Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lombok Heritage Tourism : Paket Wisata Jalan-Jalan Keliling Kampung

Redaksi Lombok Post • Selasa, 20 Februari 2024 | 14:47 WIB
 
 
Zulhakim, Redpel Lombok Post, Founder Lombok Heritages and Science Society (LHSS)
Zulhakim, Redpel Lombok Post, Founder Lombok Heritages and Science Society (LHSS)
*Oleh : Zulhakim
Redpel Lombok Post, Founder LHSS
 
Suatu sore selepas MotoGP Mandalika 2023 lalu. Seorang kenalan, pemilik biro perjalanan wisata dari Australia mampir. Namanya Miriam.
 
Kami berbincang banyak hal di Pamour Art Galery Senggigi bersama si sohibul bait Bang Fendi Loekman.
 
Dari diskusi itu, Miriam curhat soal keluhan tamu-tamu yang ia bawa selepas nonton balap di Mandalika. Setelah balapan lalu Apa?
 
Tamu-tamu asing ini tahu tentang Lombok dengan pantai dan barisan gunung yang mempesona. Tapi mahal-mahal mereka datang, tentu ingin sesuatu yang beda. Hal yang unik dan tak ditemukan di pulau tetangga.
 
Miriam sepertinya jenuh bertahun-tahun cuma jualan itu-itu saja. Ibarat hidangan, main course kita memang istimewa. Laut biru yang mempesona, gunung nan indah, budaya yang kaya.
Tapi jika disajikan berulang tanpa ada pembaruan orang mudah bosan.
 
Butuh kreasi baru agar sajiannya berbeda. Atau setidaknya ada tambahan kudapan baru biar sajiannya selalu istimewa.
 
Miriam datang karena mendengar kabar kami sedang mencoba mengembangkan paket heritage tourism di beberapa kampung Mataram.
 
Dia ingin agar itu barang dikemas jadi paket wisata yang lebih baik. Semacam paket yang bisa jadi pilihan tamu selepas nonton di Mandalika. Atau mengisi waktu singkat sebelum ke bandara.
 
Dia lantas memberi gambaran bagaimana paket-paket Heritage Tourism dijalankan profesional di Melaka dan Singapura. Paket-paket heritage tour 2-3 jam dengan mengajak turis nostalgia tentang cerita masa lalu kota tua Singapura.
 
Gedungnya, orang-orangnya, budayanya dan tentu saja kulinernya. Ini adalah warisan yang tiada dua dan hanya ada di kota itu saja.
 
Rasanya semuanya itu kita punya di Ampenan hingga Cakra. Tinggal dikemas saja. Kami jadi lebih semangat. Tapi Miriam menantang lebih cepat. Kapan ini paket bisa siap?
 
Saya lirik Bang Fendy, dia mengangguk siap. Saya iyakan juga, dua-tiga bulan bisa jalan.
Miriam pamit. Kami berjabat tangan.
 
Dia menuju ke parkiran disambut pria berambut perak yang nampaknya sangat familiar. Kulitnya putih kemerahan, berseragam apparel official tim balapan. Wajahnya seperti tak asing. Mirip pembalap Australia era 90-an.
 
“Anda mirip sekali dengan Mick Doohan” sergah Bang Fendy, sebelum si tamu masuk kendaraan.
 
“Ah…tidak.. banyak yang bilang begitu,” jawabnya lekas sembil berlalu dan melepas salam.
 
Dan kami berdua melongo di parkiran. Masih penasaran.
 
Heritage Tourism
-------------------
Dua tahun ini, saya dan Bang Fendy beberapa kali dapat tamu dadakan. Ada yang lokal dan juga rombongan kapal pesiar. Mereka minta diantar keliling Ampenan-Mataram. Dari sinilah kami corat-coret agar bisa jadi sebuah paket perjalanan. Jalan-jalan keliling kampung.
 
Tapi menjadikan ini sebagai paket wisata yang layak dijual secara profesional tentu tak mudah. Tak bisa jalan sendiri. Butuh kolaborasi dengan banyak pihak.
 
Saya diskusikan ini dengan kawan-kawan di Lombok Heritages (LHSS). Bang Ali Akbar yang juga anggota BPPD NTB jadi pihak pertama yang menyampaikan kesiapan bantuan. Terutama soal pendanaan.
 
Selepas bincang bincang kita sepakat mulai survey dari Ampenan. Tapi pertanyaanya dari mana memulainya. Pada era mana potret kota tua ini kita kemas sebagai paket wisata? Ampenan adalah kota tua yang telah menyaksikan jatuh bangunnya peradaban sejak berabad-abad silam.
 
Kita mulai dari yang terdekat dulu.! Dari periode yang masih terjangkau. Misalnya tentang Ampenan sebagai kota pelabuhan dari masa koloial hingga penutupannya di pertengahan dekade 1970-an.
 
Koran-koran lama, foto, babad, jurnal hingga peta kolonial kami buka ulang sebagai penguat data. Ini penting agar cerita yang kita narasikan jelas nasabnya. Dari sini kemudian kita cicil cerita-cerita menarik dari periode yang lebih lama.
 
Sebuah buku berjudul Adresboek van de voornaamste bedrijfstakken der Nederlandsch-Indische Nijverheid. Susah bacanya bukan? He.he.. saya juga…!
 
Singkatnya ini semacam katalog berisi alamat perusahaan di seluruh Hindia terbitan NV. G. KOLFF & Co di Batavia 1941. Buku ini mencatat nama-nama perusahan yang beralamat dari Ampenan hingga Labuan haji. Ini penting untuk melacak peruntukan sisa-sisa gedung tua sepanjang Ampenan-Cakra di masa Belanda.
 
Dari buku ini kita juga bisa melihat banyak hal. Semisal jalan Niaga-Pabean menuju Pantai Ampenan dulu bernama Lombokstraat (Jalan Lombok). Di jalur ini banyak gudang penampung hasil bumi dan pabrik Penggilingan Padi seperti N.V. Handel Mij. Hoo Kie dan Firma Khing Hap & Co.
 
Petunjuk tambahan datang dari katalog Telefoongids Bali en Lombok terbitan tahun 1949. Disini terlihat perubahan wajah Ampenan-Mataram-Cakra sudah jauh berkembang setelah kemerdekaan. Ini terlihat dari kepemilikan pesawat telepon oleh rumah tangga, swasta dan kantor pemerintah.
 
Dari Ampenan hingga Repok Bebek misalnya terdapat 43 sambungan pelanggan telepon rumah. Toko Liem di dekat pelabuhan menjadi pelanggan dengan nomor telepon 1. Kemudian nomer dua Moelia Bioscoop. Ini adalah bioskop di sisi timur pelabuhan Ampenan.
 
Ada juga perusahaan yang masih bertahan hingga kini Wie Sien Soja fabriek alias Pabrik Kecap Wie Sien dengan nomor telepon tujuh.
 
Hoo Kie Rijstpellerij alias Gudang Hoo Kie bernomor 8 dan Nederlandsch Indisch Handelsbank alias Bank Dagang Belanda di areal pelabuhan bernomor 9 dan seterusnya.
 
Dari barisan nomor sambungan itu ada dua nama familiar. Yakni nomor telepon 32 milik Hadji Husin Tajib Napis dan Abdulkabir Bagis bernomor 43. Tentang dua tokoh Banjar dan Arab ini lain kali saya ceritakan.
 
Dari lorong-lorong Kampung Melayu juga tak kalah banyak cerita. Sebelum Belanda datang ini kampung kosmopolitan yang dihuni berbagai bangsa.
 
Alfred Russel Wallace pada 1856 pernah mengunjungi rumah penampungan para Misionaris Eropa yang bangkrut di tempat ini. Ada juga beberapa kantor dagang warga negara asing. Syahbandar Ampenan di masa itu juga seorang Inggris.
 
Tapi setelah invasi Belanda 1894, Belanda menata ulang. Untuk memudahkan administrasi kependudukan, kawasan sekitar pelabuhan Ampenan dibagi menjadi kampung-kampung berdasarkan etnis.
 
Kampung Banjar di Selatan muara, kemudian di utara ada Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Arab dan China Kamp di selatan simpang lima. Selebihnya merupakan Perkampungan Sasak dan beberapa kampung Bali.
 
Kelak percampuran inilah yang menyisakan banyak warisan khas yang tiada dua. Misalnya kekayaan budaya dan bahasa. Rasanya hanya disini kita mendegar Bahasa Sasak dipadu padankan dalam kombinasi kosa kata Arab-Melayu. Ana, Ente, Hep, Die, Kau, Regot….dll . Orang kerap menyebutnya Bahase Ampenan.
 
Lalu komunitas Tionghoa juga menuturkan Sasak dengan aksen tersendiri diselingi satu dua kosa kata China… Ngo, Ni, Cici..koko.. dll.
 
Pun demikian dengan makanan, akulturasi ini melahirkan citarasa tersendiri. Pilinan begitu banyak etnis dalam rentang watu lama di kota sekecil Ampenan melahirkan keragaman citarasa.
 
Carilah apapun disini. Dari Roti Maryam ke Soto Banjar, dari Kuetiaw ke Nasi Briyani. Kota mungil ini semacam melting pot aneka rasa Nusantara.
 
 
Wisata Kota Tua
-------------------
Sebagai bahan uji coba, maka cerita-cerita menarik ini kami kemas dalam paket wista kecil bertajuk Jalan-Jalan Kota Tua Ampenan pada Minggu pagi 14 Januari lalu. Tarifnya Rp 75 ribu per orang.
 
Ada 26 titik sejarah yang dilintasi selama 2,5 jam dari Pelabuhan masuk ke Kampung Melayu melintasi Selasar Pasar menuju Stanplaat Ampenan, keluar di Jalan Koperasi ke Simpang Lima dan Kembali ke Pelabuhan.
 
Sepanjang rute ini ada beberapa titik singgah dengan peluang belanja kudapan pagi. Serabi, Lupis hingga Pisang Goreng hangat. Jalan-jalan nostalgia ini ditutup dengan makan siang di Warung Pojok Mbak Eni di tepi pantai.
 
Awalnya kami menargetkan satu paket kecil berisi 10-15 orang. Tak Disangka pendaftar antusias. Kuota membengkak jadi 26 orang. Ada wisatawan asing, ada mahasiswa, guru sejarah dan pemandu wisata, juga beberapa peserta dari Malang dan Bandung.
 
Sementara sebagai panitia kami sengaja mengajak anggota Karang Taruna dan Pokdarwis setempat. Tujuannya agar kawan-kawan ini bisa ikut belajar bersama dan kelak siap memandu wisatawan menyusuri lorong-lorong Ampenan.
 
Tentu masih jauh dari sempurna. Tapi sejak hari itu, permintaan untuk paket jalan-jalan keliling kampung semacam ini terus mengalir.
 
Gayung bersambut Pak Lurah sebagai empunya rumah aktif ikut serta. Mereka ingin jadikan ini sebagai program kerja bersama.
 
Kami Setuju, semakin banyak yang terlibat semakin sempurna. Rasanya jika kelak formulasi Wisata Heritage ini berhasil, tinggal kita copy paste ke kampung sebelahnya. Begitu seterusnya.
 
Harapannya orang-orang kampung macam saya bisa bangga cerita tentang sejarah kampungnya. Bisa mengemasnya jadi paket wisata.
 
Dan akhirnya kita akan punya lebih banyak pilihan paket liburan yang siap ditawarkan. Biar limpahan turis tak hanya menumpuk di Mandalika.(*)
 
Para peserta Jalan Jalan Sejarah Kota Tua Ampenan  berpose di depan gedung Hok Kian Kong Hwee di Jalan Koperasi Ampena (14/1/24).
Para peserta Jalan Jalan Sejarah Kota Tua Ampenan berpose di depan gedung Hok Kian Kong Hwee di Jalan Koperasi Ampena (14/1/24).
 
Editor : Redaksi Lombok Post
#LHSS #heritage tourism #Lombok Heritage and Science Society #kota tua ampenan