LombokPost-Pemprov NTB mendorong konsolidasi petani, berdasarkan komoditas untuk memastikan kebutuhan pasar ekspor kemiri dan vanili dapat dipenuhi secara berkelanjutan. “Ini kita upayakan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB Lalu Wiranata, Jumat (25/9).
Konsolidasi diperlukan karena kapasitas produksi petani berbeda-beda. Karenanya, hasil produksi petani harus dihimpun agar mampu memenuhi permintaan pasar dalam volume lebih besar.
Baca Juga: Kemiri dan Vanili NTB Tembus Pasar Global, Pengembangan Komoditas Ekspor Jadi Strategi Diversifikasi
Misalnya, jika permintaan kemiri tahun ini mencapai 25 ton, pemerintah akan memastikan tersedia pasokan sekitar 25-30 ton. “Caranya, semua petani sejenis ini kita kumpulkan,” jelasnya.
Dengan skema tersebut, Pemprov NTB bisa memetakan potensi produksi, sekaligus menyiapkan pasokan sesuai kebutuhan pasar. Pada Kamis (24/9), NTB mengekspor lima ton kemiri ke Jepang dengan nilai Rp 350 juta. Kemudian lima ton vanili diekspor ke Amerika Serikat (AS) dengan nilai Rp 10-15 miliar.
Khusus vanili, tingginya nilai ekonomi komoditas tersebut diikuti tantangan produksi. Salah satunya ancaman hama yang dapat memengaruhi kualitas dan kontinuitas pasokan.
Karena itu, vanili membutuhkan penanganan khusus agar produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Peluang pasar vanili juga terbuka ke Eropa, Timur Tengah, dan China.
“Untuk pasar China, terdapat persyaratan yang lebih detail, termasuk informasi mengenai asal-usul dan proses produksi komoditas,” terang mantan kepala Bappeda Lombok Tengah tersebut.
Pemerintah juga memperkuat ketersediaan bahan baku kemiri melalui perluasan penanaman. Belasan ribu bibit telah ditanam di sejumlah wilayah, antara lain Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Dompu, dan Bima.
Baca Juga: Barang Ekspor NTB Banyak Tercatat dari Jawa Timur, Gubernur Iqbal Koordinasi dengan Bea Cukai
Penanaman kembali dilakukan karena sebagian tanaman kemiri yang ada saat ini telah berusia lebih dari 20 tahun. Bibit baru diperkirakan mulai berbuah sekitar tiga tahun setelah ditanam dan mencapai produksi yang lebih stabil pada usia sekitar lima tahun.
Konsolidasi petani dan penguatan produksi tersebut diarahkan, untuk menjaga kontinuitas pasokan sekaligus, mendukung pengembangan komoditas unggulan NTB ke pasar ekspor.
Pemerintah juga menargetkan komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Karenanya, konsolidasi juga melibatkan pemerintah kabupaten/kota serta kelompok dan pelaku usaha di daerah. “Kita ingin memastikan ketersediaan pasokan terlebih dahulu sebelum membuka akses perdagangan dalam skala yang lebih besar,” tandasnya.
Editor : Jelo JSumber : Liputan