Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sesak Sendat Jalanan Mataram oleh Dr. H. Muhammad Ali, M.Si Akademisi Universitas Muhammadiyah Mataram

Nurul Hidayati • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 21:59 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Perkembangan Mataram sebagai kawasan perkotaan, 10 tahun terakhir patut diacungi jempol.

Berbagai real estate berdiri kokoh, berbagai kawasan jalan dibuka dan diperluas. Kompleks perumahan terbangun pada banyak tempat.

Lapak usaha cafe berjejer, kost-kostan berderet menambah padatnya bangunan.

Kemajuan ini, tak berarti semuanya berjalan baik. Ada keresahan pada tingkat pemaknaan lingkungan hidup.

Terutama pascabanjir bandang yang melanda kota beberapa bulan kemarin. Belum lagi soal sesak padatnya jalanan Mataram. Berbanding terbalik dengan upaya pembukaan jalan dan perluasan jalan.

Sebut saja, jalan di perempatan Pagesangan, baik arah utara maupun selatan. Tiap pagi dan sore seperti ular jalan tersendat-sendat. Pengguna jalan yang bertambah?

Bisa ya, tetapi realita juga menujukkan bahwa tiap jalan yang dibuka muncul aktivitas pada sempadan jalan hingga ke bahu jalan kiri dan kanan. Sebegitu luasnya jalan, tetap saja terasa lebar "segitu-gitu saja" sementara arus pengendara kian bertambah sesak, padat dan tersendat.

Mungkinkah dipengaruhi pula oleh pengaturan skala traffic light (lampu stopan) yang perlu diperbaharui. Kadang lampu hijaunya lama, tetapi begitu lampu merah sebentar atau sebaliknya. Ini perlu perumusan tersendiri, disesuaikan dengan rata-rata jumlah determinan pengendara yang melintas pada jalan tersebut.

Kemudian tata kelola parkir dari hasil retribusi, bagaimana mengelolanya? Bisakah ada perbaikan sarana prasarana jalan yang lebih berkemanusiaan secara berkala. Dari retribusi parkir dikembalikan dalam bentuk layanan dan kenyamanan jalan. Kini, nyaris tak ada tempat yang tak ada parkirnya.

Apa langkah kita terhadap semua itu? Sebagai yang mengamati Kebijakan Publik, saya menyoroti perkembangan Mataram sebagai berikut:
1. Perlunya aturan yang lebih ketat pada soal pembangunan real estate, sehingga pembangunan dapat dikontrol. Sekaligus mencari solusi terhadap format bangunan yang ke atas, bukan lagi ke samping. Tanah sawah di Mataram kian sempit, itu faktanya.

2. Adanya penataan serius soal jalan yang sesak, padat, dan tersendat. Ini soal kebutuhan semua warga dan aktivitas setiap hari. Nesti ada ketegasan dari Pemerintah Kota menindak pelanggaran aktivitas di pinggir jalan, khususnya yang tidak sesuai aturan. Tiap hari kita mengalami ketersesakan jalan, sementara jalan yang tersedia masih begitu luas. Ini perlu menjadi atensi prioritas.

3. Pengelolaan parkir mesti seimbang dengan penataan sarana prasarana jalan. Biaya yang dikeluarkan warga, bisa "diberikan" kembali dalam bentuk fasilitas publik penunjang, selayaknya estetika kota. Jika Pemerintah Kota Mataram ingin diapresiasi dan pemimpinnya dikenang, punya legacy yang terngiang sepanjang masa.

Ilustrasi macet.
Ilustrasi macet.

Kota adalah harapan, dari banyaknya siklus berbagai ragam, berbagai hal (kompleksitas). Jika tidak, kota kita tak lebih seperti autopilot tanpa pilot, apalagi komplementer copilot. Salam Penataan Segera.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Jalan #Pembangunan #traffic light #Mataram #pengendara