Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Lombok Post Online • Kamis, 25 September 2025 | 15:30 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis berita resmi pada 5 Agustus 2025 tentang kondisi perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat pada Triwulan II 2025 mengalami kontraksi sebesar -0,82 persen (year on year).

Jika dibandingkan dengan Triwulan I 2025, ekonomi NTB sebenarnya tumbuh cukup tinggi, yaitu 6,56 persen (quarter to quarter).

Bagi sebagian masyarakat, angka kontraksi itu terasa seperti kabar kurang menyenangkan. Apalagi, di saat yang sama ekonomi nasional justru tumbuh positif 5,12 persen.

Wajar jika muncul pertanyaan: mengapa NTB berbeda arah? Apakah ini berarti ekonomi kita memburuk?

Nah, bagaimana menjembatani jarak antara angka statistik dan persepsi publik?

Membaca Angka, Memahami Realitas

Pertama-tama, penting untuk dipahami bahwa statistik bekerja seperti kamera. Statistik memotret kondisi ekonomi dengan metodologi baku, tanpa menambah atau mengurangi. Potret itu berskala makro: keseluruhan aktivitas ekonomi masyarakat, dari pertanian, perdagangan, hingga tambang.

Pertumbuhan ekonomi NTB mengalami kontraksi 0,82 persen, artinya total nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi yang terjadi di NTB lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar hitungan kertas, tetapi refleksi dari dinamika nyata di lapangan.

Namun, bukan berarti kontraksi ini harus ditafsirkan sebagai kabar buruk sepenuhnya. Justru sebaliknya, ini adalah alarm sehat yang memberi sinyal bahwa NTB perlu segera menata strategi baru.

Salah satu metodologi utama yang digunakan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi adalah System of National Accounts (SNA) dalam menghitung Produk Domestik Bruto (PDB) untuk nasional.

Standar ini berlaku internasional, sehingga hasil potret Indonesia dapat dibandingkan dengan negara lain.

Data yang dihasilkan BPS berperan vital sebagai dasar perencanaan pembangunan, penyusunan anggaran negara, dan evaluasi kebijakan. Tanpa data yang sahih, pemerintah berjalan tanpa arah.

Dua Penyebab Utama Kontraksi

Ada dua faktor besar yang menjadi penyebab kontraksi ekonomi NTB pada Triwulan II 2025. Sektor pertambangan, yang selama ini menjadi tulang punggung NTB, anjlok -29,93 persen (y-on-y). Karena kontribusinya besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), penurunan sedalam ini langsung menyeret kinerja keseluruhan ekonomi daerah.

Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa juga terkontraksi dalam, yakni -40,02 persen (y-on-y). Ekspor NTB masih sangat bertumpu pada hasil tambang, sehingga ketika tambang turun, ekspor ikut lesu. Dengan dua faktor ini saja, sudah cukup menjelaskan mengapa PDRB NTB tercatat mengalami kontraksi.

 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Modal Besar bagi NTB ke Depan           

Meski headline menyebut “kontraksi”, jika kita mau membaca lebih dalam, ada banyak kabar positif yang bisa menjadi modal besar bagi NTB ke depan. Sektor industri pengolahan justru tumbuh luar biasa, mencapai 66,19 persen (y-on-y). Ini menandakan ada geliat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk lokal. Industri pengolahan berpotensi menjadi lokomotif baru ekonomi NTB jika terus didorong.

Sektor pariwisata NTB menggeliat. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 8,08 persen, transportasi naik 4,03 persen, sementara sektor jasa lainnya juga meningkat. Angka ini selaras dengan meningkatnya mobilitas wisatawan ke Lombok dan Sumbawa. Peluang peningkatan potensi pariwisata akan sangat optimis apalagi dengan adanya event besar seperti MotoGP Mandalika pada awal Oktober mendatang.

Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,71 persen (y-on-y). Angka ini menunjukkan bahwa sektor pangan tetap menjadi penopang penting di NTB, bahkan ketika tambang melemah. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga naik 4,06 persen (y-on-y). Artinya, daya beli masyarakat relatif terjaga, meski ada tekanan harga dan tantangan ekonomi global.

Hal ini merupakan sinyal bahwa perekonomian NTB mulai bergerak lebih beragam. Tidak lagi hanya bergantung pada tambang, tetapi perlahan menapaki sektor unggulan lainnya seperti pariwisata, industri pengolahan, dan pertanian yang lebih kuat.

 Baca Juga: Ini Cara Bupati Lombok Tengah Undang Keramaian, Peresean Malam Hari Bawa Berkah Ekonomi

Momentum untuk Diversifikasi

Momentum ini dapat dijadikan sebagai titik balik untuk mempercepat diversifikasi ekonomi. Ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh. Pertama, penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Provinsi NTB memiliki modal besar seperti alam yang indah, budaya yang kaya, dan infrastruktur pariwisata yang semakin membaik. Jika dikelola dengan baik, sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dan memberi multiplier effect lebih luas dibanding tambang.

Kedua, upaya hilirisasi industri perlu terus didorong. Pertumbuhan industri pengolahan yang fantastis menunjukkan potensi yang menjanjikan. Hilirisasi tambang, pengolahan hasil pertanian, hingga industri makanan dan minuman lokal bisa menjadi penopang ekonomi baru. Ketiga, upaya memberikan dukungan penuh untuk UMKM dan pertanian berkelanjutan. Sektor pertanian yang stabil bisa lebih dikembangkan dengan teknologi, akses pasar, dan dukungan pembiayaan. UMKM pun perlu diperkuat agar mampu naik kelas dan bersaing, baik di pasar lokal maupun nasional.

Meneguhkan Peran Kolaborasi

Kontraksi ekonomi NTB di Triwulan II 2025 tidak boleh membuat kita pesimis. Justru di balik angka negatif ini, ada peluang besar untuk membangun ekonomi yang lebih tangguh. Pertumbuhan industri pengolahan, pariwisata, dan konsumsi rumah tangga adalah kabar baik yang harus terus ditingkatkan kontribusinya terhadap perekonomian untuk membangun struktur ekonomi yang lebih beragam, inklusif, dan berkelanjutan.

Penting pula disadari bahwa transformasi ekonomi NTB tidak bisa ditopang oleh satu aktor saja. Pemerintah daerah memang berperan sebagai penggerak utama melalui regulasi, program hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur. Namun, keberhasilan nyata hanya akan terwujud bila ada kolaborasi erat dengan sektor swasta, akademisi, komunitas, dan media.

Dunia usaha, misalnya, bisa menjadi motor investasi di sektor pariwisata, manufaktur, hingga energi terbarukan. Perguruan tinggi dan lembaga riset dapat menyumbang inovasi, mulai dari teknologi pengolahan hasil pertanian hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Media pun perlu memainkan peran strategis, bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi juga sebagai penggerak literasi data publik.

Ilustrasi Ekonomi Berkelanjutan
Ilustrasi Ekonomi Berkelanjutan

Selain itu, masyarakat NTB sendiri adalah kunci. Partisipasi aktif warga, baik sebagai pelaku usaha, pekerja, maupun masyarakat sebagai konsumen, akan mempercepat lahirnya ekonomi yang lebih inklusif. Ketika petani, nelayan, pengrajin, dan pelaku UMKM diberi ruang berkembang, hasilnya tidak hanya meningkatkan PDRB, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial.

Dengan sinergi lintas pihak inilah kontraksi ekonomi bisa dibaca sebagai peluang emas. Momentum ini harus dijadikan titik awal NTB melangkah menuju ekonomi yang lebih tahan banting, adil, dan berkelanjutan.

 Baca Juga: Program MBG di 3T, Dari Pemenuhan Gizi hingga Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Dari Angka ke Harapan

Mari terus berbenah bersama agar pariwisata terus tumbuh, industri pengolahan makin kuat, UMKM berdaya saing, dan pertanian berkelanjutan mendapat dukungan penuh. NTB tidak hanya bisa bangkit dari kontraksi, tetapi juga menjadi model transformasi ekonomi daerah yang berhasil. Karena pada akhirnya, data adalah peta. Data menuntun kita menuju jalan baru, lebih sejahtera, lebih berkelanjutan. Kontraksi ekonomi NTB hari ini hanyalah titik koma, bukan titik akhir. (Muhammad Thoriq Dwi Alfian (Mahasiswa Polstat STIS) dan Hertina Yusnissa (BPS Provinsi NTB))

Editor : Pujo Nugroho
#BPS #statistik #publik #kontraksi #Ekonomi #kebijakan