Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Meraba dan Memproyeksikan Peluang Rohmy-Musyafirin (bagian 1)

Kimda Farida • Kamis, 8 Agustus 2024 | 07:23 WIB
Jannus TH Siahaan
Jannus TH Siahaan

Oleh: Jannus TH Siahaan

(Peneliti , Dosen, Trainer dan Konsultan tema sosial, politik , komunikasi korporasi, mitigasi konflik sosial menggunakan metode kearifan lokal dan ekonomi)

 

Sebagaimana saya sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa wakil gubernur yang menantang balik gubernur berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang telah ia dampingi selama 5 tahun akan sangat sulit untuk memenangkan pertarungan elektoral.

Jawa Barat dan Sumatera Barat menjadi preseden yang tidak terbantahkan atas thesis tersebut. 

Namun dua preseden tersebut bukanlah sebuah rumus matematika politik yang baku dan kaku.

Karena di dalam dunia politik, apalagi politik elektoral lokal, budaya, karakter, dan konfigurasi politik lokal juga tidak bisa dipandang sebelah mata perannya dalam menentukan hasil akhir pentas pemilihan kepala daerah. 

Di Jawa Barat dan Sumatera Barat, perpaduan antara disiplin partai, strategi politik kandidat yang cukup sensitif terhadap peta kekuatan politik lokal sembari tetap berbalut spirit keagamaan, dan peran daya tarik personal figur yang dimajukan sebagai calon kepala daerah (calon Gubernur) berperan cukup besar dalam menentukan kemenangan. 

Perbedaan yang cukup mencolok dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah bahwa kontur politik di NTB tidak saja berbasiskan religio-kultural, tapi juga berdasarkan geografis dan demografis.

Keharusan untuk memadukan representasi antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa hampir menjadi rumus mutlak. Namun, komposisi perpaduan tersebut ternyata tidak bersifat mutlak. 

Kemenangan Zulkieflimansyah  - Sitti Rohmy Djalilah di periode pertama membuktikan bahwa calon Gubernur dari Pulau Sumbawa, yang notabene secara geografis berjumlah kurang sebanding dengan jumlah penduduk Pulau Lombok, dengan wakil Gubernur berasal  dari Pulau Lombok, tetap berpeluang untuk memenangkan pertarungan politik. 

Sehingga formula politiknya hanya terhenti pada titik perpaduan representasi dua pulau, tanpa diikuti dengan formula yang mengharuskan calon gubernur harus berasal dari Lombok dan wakil Gubernur harus berasal dari Sumbawa.

Formula baku tersebut terpenuhi oleh ketiga pasangan calon (paslon), baik Zulkieflimansyah-Suhaeli FT (Abah Uhel), Lalu Muhammad Iqbal-Indah Dhamayanti Putri (Dinda), dan Sitti Rohmy Djalilah-Musyafirin. 

Lantas mengapa Bang Zul sapaan akrab Zulkieflimansyah bisa memenangkan persaingan yang agak janggal tersebut? Hal itu terjadi karena perpaduan beberapa faktor.

Pertama, tentu karena Bang Zul berhasil mengamankan status sebagai titik keberlanjutan dari Tuan Guru Bajang (TGB), baik karena kedekatan personal maupun karena masuknya Rohmy menjadi calon wakil gubernur untuk Bang Zul. 

Dengan status sebagai penerus TGB yang dikawal oleh Rohmy di barisan wakil Gubernur, Bang Zul berhasil membuat formula "Lombok-Sumbawa" menjadi "blur". 

Basis massa TGB dan Rohmy di Lombok otomatis harus berada di barisan Zul-Rohmy, tanpa memikirkan keharusan untuk memaksakan kebakuan formula bahwa calon Gubernur harus di Lombok. 

Kedua, faktor Rohmy. Di dalam alam demokrasi berbasiskan kekuatan religius Islam seperti di Lombok, meskipun memiliki basis kekuatan organisasional yang kuat di Lombok, Rohmy yang berstatus politisi perempuan memang dianggap selayaknya berada pada barisan nomor dua, bukan nomor satu. 

Artinya, pola "Lombok-Sumbawa" berpeluang menjadi formula baku jika calon dari Lombok adalah calon kuat di satu sisi dan secara gender adalah laki-laki di sisi lain, seperti TGB misalnya.

Jika tak terdapat calon kuat dari Lombok, terutama secara personal, maka formula "Lombok-Sumbawa" berpotensi melemah tingkat validitasnya. 

Dalam konteks inilah Bang Zul mendapat momennya pada pemilihan tempo hari.

Habisnya kesempatan untuk TGB berbarengan dengan absennya figur kuat (laki-laki) yang akan menggantikannya dari Pulau Lombok (buktinya saat itu nama yang mencuat adalah Rohmy), membuat formula "Sumbawa-Lombok" mendadak menjadi "acceptable" bagi para pihak di Lombok. 

Dan ketiga, tentu karena kepiawaian (pengalaman) politik Bang Zul di satu sisi dan pesona pribadinya di sisi lain, yang merentang mulai dari pesona tingkat pendidikan, kemampuan berkomunikasi yang sangat baik sehingga berhasil membangun kemesraan politik dengan pihak mayoritas di Lombok, sampai pada kemenonjolan maskulinitas beliau di hadapan pemilih perempuan yang masih sangat menjunjung tinggi eksistensi tatanan relasional patriarkis. 

Nah, mau tak mau hal-hal tersebut di atas harus menjadi perhatian utama Paslon Rohmy-Musyafirin dalam menentukan langkah-langkah pemenangannya.

Pertama, kekecewaan gerbong politik Rohmy selama lima tahun menjadi sekrup politik "Bang Zul" harusnya menjadi salah satu asumsi utama dalam membangun strategi politik elektoral ke depan. 

Mengapa? Karena Rohmy dan Tim harus benar-benar memastikan bahwa semua gerbong politiknya, mulai dari barisan elit sampai barisan massa, yang diasumsikan sebagai salah satu faktor kemenangan Zul-Rohmy di Pilkada tempo hari, bisa  terlepas dan melepaskan diri dari gerbong politik Bang Zul. 

Namun hal ini sejatinya tidak mudah dilakukan. Pasalnya, basis organisasional pendukung Rohmy pun sebenarnya tak solid, terjadi perpecahan yang menahun yang sebenarnya telah akrab di telinga kita selama ini.

Memang,  gerbong organisasional tersebut cukup kuat di era pemerintahan TGB, namun kian friksional setelah era TGB di pemerintahan lokal. 

Sehingga cukup sulit hari ini untuk memproyeksikan kekuatan basis organisasional yang mendukung TGB dulu sebagai kekuatan organisasional Rohmy di hari ini.

Artinya, meskipun ada ikatan kekeluargaan yang erat antara Rohmy dan TGB, tapi lima tahun bersama dengan Bang Zul membuat Bang Zul juga tetap berhak mengklaim diri sebagai penerus TGB di hadapan pemilih TGB. (bersambung)

Editor : Kimda Farida
#Pilgub NTB #PBNW #TGB Zainul Majdi #Musyafirin #Hj Sitti Rohmi Djalilah