Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rinjani, Everest, dan Kepingan Surga yang Dicapai dengan Bertaruh Nyawa

Hamdani Wathoni • Jumat, 27 Juni 2025 | 22:50 WIB
Wartawan Lombok Post Hamdani Wathoni saat mendaki Rinjani beberapa waktu lalu.
Wartawan Lombok Post Hamdani Wathoni saat mendaki Rinjani beberapa waktu lalu.

LombokPost - "Siapapun yang pernah datang ke Rinjani, pasti akan kembali lagi. Rinjani itu candu, tidak cukup hanya satu kali menikmatinya."

Setidaknya itulah kalimat yang ada di pikiran saya dan sebagian besar pendaki yang pernah datang ke Rinjani. Bahkan saya pernah bertemu dengan pendaki asal Jakarta, Bambang namanya. Dia mengaku sudah delapan kali naik Rinjani, tapi tidak pernah bosan. "Hampir setiap tahun saya ke sini," akunya kepada saya.

Tapi jangan anggap Rinjani tempat wisata. Rinjani lebih dari sekedar itu. Di sini kita akan menemukan jati diri. Mengenal siapa diri kita dan teman kita sesungguhnya.

Rinjani juga bisa dikatakan antara hidup dan mati. Salah sedikit, nyawa taruhan. Dua kali mendaki Rinjani tepatnya di tahun 2016 dan 2024 lalu. Dua kali pendakian itu, saya belum bisa sampai puncak.

Pernah hampir sampai leter E di area pendakian yang berpasir. Maju satu langkah, turun dua langkah. Tenaga habis. Tak bisa dipaksakan. Pemandu menyarankan datang lain kali untuk sampai puncak. Tidak memasakan diri. Bisa berakibat fatal. Selain berisiko terhadap diri sendiri, bisa menyusahkan orang lain.

Apalagi dalam kondisi cuaca ekstrem di puncak yang bisa berubah kapan saja dalam hitungan jam bahkan menit. Risiko badai dan angin kencang sulit diprediksi. Kalau ini sudah terjadi, tak usah memaksakan diri. Keselamatan yang utama.

Dengan segala keindahannya, Rinjani untuk kesekian kalinya viral karena seorang pendaki asal Brasil Juliana meninggal dunia di Rinjani. Turut berbelasungkawa terhadap keluarga Juliana. Dia adalah korban ke sekian yang meninggal saat mendaki Rinjani.

Dengan meninggalnya Juliana, banyak perbincangan kemudian muncul menyorot mengenai keamanan dan upaya penyelamatan yang dilakukan. Apakah upaya, teknologi, sistem evakuasi dan SDM tim penyelamatan kita sudah baik atau tidak.

Hal ini menarik dikupas secara mendalam. Namun tujuannya bukan saling menyalahkan. Tetapi bagaimana terus melakukan penyempurnaan agar meminimalisir risiko kecelakaan. Sehingga semua pihak harus membuka hati selapang-lapangnya belajar dari apa yang dialami Juliana.

Saya meyakini Tim SAR kita sudah melakukan yang terbaik. Kebetulan saya kenal dan berteman akrab dengan Tim Basarnas Mataram. Mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan mengutamakan nyawa orang lain dibanding nyawanya.

Menyelam di laut mencari orang hilang, mendaki tebing, hingga menerobos hutan rela mereka lakukan. Dedikasinya tak perlu diragukan.

Tetapi, ada satu hal yang menarik dalam perbincangan beberapa hari terakhir ini. Banyak orang yang kemudian membandingkan teknologi dan tim penyelamat kita yang ada di NTB dan Indonesia umumnya dengan yang ada di luar negeri.

Ini juga menarik untuk dibahas. Kebetulan saya juga pernah menonton film Everest. Film ini menceritakan tragedi pendakian Gunung Everest pada tahun 1996, di mana beberapa tim pendaki terjebak dalam badai salju yang mematikan.

Film ini menggambarkan upaya bertahan hidup dari dua kelompok ekspedisi yang dipimpin oleh Rob Hall dan Scott Fischer. Beberapa detail film terinspirasi dari memoar dan catatan para pendaki yang selamat, serta rekaman audio antara pendaki dan base camp.

Film ini secara umum setia pada peristiwa bencana dan menekankan kepahlawanan para pendaki yang terlibat dalam upaya bertahan hidup di tengah badai yang mematikan. Namun endingnya, beberapa pendaki hingga pemandu meninggal dunia.

Inti yang saya tangkap dalam film ini, tidak ada yang benar - benar aman di atas gunung. Risiko kecelakaan yang bisa menyebabkan kehilangan nyawa bisa terjadi kapan saja.

Tak perlu menyalahkan siapapun. Ketika kita sudah bertekad naik Rinjani atau gunung mana pun yang ada di Indonesia maupun dunia, maka kita harus sadar, kita bisa bernasip sama seperti Juliana.

Maka hal yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mengikuti arahan pemandu atau mereka yang berpengalaman untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Dengan penuh kesadaran dan segala risiko yang harus dihadapi, saya berharap bisa kembali ke Rinjani lagi. Di pendakian yang ketiga nanti, saya berharap bisa menaklukkan puncak. Insya Allah.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Indonesia #rinjani #gunung #everest #Lombok