Penulis adalah Perintis SSB Fatahillah 354 Mataram, Ketua IKA UII Jogja di NTB
Sebuah kebetulan. Sambil duduk menunggu jadwal boarding time di bandara, dalam sebuah perjalanan dinas, tiba tiba penulis melihat lewat flyer di sebuah medsos memperoleh informasi bahwa hari ini (Kamis, 22 Maret 2024) adalah Timnas Day, malam pertandingan Tim Nasional Indonesia versus Vietnam, di Gelora Bung Karno, Jakarta.
Rangkaian pertandingan Kualifikasi World Cup 2026 yang direncanakan akan di gelar 3 negera berbeda: USA, Canada dan Mexico.
Tanpa pikir panjang, sebagai seorang penggemar sepakbola meski level lokal, fokus pikiran langsung tertuju bagaimana berburu tiket lewat online. Kapan lagi nonton timnas live on the spot? Namun sayang, hasil nya nihil. Tiket sudah Sold Out.
Otak terus berpikir bagaimana bisa menonton. Begitu landing, di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, waktu menjelang magrib. Karena mepet dengan jam kick off, Penulis memberikan opsi kepada sang Supir, setelah menawarkan buka bareng dengan sang supir, sekalian satu paket offline membantu mengantarkan ke Gelora Bung Karno (GBK), mencoba peruntungan membeli tiket secara go show.
Siapa tahu beruntung masih dapat tiket. Penulis percaya, di negeri Wakanda, negeri para calo, semua jenis tiket pasti ada calonya. Apapun evennya.
Alhamdulillah, penulis sesampai di GBK tidak susah mendapatkan tiket dari seorang calo yang menanti dengan ramah. Tanpa panjang kalam, deal. Tiket diperoleh dengan harga yang relatif sama dengan harga asli.
Kata sang Calo, daripada hangus karena last minutes. Harga spesial untuk Bapak. Kata kata khas sang calo. Singkat cerita penulis akhirnya masuk ke GBK dan merasakan gemuruh suara para penonton yang penuh dengan spirit nasionalisme. Feel of Spirit nya terasa.
Namun, perasaan mulai sedikit berbeda ketika menyimak dan mendengar nama-nama starting eleven yang akan tampil. Enam pemain diantaranya bernama agak asing di telinga. Ternyata pemain-pemain timnas hasil naturalisasi.
Dari 28 pemain timnas, 10 diantaranya adalah produk program naturalisalisasi PSSI. Tersebutlah diantaranya nama-nama : Jay Idzes (Venecia), Thom Haye (Heerenveen), Ragnar Oratmangoen (Fortuna Sittard), dan Nathan Tjoe Aon (Heerenveen), Rafael Struick (ADO Den Haag), Ivar Jenner (JONG FC Utrecht).
Anehnya, setiap nama nama itu disebut oleh announcer, tepuk tangan membahani terdegar. Tidak ada cibiran sinis sebagai tanda penolakan terhadap program naturalisasi yang di ambil oleh PSSI dibawah kepemimpinan Eric Thohir dan sang Pelatih Sin Thae Yong.
Pelatih Vietnam, Philippe Troussier mengungkapkan bahwa ini soal bagaimana mengembangkan sistem sepak bola. Berdasarkan pengalamannya, ada beberapa cara untuk mengembangkan sistem sepak bola dengan mengimpor pemain asing," ujar Troussier dengan nada sinis dalam konferensi pers resmi jelang laga.
Singkat cerita, Indonesia menang dalam dua pertandingan melawan Viethnam. Baik saat Home di GBK maupun saat Away di Hanoi, yang selama 20 tahun terakhir belum pernah terjadi. Dan semua mengakui prestasi ini berkat kemampuan pemain pemain naturalisasi ini mampu mengangkat level permainan Timnas Indonesia.
Selebrasi dan rasa bangga Ragnar Oratmangoen, pemain yang menjadi man of the macth malam itu melebihi pemain nasional yang lahir dan besar di Indonesia. Padahal baru sah di sumpah menjadi WNI dalam hitungan minggu.
Pertanyaannya apakah mereka juga merasakan spirit nasionalime yang dirasakan oleh pemain saat membela Indonesia atau penonton, NKRI Timnas Harga Mati seperti penulis?
Ternyata Jawaban salah satu dari mereka mengejutkan: “Kami bukan pemain asing, kami anak anak muda Indonesia yang pulang membela negeri orang tua dan leluhur kami,” jawab Jay Idzes, salah satu pemain bermain cukup apik dan menonjol di pertahanan Indonesia, bahkan di Hanoi mencetak gol pertama ke gawang Vietnam.
Inspirasi Ramadhan dan Sepakbola
Menyaksikan Kualifikasi Piala Dunia 2026 digelar dalam suasana Ramadhan memberi persepktif dan nuansa religi. Bulan Ramadhan selalu memberi inspirasi bagi para pemain, khususnya para pemain muslim. Termasuk tak terkecuali bagi Radgar Oramangoen, salah satu pemain naturalisasi keturunan Ambon.
Ternyata dia seorang muslim yang taat. Oratmangoen lahir di kota Oss, Belanda pada 21 Januari 1998. Kedua orang tuanya sama-sama punya garis keturunan Indonesia dari kakek. fakta menarik dimana kakeknya yang asli Maluku rupanya adalah seorang anggota Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL), sebuah pasukan militer di masa penjajahan Belanda dahulu.
Sedari kecil Oratmangoen juga penganut Kristiani. Ia masuk islam sejak usia 14 Tahun. Jadi tahun ini adalah Ramadhan ke 11 baginya.
Di usia 14 tahun, ketika masih belajar di akademi sepak bola, ada temannya yang beragama Islam. Temannya ini beberapa kali mengajak Oratmangoen berkunjung ke masjid tempatnya beribadah. Baginya, Islam membantunya dalam menjalani kehidupan.
Seperti kultur Eropa pada umumnya, urusan memeluk agama di Belanda adalah privasi. Ini membuat keluarga Oratmangoen tak melarangnya memeluk Islam.
"Teman saya sering mengajak ke masjid. Mereka mengajarkan saya soal Tuhan dan bagaimana agama ini bisa membantu dalam hidup. Itu menyentuh saya dan akhirnya memutuskan untuk menjadi muslim," ujarnya.
Turunnya Alquran sebagai Jalan Naturalisasi
Di tengah euphoria pemberitaan kemenangan Timnas Indonesia di Hanoi Vietnam, penulis menghadiri sebuah acara lazimnya salah satu ritual Bulan Suci Ramadhan, peringatan Nuzulul Quran.
Malam turunnya kitab suci umat Islam. Hal inilah yang menyebabkan salah satu keistimewaan Bulan Ramadhan. Dalam ceramahnya yang sedikit kocak dan penuh canda, Sang Ustadz berkisah bahwa asal usul Manusia dan kemana manusia akan kembali. Manusia yang di awali oleh pasangan Nabi Adam dan Hawa, aslinya berhabitat di Surga.
Namun karena “terlalu” manja, akhirnya di turunkan ke Bumi. Dan adapun salah satu fungsi Al Quran menjadi penuntun manusia agar bisa kembali ke habitat aslinya. Taman Surga. Tidak tersesat dan salah langkah sehingga terjeremus ke neraka. Tempat yang disiapkan bagi orang yang tidak mau mengikuti jalan lurus yang di tuntun oleh Al-quran.
Lalu apa kaitanya dengan Kisah Naturalisasi Pemain Timnas? Jika diilustrasikan kisah dan makna Nuzulul Quran, maka sesungguhnya “naturalisasi” ini adalah salah satu cara para pemain keturunan untuk kembali ke habitat tanah leluhurnya Indonesia.
Menuntun kembali para pemain tersebut untuk kembali menyambung silaturahim kepada leluhurnya di tanah air.
Negeri yang penuh dengan pesona dan keindahan. Serpihan surga yang jatuh ke bumi. Negeri yang penuh dengan cerita paradoks….karena banyak hal keanehan dan kelucuan itu hanya ada di Indonesia.
Yang membuat orang makin sulit melupakan dan makin mencintai negeri ini… Meminjam salah satu tagline salah satu Capres: "Wakanda No More, Indonesia Forever"
Selamat menjemput lailatul qodar, malam turunnya alquran dan kebaikan seribu bulan…yang akan menuntun kita untuk menaturalisasi unutk kembali ke rumah tinggal kita sesungghnya..Jannah. Surga. Amiin.
Editor : Redaksi Lombok Post