LombokPost-Warga Desa Adat Sade terus membangun rumah pascakebakaran, dengan cara secara swadaya karena ingin segera memiliki tempat tinggal.
“Sebenarnya master plan-nya sudah jadi hanya saja yang dibangun oleh masyarakat itu karena keinginan masyarakat untuk segera memiliki tempat tinggal,” tegas Kepala Desa Rembitan Lalu Minakse, Jumat (16/10).
Minakse menjelaskan, pembangunan yang dilakukan warga bukan karena rencana induk atau master plan kawasan Sade belum selesai.
Menurut dia, rencana induk tersebut sudah rampung. Persoalannya, anggaran pemerintah untuk pembangunan rumah belum tersedia sehingga warga mengandalkan biaya sendiri dan bantuan pribadi dari sejumlah donatur.
Baca Juga: BSI Bantu Kebangkitan Desa Adat Sade, Dukung Pariwisata Halal Mandalika
Kondisi itu membuat warga memilih memulai pembangunan lebih dahulu demi memenuhi kebutuhan tempat tinggal mereka.
“Masyarakat itu yakin dan percaya dengan pemerintah. Tetapi karena pemerintah menunggu prosedur dan segala macamnya, masyarakat tidak sabar mengingat ini adalah tempat tinggal,” bebernya.
Dari 69 rumah yang ada, sekitar 49 rumah kini sudah beratap. Minakse mengatakan, pemerintah desa terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyatukan visi dalam pembangunan Sade.
Di tengah pembangunan yang sudah berlangsung, Minakse juga meminta Universitas Mataram (Unram), sebagai pihak yang merancang master plan rekonstruksi pembangunan kawasan Desa Adat Sade, tetap mendampingi warga.
Kemudian melanjutkan pengawasan, sekaligus memberikan arahan langsung kepada warga selama proses pembangunan berlangsung.
Baca Juga: Warga Sade Rajut Kembali Rumah Adat, Tak Yakin Selesai Sebelum Event MotoGP
Hal ini diperlukan agar pembangunan yang dilakukan warga tetap sejalan dengan rencana induk yang telah disusun.
“Kita minta Unram dengan skema yang mereka buat, untuk terus mengawal pembangunan yang ada sehingga apa yang akan dibutuhkan,” tandasnya.
Asisten II Setda NTB Lalu Mohammad Faozal mengatakan, pada prinsipnya bersedia mengikuti master plan penataan kawasan yang telah disusun pemerintah. “Warga mau mengikuti,” tegasnya.
Pembangunan rumah yang sudah berjalan tetap dilanjutkan, sembari dilakukan penyesuaian agar sesuai dengan rencana tersebut.
Faozal memahami, warga memiliki alasan untuk segera membangun rumah, terutama karena kebutuhan atap menjelang musim hujan. Material atap dinilai sulit dicari jika sudah memasuki musim hujan dan tidak bisa dibiarkan tanpa penanganan yang memadai terhadap air.
“Kenapa mereka melakukan pembangunan? salah satunya karena atap ini tidak punya masa simpan,” ujarnya.
Penyesuaian difokuskan pada penyelarasan pembangunan dengan master plan yang telah disusun, termasuk memastikan aspek keselamatan dalam rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade.
Baca Juga: Rekonstruksi Desa Adat Sade, Pemprov NTB Kebut Penyusunan Master Plan
Faozal menjelaskan, ada empat aspek instalasi yang akan ditata untuk meningkatkan keselamatan. Pertama, instalasi elektrikal yang akan dirancang lebih aman.
Kedua, penataan sanitasi dan drainase. Ketiga, penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) untuk penanganan kebakaran. Keempat, penataan toilet umum dan toilet rumah tangga.
Seluruh pekerjaan rekonstruksi tersebut ditargetkan selesai pada Desember mendatang. Penyelesaian master plan juga ditargetkan pada bulan yang sama.
Di sisi pembiayaan, Faozal menyebut total kebutuhan belanja untuk seluruh kegiatan rekonstruksi kawasan mencapai Rp 36 miliar. Namun, pemerintah masih melakukan penghitungan ulang karena sebagian pembangunan telah berjalan melalui gotong royong warga dan bantuan donasi.
Penyesuaian dilakukan untuk mengetahui besaran donasi yang telah diterima, baik yang disalurkan langsung kepada warga maupun yang masuk melalui penampungan pemerintah.
Langkah ini diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih antara belanja pemerintah dan pekerjaan yang sudah diselesaikan di Desa Adat Sade.
“Ini sedang kita lakukan penyesuaian kembali, sehingga tidak overlap antara belanja pemerintah yang kita berikan dengan apa yang sudah selesai di Sade,” katanya.
Baca Juga: Rekonstruksi Desa Adat Sade di Lombok Tengah Dikerjakan Keroyokan
Faozal menyebut dana donasi yang tercatat di penampungan Pemprov NTB melalui satgas mencapai Rp 1,9 miliar. Di luar itu, terdapat pula bantuan yang disalurkan langsung kepada warga, termasuk donasi dari pesohor Raffi Ahmad.
Penghitungan ulang tersebut menjadi bagian dari penyesuaian kebutuhan rekonstruksi, seiring pembangunan yang sudah berjalan di tengah masyarakat.
Pemerintah memastikan pekerjaan tetap berlangsung, dengan mengacu pada rencana penataan dan aspek keselamatan yang disiapkan.
“Rekonstruksi ini ada aspek keselamatan yang akan kita pasang, Master plan-nya juga Desember selesai,” tandasnya.
Editor : Redaksi Lombok PostSumber : Liputan