LombokPost-Dalam setiap era, hadir pemimpin dengan gayanya masing-masing. Ada yang bersinar terang, memukau laksana kilatan cahaya kamera, menarik, segera tampak, dan sering kali memuaskan dahaga publik akan perhatian.
Namun ada pula pemimpin yang bekerja dalam senyap, membangun fondasi dengan telaten, laksana api kecil yang menyala dalam tungku: tidak memamerkan kobaran, tetapi memastikan dapur bangsa tetap hangat dan berjalan.
Gaya kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal lebih menyerupai yang kedua.Bukan karena tidak mampu tampil di permukaan, tetapi karena ia tahu: tak semua yang gegap-gempita menghasilkan perubahan hakiki.
Ia memahami bahwa memimpin bukan semata menjawab desakan populis, tapi merancang arah yang berakar, meski tak segera dipahami.
Sebagian publik membandingkan beliau dengan figur seperti Kang Dedy Mulyadi, yang memang memiliki daya tarik populis yang luar biasa dan pendekatan yang langsung menyentuh permukaan kebutuhan masyarakat. Saya memahami apresiasi terhadap model tersebut.
Namun kita juga perlu memberi ruang bagi gaya kepemimpinan yang berbeda namun substansial seperti Miq Iqbal.
Lalu Muhamad Iqbal lebih mirip Angela Merkel, pemimpin yang tak pernah bermain drama, tak meminjam emosi publik, tapi perlahan dan konsisten menyusun ulang tatanan. Merkel memimpin Jerman melewati krisis ekonomi dan migrasi terbesar dalam sejarah Eropa, bukan dengan retorika, tapi dengan keteguhan prinsip, konsistensi kebijakan, dan kekuatan diam.
Lalu Muhamad Iqbal tidak banyak bicara, sering disepelekan, tetapi diam-diam membenahi hal-hal krusial dari dalam. Banyak tidak menyadari, bahwa Iqbal mewarisi tradisi birokrasi diplomasi yang memerlukan perhitungan matang dan komunikasi lintas struktur, bukan hanya retorika satu arah.
Kepemimpinannya bukan tentang 'siapa paling cepat terlihat’, melainkan ‘siapa yang paling dalam bekerja’.
Kritik bahwa Iqbal terjebak dalam seremoni justru dapat dibaca berbeda: ia sedang menanam akar, membangun legitimasi, memperkuat jaringan antar-aktor daerah dan pusat, serta memastikan kehadirannya diterima di berbagai lapisan. Di tengah transisi kepemimpinan, langkah-langkah ini bukan basa-basi, tetapi strategi taktis yang menghindari turbulensi awal.
Analoginya begini:
Iqbal bukan petugas pemadam kebakaran yang memadamkan api di hadapan kamera, tapi arsitek yang memikirkan ulang tata letak kota agar api tidak mudah menyala kembali.
Gaya seperti ini memang tidak langsung menimbulkan tepuk tangan, tapi ia menyelamatkan generasi.
Ia paham, membangun NTB bukan hanya soal popularitas, tetapi keberlanjutan. Maka ia memilih fokus pada isu-isu struktural: penyehatan APBD, meritokrasi ASN, pembangunan pariwisata berkelanjutan, hingga penguatan literasi masyarakat. Ini bukan langkah pragmatis, ini visi.
Jika kita hanya menilai keberhasilan dari siapa yang cepat merespon sorotan publik, kita bisa terjebak dalam demokrasi visual: mengutamakan yang terlihat, bukan yang berdampak. Iqbal tidak sedang berlomba menjadi bintang panggung. Ia sedang menulis naskah pertunjukan masa depan.
Dan bagi saya, itulah bentuk kepemimpinan yang paling berani di tengah zaman yang penuh distraksi.
Rumah Pariwisata, Subuh 20 April 2025
Taufan Rahmadi, Dewan Pakar GSN Bid Pariwisata
Editor : Alfian Yusni