Penyakit DBD masih sering ditemukan di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Salah satu kabupaten yang termasuk dalam wilayah dengan kasus terbesar nasional ialah Lombok Barat. Kabupaten Lombok Barat masuk dalam urutan sepuluh besar kabupaten atau kota dengan kasus DBD tertinggi di seluruh Indonesia.
Berdasarkan data yang diperoleh Dinas Kesehatan Lombok Barat, sejak tahun 2018 terjadi peningkatan kasus yang sangat luar biasa di Kabupaten Lombok Barat. Di tahun 2018 lalu jumlah kasus DBD di Lobar hanya 48 kasus, kemudian di tahun 2019 naik menjadi 229 kasus. Parahnya, di tahun 2020 yang lalu, peningkatan kasus begitu tinggi, yakni mencapai angka 1.608 kasus.
Selain faktor edukasi masyarakat yang masih sangat minim terkait penularan penyakit DBD, faktor penting lainnya yang berpengaruh dalam penularan DBD adalah faktor iklim. Terlebih pada musim peralihan seperti akhir-akhir ini. Perubahan iklim juga menyebabkan beberapa virus diperkirakan mengalami peningkatan pada peralihan musim yang ditandai oleh peningkatan curah hujan dan suhu udara. Karena pada periode peralihan musim, peluang terjadi cuaca ekstrem, salah satunya hujan lebat, bisa saja terjadi.
Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap pola penyakit infeksi dan akan meningkatkan resiko penularan. Parameter yang berpengaruh antara lain suhu, kelembaban dan curah hujan. Suhu ideal untuk transmisi DBD adalah 21.6 – 32.9 °C dengan nilai kelembaban berkisar 79%.
Peran BMKG dalam Peringatan Dini DBD
Oleh karena eratnya hubungan antara pengaruh iklim dengan penularan DBD inilah, dibutuhkan sebuah layanan peringatan dini DBD berbasis iklim seluruh provinsi di Indonesia.
BMKG sebagai institusi penyedia layanan klimatologi dan kualitas udara saat ini diwajibkan untuk memberikan produk layanan yang berbasis kepada dampak, salah satunya adalah kepada sektor kesehatan. Hal ini sesuai dengan Kerangka Global untuk Layanan Iklim (Global Framework for Climate Services/GFCS) yang telah dirumuskan oleh WMO.
GFCS bertujuan untuk memungkinkan para peneliti dan produsen serta pengguna informasi untuk bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan iklim di seluruh dunia. Sehingga produk dan informasi iklim nanti dapat digabungkan dengan data lain sesuai kebutuhan pengguna, termasuk salah satunya data penyakit DBD.
Hal ini dijelaskan oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG pada tahun lalu dalam Webinar Iklim Terapan Seri 1 yang bertajuk "Antisipasi Penyebaran Penyakit DBD di Tengah Pandemi Covid-19 dengan Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Kesehatan".
Even tersebut diselenggarakan oleh BMKG bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Dinas Kesehatan Jakarta (Dinkes Jakarta), Dinas Kesehatan Bali (Dinkes Bali), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sebagai contoh tindak lanjut, BMKG telah merintis kerja sama dengan Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta dan Institut Teknologi Bandung mengembangkan Peringatan Dini Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah DKI Jakarta. Peringatan dini DBD berbasis iklim ini (DBDKlim) dikembangkan untuk informasi peringatan DBD sedini mungkin yang didasarkan pada parameter iklim (kelembaban udara) dan jumlah kasus DBD.
Selain itu DBDKlim juga menghasilkan peta angka DBD skala bulanan untuk 3 bulan ke depan di provinsi DKI Jakarta, dimana prediksi dibagi menjadi tiga kategori, hijau artinya aman, orange wasapada dan merah artinya awas. Tiap kategori memiliki tingkat penanganan yang berbeda untuk mengurangi penambahan jumlah kasus DBD di wilayah Jakarta.
Peringatan dini DBD berbasis iklim ditujukan untuk diperolehnya informasi peringatan DBD sedini mungkin yang didasarkan pada parameter iklim (kelembaban udara) dan jumlah kasus DBD.
Selanjutnya langkah-langkah antisipasi dapat segera diambil oleh pihak terkait terutama Dinas Kesehatan dan jajarannya untuk mencegah semakin bertambahnya masyarakat yang terjangkit. Peringatan dini DBD ini menghasilkan informasi prediksi angka insiden/AI yaitu jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk untuk tiga bulan ke depan.
Setelah diterapkan di DKI Jakarta, ke depan diharapkan sistem peringatan dini DBD berbasis iklim ini dapat diaplikasikan dan diterapkan di seluruh provinsi di Indonesia. Mengingat DBD merupakan penyakit yang setiap tahunnya memiliki tren penularan yang bertambah dan tak jarang mengakibatkan hilangnya nyawa para pasiennya. (*) Editor : Administrator