LombokPost–Mendaki gunung Rinjani atau gunung pada umumnya tak sekadar aktivitas fisik atau tantangan adrenalin. Dalam perspektif keagamaan, khususnya Islam, mendaki gunung dan menjelajahi alam merupakan bentuk tadabbur atau perenungan atas kebesaran ciptaan Allah SWT.
Beberapa ayat dalam Alquran mengajak manusia untuk merenungi alam semesta. Gunung, laut, langit, dan bumi disebut berulang kali sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berpikir. Dalam Surah Qaf ayat 7 misalnya, Allah berfirman: “Dan bumi yang Kami hamparkan, serta Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kokoh.”
Gunung adalah bagian dari ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta). Ketika kita mendaki, kita tidak hanya menguatkan fisik, tetapi juga memperkuat hati dengan rasa syukur dan kekaguman terhadap keagungan ciptaan Allah.
Aktivitas mendaki bisa menjadi sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karena mendaki membutuhkan kesabaran, ketahanan, dan keikhlasan. Setiap langkah menuju puncak, kita belajar ikhtiar dan tawakal. Bahkan saat fisik lelah, mental diuji, di sanalah jiwa dibentuk.
Salah satu pemuda pecinta alam, Ahmad Rijal, yang rutin mendaki Gunung Rinjani menuturkan bahwa setiap kali mendaki, ia merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.
“Ketika sampai di puncak, saya terdiam lama. Langit luas, awan di bawah, suara angin. Saya merasa kecil tapi sekaligus diberi kehormatan bisa menikmati ini semua,” ujarnya.
Selain itu, Rasulullah SAW pun tercatat beberapa kali memilih tempat-tempat sunyi dan tinggi untuk berkhalwat, seperti di Gua Hira.
Meski bukan gunung dalam arti tempat rekreasi, tetapi hikmah dari memilih tempat sunyi dan alami tetap relevan. Kadang kita butuh menjauh dari hiruk-pikuk dunia agar bisa lebih jernih dalam melihat hidup.
Dalam pandangan tasawuf, alam merupakan cermin tajalli atau manifestasi sifat-sifat Tuhan. Keindahan, kemegahan, dan keseimbangan yang tampak di pegunungan menjadi isyarat bagi manusia agar lebih sadar akan keteraturan dan kebijaksanaan-Nya.
Namun, para ulama juga mengingatkan pentingnya menjaga adab saat mendaki. Tidak menyombongkan diri, menjaga kelestarian lingkungan, dan tidak meninggalkan sampah adalah bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi.
Mendaki gunung pun menjadi ajakan spiritual. Bukan hanya menaklukkan ketinggian secara fisik, tetapi juga menaklukkan kesombongan, memperkuat keimanan, dan menajamkan rasa syukur atas segala karunia-Nya yang terbentang luas di alam semesta ini.
Editor : Akbar Sirinawa