LombokPost-Dinas Kesehatan (Dikes) NTB menegaskan setiap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) harus disiapkan sesuai standar yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri menegaskan, peran ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sangat penting. Terutama untuk memastikan menu yang diberikan kepada siswa, tetap memenuhi standar gizi dan penyajian.
“Semua kan sudah ada standar, dari waktu dan penyajiannya. Kalau standar semua diikuti, outputnya adalah makanan yang sehat dan tentunya makanan-makanan yang memang bergizi,” jelasnya, Senin (14/9).
Fikri mengatakan, kesesuaian antara standar dan kondisi di lapangan menjadi hal penting dalam penyajian MBG.
Baca Juga: Satgas MBG Loteng Minta Masyarakat Ikut Pantau Operasional SPPG
Semakin besar kesenjangan antara standar dengan realitas pelaksanaan, semakin besar pula risiko munculnya masalah.
Bahkan ketika ada menu yang disebut merupakan permintaan siswa, pilihan tersebut tetap harus disesuaikan dengan standar. SPPG yang telah memiliki ahli gizi jelas berperan memastikan menu memenuhi ketentuan.
Dengan demikian, permintaan menu dari siswa tidak serta-merta menjadi dasar penyajian tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku.
“Ahli gizi di SPPG tetap memiliki peran untuk memastikan menu yang diberikan sesuai standar, termasuk dari sisi kualitas dan kandungan gizinya,” terang Fikri.
Dikes NTB juga mendorong agar makanan yang disajikan dalam program MBG mengutamakan bahan pangan segar lokal. Makanan siap saji tidak menjadi pilihan yang disarankan, karena kualitas gizinya berbeda dengan makanan yang diolah dari bahan segar.
“Kami sebenarnya mendorong lebih kepada makanan yang memang fresh, bersumber lokal. Tidak disarankan makanan-makanan siap saji,” tegasnya.
Baca Juga: Keamanan MBG di Mataram Diperketat, SPPG Wajib Cantumkan Batas Waktu Konsumsi
Menurut Fikri, penggunaan bahan makanan segar memang membutuhkan proses pengolahan yang lebih kompleks. Namun, hal tersebut sebanding dengan kualitas gizi yang dihasilkan.
“Kalau makanan siap saji kan tinggal sajikan. Tetapi kualitas gizinya pun sangat berbeda,” tandasnya.
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Fathul Gani menegaskan, seluruh pihak harus memastikan makanan yang disiapkan benar-benar aman dikonsumsi. Pemilihan bahan makanan juga perlu menjadi perhatian, terutama bahan yang berpotensi cepat basi.
“Karena bagaimana pun murid-murid ini ada yang langsung makan, ada yang menunda dan sebagainya. Jadi tidak sama,” ujarnya.
Baca Juga: Relawan SPPG Mengaku Dipecat Sepihak, BGN Diminta Turun Periksa Dapur MBG Desa Bara Dompu
Ia juga menekankan agar kepala dapur di SPPG dapat menjalankan peran layaknya kepala rumah tangga. Bertanggung jawab penuh atas seluruh siklus produksi, mulai dari penyortiran bahan, proses memasak, hingga tahap pendistribusian makanan.
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Liputan