Kasus Kanker Payudara Usia Muda Ditemukan, YKI NTB Bekali Pelajar Cara Deteksi Dini

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:13 WIB
Foto bersama pihak YKI NTB dengan seluruh peserta, kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10). (YUYUN/LOMBOK POST)
Foto bersama pihak YKI NTB dengan seluruh peserta, kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10). (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Pasien kanker payudara tak hanya ditemukan pada kelompok usia 40 tahun ke atas.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi dr Made Agus Suanjaya menyebut, pasien berusia 25–27 tahun juga ditemukan sehingga edukasi kesehatan perlu diberikan sejak usia sekolah. 

“Sekarang 2026, bukan lagi hanya 40 tahun ke atas. Anak muda-muda banyak. Yang paling baru 25–27 tahun, jadi masih muda usianya,” ungkap dr Agus.   

Hal itu disampaikannya saat kegiatan sosialisasi dan Edukasi Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) NTB di SMKN 1 Mataram, Jumat (23/10).

Baca Juga: Sihir Superfood Tropis! Intip 16 Manfaat Nanas bagi Kesehatan, Mulai Diet hingga Tangkal Kanker

Kegiatan dalam rangka Breast Cancer Awareness Month 2026 tersebut mengangkat subtema Meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Generasi Muda terhadap Kanker Payudara, dihadiri ratusan peserta; ada siswa, guru, hingga mahasiswa.

Agus menjelaskan, dari penelitian yang dilakukannya pada 2020 di RSUD NTB, terkait kasus kanker payudara se-NTB, pasien terbanyak saat itu berasal dari kelompok usia 40 tahun ke atas. Kasus yang ditemukan juga banyak berada pada stadium lanjut. 

Perubahan temuan kasus pada kelompok usia lebih muda, menjadi salah satu alasan pentingnya menyasar pelajar SMK sederajat. Menurutnya, pemahaman tentang kesehatan perlu diberikan sejak masa pubertas, ketika seseorang mulai membentuk kebiasaan makan, berolahraga, dan menjalani pola hidup sehari-hari.

Edukasi sejak dini menjadi, upaya untuk memutus mata rantai risiko penyakit sebelum berkembang pada kemudian hari. 

Informasi kesehatan yang tepat perlu diberikan kepada remaja agar mereka memahami pentingnya menjaga tubuh dan mengenali risiko kanker payudara. 

“Kanker ini tidak langsung, misalnya sekarang makan, besok kena oh tentu tidak seperti. Bisa nanti lima sampai sepuluh tahun lagi terjadi. Kalau dari awal kita potong mata rantainya, harapan kita nanti lima sampai sepuluh tahun lagi, semoga anak-anak kita ini tidak terkena kanker itu,” bebernya. 

Agus mengaku antusias melihat respons peserta selama sosialisasi. Keaktifan siswa dalam berinteraksi dan menyerap informasi dinilainya melampaui perkiraan.

“Ini di luar prediksi saya, mereka sangat interaktif, keingintahuannya, penerimaan informasi terhadap hal ini luar biasa,” ujarnya. 

Baca Juga: Kader Siaga Kanker Bonjeruk, Dari Edukasi Menuju Aksi Pencegahan dan Deteksi Dini

Dalam materi edukasi yang dijelaskan, terdapat sejumlah faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan untuk menekan risiko kanker payudara.

Faktor tersebut meliputi kurangnya aktivitas fisik, obesitas, penggunaan terapi hormonal dalam sepuluh tahun terakhir, tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak menyusui, konsumsi alkohol, dan merokok.

Serta kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak, digoreng, atau dibakar dengan cara tidak sehat, hingga paparan zat kimia pemicu kanker juga termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan.

Sementara itu, faktor yang tidak dapat diubah meliputi jenis kelamin perempuan dan pertambahan usia. Sebagian besar pasien kanker payudara terdiagnosis setelah berusia 50 tahun.

Faktor lainnya adalah mutasi genetik, menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, serta jaringan payudara padat yang dapat menyulitkan deteksi tumor melalui mammografi. 

Riwayat kanker payudara maupun penyakit nonkanker pada payudara, riwayat kanker payudara dan ovarium dalam keluarga, serta pernah menjalani terapi radiasi juga masuk dalam daftar faktor risiko yang perlu diketahui. 

Baca Juga: “BESTIE” Hadir di Kebon Ayu, Dorong Perempuan Peduli Deteksi Dini Kanker Serviks

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan menjaga berat badan tetap normal, berolahraga secara teratur, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan mengonsumsi makanan sehat.

“Pemberian ASI secara langsung kepada anak juga dianjurkan jika memungkinkan,” katanya.

Mereka yang memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga perlu berkonsultasi dengan dokter.

Selain mengenali faktor risiko, edukasi juga dijelaskan terkait cara mendeteksi perubahan pada payudara. Salah satunya melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dilakukan setiap bulan, yakni pada hari ketujuh hingga kesepuluh sejak hari pertama menstruasi. 

“SADARI dilakukan untuk mengenali perubahan pada puting dan kulit payudara, sekaligus mewaspadai tanda awal kanker payudara,” tegasnya.

Terdapat enam langkah pemeriksaan yang dapat dilakukan secara mandiri. Pertama, berdiri di depan cermin dengan mengangkat kedua tangan untuk melihat apakah terdapat kemerahan atau pembengkakan pada payudara.

Kedua, meletakkan tangan di pinggang dan kembali mengamati perubahan pada payudara. Ketiga, menekan payudara dengan gerakan dari atas ke bawah untuk merasakan ada tidaknya benjolan.

Keempat, memeriksa payudara dengan gerakan melingkar. Kelima, menekan payudara ke arah puting sambil memperhatikan apakah terdapat cairan yang keluar.

Baca Juga: Remaja Batukumbung Dilatih Jadi Agen Perubahan Cegah Kanker Paru dan PTM

Keenam, melakukan pemeriksaan kembali dalam posisi berbaring dengan menekan payudara secara melingkar. Selain SADARI, terdapat Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) yang dilakukan oleh dokter bedah onkologi, dokter umum, perawat, atau bidan.

Pemeriksaan dianjurkan setiap lima tahun sekali bagi kelompok usia di bawah 30 tahun, setiap dua hingga tiga tahun sekali bagi usia 30–40 tahun, serta setiap tahun bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun.

“Pemeriksaan skrining juga dapat dilakukan sesuai indikasi medis,” tegasnya.

Agus menegaskan, kanker payudara tidak hanya dapat dialami perempuan. Meski risikonya jauh lebih kecil, laki-laki juga memiliki kemungkinan terkena penyakit tersebut.

“Jadi, baik laki-laki maupun perempuan semua punya risiko,” tandasnya.   

Ketua YKI NTB periode 2026–2031 Sinta Agathia M Iqbal menegaskan, penanganan kanker tidak dapat hanya mengandalkan tenaga medis, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. 

“Isu kanker adalah persoalan besar yang tidak bisa kita serahkan hanya kepada tenaga kesehatan. Ini harus menjadi gerakan bersama, karena kolaborasi adalah kekuatan utama kita,” ujarnya.

Upaya menekan angka kasus kanker, harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi, perubahan pola hidup, hingga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.

Baca Juga: RSUD Soedjono Selong Hadirkan Layanan Mammografi, Perkuat Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara

Siswi kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP) 1 SMKN 1 Mataram Sherly Amelia mengaku mendapat banyak pengetahuan baru dari sosialisasi, pencegahan kanker payudara dan pentingnya deteksi dini.

“Jujur ini pertama kali mendapat edukasi tentang ini dan banyak informasi yang saya terima, mudah-mudahan kegiatan ini ada lagi kedepannya,” kata dia.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
Pelajar kanker risiko Kanker Payudara yayasan kanker indonesia