Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mataram Smart City di Tumpukan Sampah dan Bisingnya Kemacetan

Lombok Post Online • Senin, 13 Oktober 2025 | 14:19 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

oleh Lalu Aldiara Elang Sakti Ketua Umum HMI Cabang Mataram

LombokPost - MATARAM, sebagai ibu kota provinsi, merupakan simbol dan miniatur Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kota Mataram memiliki potensi besar untuk maju dan berkembang sebagai pusat ekonomi, budaya, dan pendidikan di wilayah Indonesia Timur.

Namun berbagai persoalan seperti kemacetan, sampah, dan keterbatasan infrastruktur masih menghantui kehidupan masyarakat Kota Mataram.

Maka, gagasan Mataram Smart City muncul sebagai jawaban ambisius: bagaimana sebuah kota kecil tapi dinamis bisa memanfaatkan teknologi, kebijakan, dan inovasi sosial untuk meningkatkan kualitas hidup warganya.

Konsep smart city bukan sekadar jargon teknologi atau e-government. Smart city adalah kota yang mampu mengelola sumber daya secara efisien, memudahkan interaksi masyarakat dengan pemerintah, serta menjaga kualitas lingkungan.

Di Kota Mataram, ini seyogyanya Pemerintah Kota Mataram menyediakan sistem transportasi yang terintegrasi, pelayanan publik berbasis digital, manajemen energi dan air yang efisien, hingga pengelolaan sampah dan lingkungan yang lebih bersih.

Smart city bukan hanya soal aplikasi di ponsel atau sensor digital, tapi bagaimana masyarakatnya merasakan dampak nyata dari teknologi dan kebijakan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tantangan utama Kota Mataram adalah kondisi lingkungan dan infrastruktur yang belum sepenuhnya mendukung visi smart city. Jalan-jalan utama sering tersendat oleh lalu lintas yang tidak tertata, fasilitas publik yang minim, dan pengelolaan sampah masih menjadi masalah kronis.

Menjadikan Kota Mataram sebagai smart city berarti masalah-masalah ini harus dihadapi dengan inovasi dan kebijakan nyata oleh Pemerintah Kota Mataram.

Misalnya, pengembangan sistem transportasi umum dan fasilitas publik, penataan jalur sepeda dan pejalan kaki, serta integrasi transportasi publik bisa menjadi langkah awal yang nyata serta pengaturan jadwal masuk dan pulang sekolah maupun perkantoran untuk mengurangi kemacetan di Kota Mataram di pagi hari dan sore hari.

Pilar lain dari smart city adalah partisipasi masyarakat. Teknologi memang menjadi tulang punggung, tapi masyarakat adalah jantungnya. Kota Mataram bisa mengembangkan aplikasi digital untuk laporan publik, pemantauan kualitas lingkungan, atau pengaduan pelayanan publik. Namun, aplikasi tanpa literasi digital masyarakat hanyalah pajangan. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi harus berjalan beriringan dengan inovasi teknologi. Masyarakat harus diberdayakan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar konsumen layanan.

Pembangunan Kota Mataram sebagai smart city juga harus memerhatikan kearifan lokal. Kota ini kaya budaya, sejarah, dan karakter sosial. Konsep smart city yang dipaksakan tanpa mempertimbangkan konteks lokal bisa gagal total. Misalnya, sistem pengelolaan sampah modern harus disesuaikan dengan pola perilaku masyarakat setempat. Program daur ulang atau pengomposan rumah tangga bisa dipadukan dengan edukasi berbasis komunitas, sekolah, dan tokoh masyarakat agar lebih diterima.

Selain itu, Pemerintah Kota Mataram harus memperkuat kebijakan dan regulasi. Infrastruktur digital tidak akan banyak berarti jika kebijakan publik lambat dan tidak konsisten. Integrasi antar instansi, percepatan perizinan berbasis digital, serta regulasi untuk menjaga kebersihan dan tata kota menjadi bagian dari strategi membangun smart city. Tanpa kebijakan yang kuat, semua inovasi akan terhenti di tengah jalan.

Mataram juga harus memanfaatkan peluang ekonomi dari konsep smart city. Smart city membuka ruang untuk inovasi bisnis, start-up teknologi lokal, dan layanan publik berbasis digital. Misalnya, pengembangan e-commerce lokal, layanan transportasi berbasis aplikasi, atau sistem pembayaran elektronik untuk pasar tradisional bisa memberdayakan ekonomi lokal sekaligus memperkuat ekosistem smart city. Ini akan menciptakan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Mataram Smart City di Tumpukan Sampah dan Bisingnya Kemacetan oleh Lalu Aldiara Elang Sakti Ketua Umum HMI Cabang Mataram
Mataram Smart City di Tumpukan Sampah dan Bisingnya Kemacetan oleh Lalu Aldiara Elang Sakti Ketua Umum HMI Cabang Mataram

Namun, membangun Kota Mataram sebagai smart city bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Ini adalah proses jangka panjang yang membutuhkan visi yang jelas, komitmen, serta kolaborasi lintas sektor. Teknologi hanyalah alat; kesuksesan smart city diukur dari bagaimana masyarakatnya merasakan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat masih harus menghadapi macet, sampah, dan pelayanan publik yang lambat, maka “Mataram Smart City” hanyalah symbol dan omong kosong.

Kuncinya adalah keseimbangan antara teknologi, kebijakan, dan budaya masyarakat. Smart city bukan tentang digitalisasi semata, tapi integrasi nyata antara sistem, manusia, dan lingkungan. Mataram bisa menjadi contoh smart city di Indonesia Timur jika mampu membangun fondasi yang kuat: infrastruktur memadai, kebijakan cepat dan tegas, masyarakat teredukasi, dan inovasi teknologi yang tepat guna.

Membangun Mataram Smart City berarti membayangkan kota yang nyaman, bersih, dan efisien, sekaligus memastikan bahwa setiap kebijakan dan teknologi yang diterapkan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Ini adalah tantangan besar, tapi juga peluang emas untuk menjadikan Mataram sebagai kota yang membanggakan bukan hanya di mata pemerintah atau investor, tapi di mata masyarakatnya sendiri. (*)

Editor : Kimda Farida
#transportasi #lingkungan #Mataram #kebijakan #Smart City