Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ancaman Multi Bencana Hidrometeorologi di Puncak Musim Hujan NTB

Administrator • Senin, 15 Februari 2021 | 18:34 WIB
ILUSTRASI: Permukiman warga di Lombok Tengah tergenang banjir. (Dok/Lombok Post)
ILUSTRASI: Permukiman warga di Lombok Tengah tergenang banjir. (Dok/Lombok Post)
Oleh:

Nindya Kirana, S.Tr

Prakirawan Iklim BMKG NTB

 

MENGAWALI tahun 2021, masih teringat jelas peristiwa banjir bandang yang melanda Kota Bima hingga merendam ratusan rumah warga. Banjir yang disebabkan oleh luapan sungai Padolo itu bahkan menggenani ruas jalan utama di Kota Bima. Petugas evakuasi tim Tagana menjelaskan bahawa banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah hulu Kecamatan Wawo selama tiga jam. BMKG melalui jaringan pos hujan kerjasama yang berada di Kecamatan Wawo mencatat hujan yang terjadi pada hari itu sebesar 67 mm. Hujan lebat dalam kurun waktu yang cukup lama ditambah dengan kurangnya daerah resapan air membuat banjir tak bisa lagi terelakkan.

Menilik lokasi lain, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika juga tidak luput dari terjangan banjir bandang dan angin kencang pada akhir Januari lalu. Lokasi yang terdampak melanda tiga kecamatan, yakni Kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya dan Pujut. Banjir bandang disertai lumpur dari perbukitan Desa Kuta dan Desa Mertak di KEK Mandalika menyebabkan ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Pengamatan curah hujan oleh pos hujan kerjasama BMKG mencatat hujan saat itu sebesar 90 mm pada tanggal 30 Januari 2021.

Belum lama ini, hujan lebat disertai angin kencang melanda kawasan wisata Pantai Senggigi di Kecamatan Batulayar hingga menyebabkan longsor di ruas jalan dan pembatas jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara. Beberapa bencana yang diakibatkan oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya seperti yang tersebut di atas merupakan contoh dari bencana hidrometeorologi. Beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan penentu bencana hidrometeorologi ialah peningkatan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang serta kilat atau petir, dan lain sebagainya.

 

Puncak Musim Hujan NTB

 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia yaitu 94 persen dari 342 Zona Musim saat ini telah memasuki puncak musim hujan seperti yang telah diprediksikan sejak Oktober 2020 lalu, dimana puncak musim hujan akan terjadi pada Januari dan Februari 2021, untuk itu perlu diwaspadai terjadinya cuaca ekstrem. Sebagian besar wilayah yang berada pada Puncak Musim Hujan tersebut terutama sebagian Sumatera bagian Selatan, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan bagian selatan Papua. Puncak musim hujan di wilayah tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2021.

Seperti yang telah disebutkan oleh BMKG, Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini telah masuk periode puncak musim hujan. Kondisi puncak musim hujan dan didukung oleh indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) yang menunjukkan kategori La Nina ini turut mendukung peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia sehingga juga meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah di Indonesia. Faktor pengendali iklim di wilayah Indonesia lainnya yang saat ini berpengaruh ialah daerah ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) yang memperlihatkan anomali mengarah pada penguatan curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Selama periode Januari-Februari ini, aktivitas Monsun Asia masih cukup aktif, kondisi tersebut masih dapat berpotensi diperkuat dengan adanya fenomena seruakan dingin dari Asia yang dapat berdampak pada penguatan potensi pertumbuhan awan hujan terutama d wilayah Indonesia bagian barat.

Stasiun Klimatologi Lombok Barat sendiri secara khusus membuat analisis dan monitoring musim hujan tahun 2020-2021 wilayah NTB. Berdasarkan prakiraan musim hujan tahun 2020-2021, puncak musim hujan wilayah Provinsi NTB mayoritas terjadi pada bulan Januari-Februari 2021. Meskipun demikian, terdapat pula wilayah yang puncak musim hujannya terjadi pada bulan Desember 2020. Wilayah dengan puncak musim hujan pada bulan Desember lalu antara lain Mataram, Cakranegara, Majeluk, Ampenan, Labuapi, Rumak, Gerung, Batulayar, Gunung Sari, Narmada dan Kediri. Kendati demikian, bukan berarti hujan akan berhenti mengguyur wilayah-wilayah tersebut. Puncak musim hujan diartikan sebagai periode di mana jumlah curah hujan tertinggi selama tiga dasarian berturut-turut. Sehingga meskipun puncak musim hujan telah berlalu pada suatu wilayah, potensi terjadinya curah hujan tinggi masih dapat terjadi namun intensitasnya tidak sebesar pada puncak musim dan periodenya tidak sepanjang saat periode puncak musim hujan.

 

Potensi Cuaca Ekstrem Bulan Februari

 

Kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia termasuk pula wilayah Provinsi NTB. Hal tersebut disebabkan oleh munculnya sirkulasi siklonik di sekitar wilayah utara Indonesia sehingga mempengaruhi pola arah dan kecepatan angin yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia. Selain itu, kondisi labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Indonesia dapat turut berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan awan hujan skala lokal.

Berdasarkan prakiraan curah hujan probabilistik yang dikeluarkan BMKG melalui Stasiun Klimatologi Lombok Barat, pada dasarian kedua bulan Februari terdapat peluang terjadi hujan lebih dari 50 mm/dasarian di hampir seluruh wilayah Provinsi NTB. Perlu diwaspadai peluang terjadi hujan lebih dari 100 mm/dasarian pada dasarian kedua bulan Februari di wilayah Sumbawa, Bima dan Dompu.

Selain ancaman terjadinya peluang hujan lebat, masyarakat perlu pula mewaspadai peluang terjadinya bencana akibat hujan lebat seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang serta gelombang tinggi di wilayah laut. Untuk penting kiranya untuk masyarakat mencari informasi terkait cuaca dan iklim dalam penentuan kegiatan ke depan agar dampak kerugian akibat bencana hidrometeorologi ini bisa diminimalisir. (*) Editor : Administrator
#Nindya Kirana #NTB #BMKG NTB #Opini