layanan kesehatan. Tetapi juga memastikan mereka memahami alasan imunisasi penting diberikan kepada anak.

“Kalau mereka dipaksa datang ya datang vaksin, tetapi mereka belum merasa imunisasi ini penting sekali. Itu yang belum sampai ke dalam pemahamannya,” jelas Sinta.   

Untuk menjangkau masyarakat, dilakukan dengan pendekatan yang lebih sesuai. Tim Pembina Posyandu juga menggandeng tokoh adat dan tokoh masyarakat di desa.

Pendekatan tersebut kini mulai diperluas dengan melibatkan kelompok muda, terutama kader dan duta muda. Sinta mengatakan, pendekatan seperti ini penting karena banyak orang tua saat ini berasal dari generasi muda.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Cabang Selong Masuk 10 besar Kantor Cabang Terbaik CX126

Karena itu, pesan mengenai imunisasi perlu disampaikan melalui orang-orang yang lebih dekat dengan kelompok sasaran tersebut. “Kita pakai pendekatan ibu-ibu muda juga, jadi teman-teman kader muda,” tandasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan
Posyandu imunisasi orang tua Anak Kesehatan