LombokPost - Provinsi NTB memiliki potensi laut yang luar biasa. Yakni memiliki sembilan kawasan konservasi perairan terbanyak se-Indonesia.
Di antaranya, Taman Wisata Alam Pulau Moyo, Taman Wisata Alam Pulau Satonda, Kawasan Konservasi Perairan Teluk Cempi dan Perairan Sekitarnya, KK Perairan Pulau Lipan, KK Perairan Pulau Rakit, KK Perairan Gili Sulat, KK Perairan Pulau Liang dan Pulau Ngali, KK Perairan Gili Balu, KK Perairan Gili Lawang.
Berdasarkan data Buku Kapal Perikanan (BKP), luas perairan laut Provinsi NTB mencapai 29.159 kilometer persegi dengan panjang garis pantai 2.333 kilometer.
Selain cukup luas, wilayah laut NTB juga kaya akan sumber daya. Potensi hasil tangkap perikanan laut NTB yang tercatat di Data Dinas Kelautan dan Perikanan NTB mencapai 185.518 ton per tahun. Sepanjang tahun 2024, BPS juga mencatat bahwa nilai Produksi Perikanan Tangkap NTB mencapai lebih dari 255 ribu ton dengan nilai produksi perikanan sebesar Rp 4,7 triliun.
Selain itu, NTB menjadi salah satu lumbung rumput laut nasional dengan kontribusi ribuan ton dari Lombok Timur, Bima, dan Dompu.
Di sektor pariwisata, hingga Juli 2025 jumlah kunjungan wisatawan ke NTB sudah mencapai 1,3 juta orang, dengan peningkatan signifikan di Lombok Utara, Bima, dan Lombok Timur.
Baca Juga: Dukung Investasi Green dan Blue Economy untuk Ekonomi Berkelanjutan
Potensi Laut yang Besar
Potensi komoditas hasil laut juga menjadi salah satu tulang punggung ekspor NTB. Empat kelompok komoditas ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada Bulan Januari-Juli 2025 adalah tembaga sebesar USD 284,21 juta (87,71 persen), perhiasan/permata (mutiara) sebesar USD 14,87 juta (4,59 persen), ikan dan udang sebesar USD 12,1 juta (3,73 persen), daging dan ikan olahan sebesar USD 5,3 juta (1,62 persen). Bahkan pada Juli 2025 ekspor rumput laut NTB tercatat sebesar USD 23.808.
Angka-angka ini memberi pesan jelas bahwa NTB duduk di atas “tambang emas biru”. Namun, apakah potensi besar ini sudah benar-benar dimanfaatkan secara berkelanjutan? Di sinilah konsep blue economy atau ekonomi biru menjadi penting.
Blue economy adalah konsep yang menggabungkan pemanfaatan sumber daya laut dengan pendekatan berkelanjutan. Konsep tersebut mengacu pada pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian, kesejahteraan masyarakat lokal, dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Bagi NTB, blue economy bukan hanya opsi, melainkan jalan strategis untuk memastikan pembangunan yang bertumpu pada kekayaan laut yang dikelola secara bijak.
Potensi hasil tangkap perikanan laut NTB sebesar 185.518 ton per tahun (Dinas Kelautan dan Perikanan NTB). Potensi laut lainnya adalah produksi ikan tuna tahun 2022 NTB 357,7 ton. Hal ini disebabkan NTB berada di jalur migrasi tuna yang potensial. Potensi hasil tangkap ini dapat ditingkatkan dengan peningkatan armada, teknologi, dan akses pasar, serta perlu adanya strategi maksimal untuk menjadikan tuna sebagai komoditas unggulan. Upaya penguatan teknologi tangkap, cold storage, dan tata kelola pasar akan meningkatkan potensi perikanan NTB.
NTP Perikanan Meningkat
Berdasarkan data BPS NTB, Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor perikanan pada Agustus 2025 tercatat 108,40, naik 0,67 persen dibandingkan Juli 2025 (107,68). Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan di NTB, seiring meningkatnya harga jual ikan di pasar.
Peluang peningkatan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan di NTB akan semakin meningkat dengan adanya intervensi kebijakan melalui perbaikan rantai pasok, akses permodalan, dan stabilisasi harga agar kesejahteraan nelayan tidak mudah goyah akibat fluktuasi pasar. Dalam kerangka blue economy, peningkatan nilai tambah dari produk perikanan akan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan kenaikan NTP.
Budi Daya Laut sebagai Motor Ekonomi Pesisir
Rumput laut dari Lombok Timur, Bima, dan Dompu menjadi salah satu penyumbang terbesar produksi perikanan budidaya NTB. Namun, sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah tanpa pengolahan, membuat nilai tambah rendah. Data BPS menunjukkan produksi perikanan budidaya NTB per tahun mencapai ribuan ton, tapi kontribusi terhadap PDRB belum maksimal karena rantai pasok dan hilirisasi lemah. Dengan mendorong industri pengolahan rumput laut dan udang, NTB bisa meningkatkan nilai ekspor sekaligus memperkuat posisi tawar petani pesisir.
Wisata Bahari sebagai Andalan Baru
Jumlah kunjungan wisatawan ke NTB hingga Juli 2025 mencapai 1,325 juta orang, meningkat pesat dari tahun sebelumnya. Destinasi seperti Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno tetap menjadi magnet utama. Kabupaten Lombok Utara mengalami lonjakan kunjungan hingga 93,44 persen, disusul Kabupaten Bima (65,16 persen) dan Lombok Timur (62,58 persen). Angka ini menunjukkan wisata bahari punya daya tarik kuat.
Salah satu hasil studi nilai ekonomi wisata hiu paus di Teluk Saleh, khususnya di Desa Labuhan Jambu, pada 2019, yang melibatkan 108 responden pelaku wisata, menunjukkan bahwa estimasi nilai ekonomi yang berdampak kepada masyarakat lokal dari pengeluaran wisatawan hiu paus sebesar Rp327 juta (termasuk Rp21 juta kontribusi untuk konservasi).
Baca Juga: Target Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen untuk NTB Dinilai Tidak Realistis
Strategi Inklusif Blue Economy
NTB memiliki potensi energi terbarukan dari arus dan gelombang laut, terutama di wilayah Selat Alas dan perairan sekitar Lombok Timur. Mangrove, padang lamun, dan terumbu karang di NTB berperan penting dalam menyerap karbon dan melindungi pesisir dari abrasi. Namun, konversi lahan untuk tambak dan pembangunan pariwisata masih sering mengancam keberadaannya. Ekonomi biru berarti memanfaatkan energi laut dan jasa ekosistem secara berimbang: bukan merusak, tapi melestarikan sambil mendatangkan manfaat ekonomi.
PDRB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha perikanan NTB Tahun 2024 sebesar Rp 7,8 triliun. Pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha ini merupakan optimisme membangun blue economy di NTB. Blue economy yang berbasis masyarakat. Misalnya, koperasi nelayan bisa diperkuat agar memiliki akses cold storage bersama.
Petani rumput laut bisa diarahkan ke industri olahan skala UMKM, bukan lagi menjual rumput laut dalam bentuk bahan mentah. Dan sektor wisata bahari bisa dikembangkan dengan prinsip ekowisata berbasis komunitas, sehingga manfaat langsung dirasakan masyarakat lokal dalam upaya membangun strategi yang lebih inklusif.
Laut adalah Masa Depan NTB
NTB memiliki modal besar untuk menjadi pionir blue economy di Indonesia. Dengan potensi hasil tangkap perikanan 185.518 ton per tahun, produksi rumput laut ribuan ton, serta lebih dari 1,3 juta wisatawan pada 2025 (jumlah tamu menginap di hotel kumulatif tahun 2025), NTB sudah memiliki fondasi kuat.
Dengan adanya upaya tata kelola yang berkelanjutan, semua potensi tersebut akan memberikan peluang NTB untuk pembangunan berbasis blue economy, memperkuat teknologi nelayan dan industri pengolahan laut, mengembangkan wisata bahari yang ramah lingkungan, melestarikan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang, dan melibatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama.
Laut adalah masa depan NTB. Mari menjadikan provinsi ini sebagai laboratorium blue economy yang membuktikan bahwa pembangunan dan kelestarian bisa berjalan seiring. Bukan hanya demi pertumbuhan ekonomi hari ini, tetapi juga demi generasi NTB yang akan datang. (*)
Editor : Pujo Nugroho