Dosen FK Unram dan Dokter di RSUD Provinsi NTB
CHRISTIAN Eriksen yang saat itu berusia 29 tahun, pernah mengalami henti jantung ketika pertandingan Euro 2020. Saat itu, sang pemain Denmark tersebut langung mendapatkan bantuan hidup dasar (BHD) di tempat, dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau pijat jantung, seketika langsung dibawa ke rumah sakit. Saat pertandingan Piala Dunia di Qatar 2022, Eriksen kembali bermain memperkuat Denmark.
Markis Kido, peraih emas Olimpiade yang berusia 36 tahun, mengalami henti jantung saat bermain bulu tangkis pada tahun 2021. Sayangnya, ketika mengalami henti jantung, orang di sekitarnya tampak bingung, tidak segera melakukan pijat jantung, akhirnya pun tidak tertolong.
Oktober adalah bulan kewaspadaan kejadian henti jantung mendadak (HJM). Seringkali kita mendengar artis atau atlet yang mendadak mengalami HJM, dengan usia yang relatif muda. Henti jantung mendadak mengenai 180.000 hingga 450.000 orang per tahun di Amerika Serikat, dan 90 persen di antaranya mengalami HJM. Henti jantung mendadak adalah berhentinya aktivitas listrik jantung secara tiba-tiba, mengakibatkan gagalnya sirkulasi, hilangnya kesadaran, dan napas spontan seketika.
Menurut data studi observasional tahun 2015 pada 19.238 orang dengan HJM, jika kita melakukan RJP pada menit ke-1 menit, maka angka harapan orang tersebut sebesar 36,8 persen, namun pada menit ke-30, maka angka harapan hidup tinggal 0,8 persen.
Sebenarnya kita bisa mengenali, mencegah, dan menangani HJM lebih dini, dengan melakukan bantuan hidup dasar saat ada orang yang mengalami HJM di sekitar kita.
Gejala yang Mendahului Henti Jantung Mendadak
Henti jantung mendadak dapat terjadi tanpa gejala yang mendahului. Namun, pada umumnya terdapat beberapa gejala yang mendahului, seperti nyeri dada, berdebar, sesak napas, dan lelah di luar kebiasaan, serta perasaan seperti melayang hingga mual dan muntah. Kemudian berakhir dengan aritmia atau ganggguan irama jantung seperti takikardi ventrikel atau fibrilasi ventrikel, tekanan darah yang tidak dapat diukur, dan nadi yang tidak teraba.
Penyebab Henti Jantung Mendadak
Menurut epidemiologi yang mendasari HJM, rata-rata penyebab kematian jantung mendadak usia di bawah 35 tahun adalah sindroma aritmia (gangguan irama) yang diturunkan seperti Sindroma Brugada, Sindroma QT interval memanjang, yang bisa dideteksi dari rekam jantung (elektrokardiografi/EKG). Selain itu, penyakit otot jantung seperti hypertrophy cardiomyopathy, dan aryhtmogenic right ventricle cardiomyopathy (ARVC) juga bisa menjadi penyebab HJM usia muda. Sedangkan pada usia di atas 35 tahun, rata-rata penyebabnya adalah penyakit jantung koroner (PJK), penyakit jantung katup. Namun, tidak menutup kemungkinan PJK pun bisa terjadi pada usia muda bila terdapat faktor risiko aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh penumpukan plak.
Untuk mencegah kejadian HJM, bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, bila ada keluhan yang disebutkan di atas.
Pentingnya Mewaspadai Henti Jantung Mendadak
American Heart Association (AHA) mengenalkan resusitasi jantung paru (RJP) pertama kali tahun 1960 dan hanya diajarkan untuk paramedis. Pada tahun 1963, instruksi RJP ditujukan untuk orang awam. RJP dengan menggunakan tangan saja disampaikan kepada masyarakat luas sejak 2008 sebagai penanganan awal terhadap henti jantung mendadak. Penggunaan alat kejut listrik otomatis atau automated external defibrillators (AED) meningkatkan harapan hidup pada kondisi HJM. Sayangnya, data dari registry CARES, angka harapan hidup dari HJM menurun pada tahun 2020 dari 10,5 persen menjadi 9 persen.
RJP juga penting dilakukan segera untuk mencegah kematian otak yang bisa terjadi dalam 6-10 menit.
Bagaimana Melakukan Pijat Jantung yang Benar
Bila kita bisa memberikan pijat jantung yang tepat, maka kita bisa menyelamatkan banyak orang di sekitar kita. Berikut langkah-langkah BHD: 1. Amankan lingkungan sekitar (aman untuk korban dan penolong), 2. Cek respons korban , 3. Bila korban tidak sadar dan tidak ada respons, segera panggil bantuan 119 (ambulans), 4. Mulai lakukan kompresi/penekanan pada dada korban dengan kecepatan 100-120 kali per menit dengan kedalaman 4-5 cm, pakailah kekuatan dari bahu dan berat badan ketika memijat dengan siku tetap tegak lurus. RJP dilakukan sambil menunggu bantuan datang.
Bantuan Hidup Dasar Harus Bisa Dilakukan Semua Orang
Di negara-negara maju, BHD sudah mulai masuk dalam kurikulum sekolah, pun sebaiknya diterapkan di negara kita, bahkan dari sekolah dasar. Di Korea Selatan, video cara RJP dan memasang AED pun selalu ditampilkan di Korail (kereta api antar kota). Bahkan, salah satu puncak gunung di Seoul (Bukhansan) pun ada tempat khusus untuk berlatih RJP dengan fasilitas manekin dan video cara melakukan RJP yang benar. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena HJM bisa dialami siapa saja, dan justru orang di sekitarnya bisa membantu menyelamatkannya. (*)
Editor : Redaksi Lombok Post