DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seni diartikan sebagai sesuatu yang halus (tentang rabaan), lembut dan tinggi (tentang suara), mungil dan elok (tentang badan). Termasuk arti seni adalah suatu keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusan, keindahan dan sebagainya), dan atau bermakna suatu karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Bahkan, seni dipahami sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa), dan dipahami pula sebagai orang yang berkesanggupan luar biasa; genius.
Kata seni dalam kamus yang sama ditemukan pula kata turunannya, berupa berkesnian (mempunyai kesenian); berseni (mempunyai rasa seni dan atau mengandung nilai seni); kesenian (perihal seni; keindahan), dan menyeni (halus, lembut dan atau berseni). Termasuk di buku rujukan berbahasa ini ditemukan ada empat puluh enam gabungan kata yang bisa melekat dengan kata seni.
Pada tulisan kali ini, saya mencoba menyoroti sisi seni Maulana Hamzanwadi (TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) dalam makna indah dan genius yang ditilik melalui dua aspek yakni; (1). Personality (pribadi), dan (2). Karya-karyanya.
Aspek pertama: sisi seni pada personality (pribadi). Untuk bagian ini, saya membagi pembahasan ke-seni-an Maulana Hamzanwadi pada: (1). Ke-seni-an (kegeniusan) beliau di bidang akademik; (2). Ke-seni-an (keindahan-keelokan) sebagai pribadi; dan (3). Ke-seni-an (keindahan) nama orang-orang terdekatnya.
Pertama, sisi seni dalam makna genius, adalah sudah masyhur dari sekian banyak riwayat melalui lisan dan tulisan akan kegeniusan Maulana saat studi di Madrasah Shaulatiyyah Makkah, di mana beliau selalu memeroleh nilai sepuluh plus bintang, yang menurut penuturan teman-teman sekelasnya (semisal Syekh Zakariyah Abdullah Bila ulama besar Tanah Suci) dan bahkan persaksian maha guru-gurunya, semua menjadi bukti tak terbantakan akan seni (genius) Sang Maha Guru kita ini selama menempuh pendidikan. Menariknya, seni (genius) saat studi dijadikan oleh Imam Syafii (mengutip kata Imam Ali bin Abi Thalib) sebagai salah satu dari enam syarat untuk bisa memeroleh ilmu (Imam az-Zarnuji di Taklim al-Muta’allim).
Kedua, sisi seni (dalam makna indah-elok) pribadi Maulana Hamzanwadi nampak pada pakaian dan sematan nama untuk dirinya. Pakaian keseharian saat mengajar maupun pakaian kebesarannya, selalu terlihat indah dipandang, terelebih saat memakai baju dan serban hadiah dari gurunya. Bahkan menurut penuturan guru saya yang alumni Ma’had, setiap pergantian warna baju yang dikenakan Maulana itu mengandung arti dan pesan atau makna tersendiri. Warna baju pantulan hatinya.
Dari segi nama, beliau masyhur bernama asli Muhammad Saggaf (orang terpuji yang menjadi atap-pelindung) dan nama ini berganti ketika di Makkah menjadi Muhammad Zainuddin (orang terpuji yang menjadi perhiasan agama). Termasuk nama Hamzanwadi sendiri yang menjadi akronim dari HAji Muhammad ZAinuddin Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah. Itu sekian seni dari nama-nama beliau yang seakan memantulkan pesan, silakan menjadi sosok terpuji yang keterpujiannya memenuhi awan (bak atap) dan silakan hadir sebagai perhiasan agama dari bahtera perjuangan bernama Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).
Ketiga, sisi seni (indah) pun terlihat dari sekian nama dari orang-orang yang terdekat dengan Maulana, yang (seakan) sengaja disulam Ilahi untuk Maulana Hamzanwadi. Ayah beliau bernama Abdul Madjid (hamba Yang Maha Mulia), ibunya Halimatus Sa’diyah (sosok lembut yang selalu menghadirkan rasa bahagia), juga nama dua istri yang padanya beliau peroleh keturunan yakni Jauhariyah (identik nama permata) dan Siti Rahmatullah (kasih sayang Allah), termasuk kedua putrinya Rauhun dan Raihanun dua nama yang bermakna ketentraman dan rezeki-karunia sebuah nama harum yang termaktub bergandengan dalam satu dalam Surah al-Waqiah.
Keindahan nama-nama orang tersebut memantulkan kesan indah, bahwa Allah Yang Maha Mulia (Abdul Madjid) menginginkan, semoga Maulana Hamzanwadi lahir menjadi sosok yang lembut lagi bahagia (Halimatussa’diyah) dalam berdakwah dan berjuang untuk agama serta bangsa, yang semoga tumbuh penuh pesona bak mutiara (Jauhariah) dan dengan kasih sayang Allah (Rahmatullah) ia bisa memeroleh ketentraman (Rauhun) sebagai sebaik-baik nikmat atau karunia (Raihanun) yang menyelimuti sepanjang hayat dan perjuangannya. Semua itu tergambar dalam riwayat hidup Maulana Hamzanwadi.
Aspek kedua, sisi seni pada karya-karyanya. Ke-seni-an dalam makna genius dan indah pun nampak jelas pada karya-karya Sang Maulana Hamzanwadi, sehingga ini bisa memantulkan pesona dan menjadi inspirasi. Untuk sorotan seni dalam karya-karya beliau saya akan menyebut sebagiannya secara berurutan, yakni: (1). Medium perjuangan seperti Musala, Madrasah, Perguruan Tinggi, dan atau organisasinya; dan (2). Karya tulis yang bisa kita saksikan semisal di Hizib Nahdlatul Wathan dan Hizib Nahdlatul Banat, Wasiat Renungan Masa, Lagu-lagu perjuangan, dan Kitab-kitab karya lainnya.
Pertama, menilik sisi seni Maulana Hamzanwadi bisa kita perhatikan dari medium perjuangannya seperti Musala al-Mujahidin (markas para pejuang), Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang pada kedua lembaga ini berpadu semangat juang membela agama dan mempertahankan bangsa, dan Perguruan Tinggi bernama Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) sebuah lembaga basis kajian alquran dan hadits, serta organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai bahtera besar dalam perjuangan.
Pesan dan kesan yang (sekana) hendak diisyaratkan Maulana Hamzanwadi melalui urutan nama-nama ini, adalah silakan kalian menjadi anjum (bintang-bintang) atau pejuang-pejuang (al-Mujahidin) yang membela agama dan negara dalam satu tarikan nafas (NWDI-NBDI), dengan tetap bepandu dan mengambil semangat atau spirit perjuangan melalui alquran dan sabda nabi (MDQH) dalam satu bahtera besar perjuangan (NW). Demikian seni-nya karya tersebut yang tidak akan bisa dilahirkan kecuali oleh “seniman” atau orang yang genius dan senang dengan keindahan. Lihat saja akronim-akronim yang dibuat Maulana itu selalu mudah dan enak disebut. Indah dan menarik.
Kedua, Menggali ke-seni-an Maulana Hamzanwadi melalui karya tulis, sungguh sangat banyak hal bisa kita temukan padanya. Duo Hizib yang beliau susun sendiri, yang setelah pembacaan Fatihah-fatihah, Selawat yang enam, Yasin lalu Hizib (ikhtisharnya), maka untuk sempurnanya bacaan hizib dilanjutkan dengan membaca bait-bait syair yang berisi munajat dan doa, yang ditulis oleh para ulama sufi yang arif billah (mengenal Allah).
Ingat, hizib tersebut meski memuat doa dan munajat dari sekian bait-bait syair, ia pun tak luput dibalut seni (keindahan) melalui dendangan lagu versi beliau sendiri dengan memilih sendiri ragam bahar dalam ilmu ‘arud, yang kalau kita baca hizib ini dengan pelan sembari meresapi sepenuh hati, maka kita akan terpana, terpesona dan merinding mendengar gubahan-gubahan bait syairnya, sebut saja semisal Doa Pusaka.
Sisi seni Maulana Hamzanwadi juga sangat khas terlihat pada penciptaan Wasiat Renungan Masa. Padanya mengandung ke-indah-an tata bahasa dengan kedalaman makna yang tidak mudah dicerna kecuali bagi orang yang genius (penulis sendiri bercerita bahwa ada Profesor dari Jogjakarta yang sangat kagum dengan wasiat ini) dan memang lahirnya wasiat ini menunjukkan betapa geinus-nya Sang Maha Guru kita ini. Bait-bait wasiat ini pun sering ditampilkan indah oleh paduan suara dari thullab dan thalibat Mahad pada momen-momen organisasi seperti Hultah NWDI.
Lagu-lagu perjuangan yang beliau karang sendiri juga semua lahir indah dari kegeniusan dan kebeningan jiwanya, hingga lagu-lagu itu tetap hit di masa lahirnya bahkan samapai sekarang. Sebut saja misalnya, Ta’sis NWDI (Anti Ya Pancor Biladi), Pacu Gamaq, Sakit Jahil, Imamuna Syafii, hingga Mars Nahdlatul Wathan dan Ya Fata Sasak serta lagu-lagu lainnya (lihat buku: Demi Umat Demi Bangsa oleh Tim Pengusul Pahlawan Hamzanwadi).
Titik seni (genius dan indah) dari sekian lagu gubahan Maulana itu juga disebabkan memakai aneka bahasa, yakni dari bahasa daerah, bahasa Indoensia dan termasuk Bahasa Arab. Muatannya pun ada tentang agama, pendidikan, moralitas, nasionalisme hingga pesan-pesan berorganisasi. Sederet karya yang pasti sulit lahir kecuali melalui tangan dingin orang-orang genius dan menyukai keindahan.
Termasuk, kita bisa mengenal betapa seni-nya Maulana pada karya berupa kitab semisal kitab Batu Ngompal (Ilmu Tajwid) atau kitab berbahasa Arab semisal Nahdhah az-Zainiyah yang dibuat dalam bentuk nazham (syair) sehingga biasa kita baca sambil berdendang saat di Ma’had sebelum pengajian umum.
Menariknya. Sisi-sisi seni Maulana ini, sedikit banyak mengalir terwarisi kepada cucu pertama beliau, yakni Umi Rohmi (Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah, M.Pd.) yang secara terbuka sering menyanyi, bahkan ada lagu yang diaransemen (disesuaikan komposisinya) dari Wasiat Renungan Masa yang dinyanyikannya bersama Penyanyi Profesional Sulis Lida, pun Cagub NTB ini sering tertangkap bermain gending, termasuk umi selaku Rektor Universitas Hamzanwadi yang padanya ia mendirikan Jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari dan Musik).
Walhasil. Sisi-sisi seni Maulana Hamzanwadi yang tertata indah sebagai (salah satu) bukti kegeniusan pribadinya dalam sederet karya-karya agungnya terawat dan terwarisi hingga ke cucunya. Sebuah pribadi dan karya yang mengejewantahkan sabda nabi, Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. (HR. Imam Muslim). Wa Allahu A’lam! (*)
*) Rusli Nasir, Sekretaris PC NWDI Kecamatan Kediri
Editor : Rury Anjas Andita