Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tembakau sebagai Denyut Ekonomi Nasional: Refleksi dari Pulau Lombok

Nurul Hidayati • Rabu, 15 Oktober 2025 | 16:43 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Di atas tanah Lombok yang gersang dan tiupan angin laut yang kering, lembaran demi lembaran daun tembakau menjadi salah satu tumpuan hidup masyarakat di pulau kecil ini.

Kehidupan masyarakat Pulau Lombok tidak hanya datang dari keindahan lanskap laut dan pegunungan atau keragaman biota laut semata, tetapi juga dari kepulan asap Industri Hasil Tembakau (IHT) yang telah menjadi salah satu penggerak roda perekonomian pulau ini sejak pertengahan abad ke-20.

Bagi masyarakat Lombok, tembakau bukan sekadar tanaman yang diperkenalkan oleh Belanda melalui sejarah yang kelam.

Tanaman tembakau tumbuh menjadi tradisi yang berakar dalam setiap lini kehidupan masyarakat di Pulau Lombok.

Hingga hari ini, musim panen tembakau masih menjadi salah satu momen yang paling dinantikan.

Kegembiraan warga menyambut hasil panen mengudara bersama aroma tembakau kering yang tercium di jalan-jalan setapak di depan rumah warga.

Pulau Lombok dikenal sebagai daerah penghasil tembakau jenis Virginia yang telah lama digunakan dalam industri nasional dan internasional.

Setiap tahunnya, pulau kecil ini memproduksi sekitar 45.000 ton tembakau Virginia Lombok. Jumlah ini tidak hanya menunjukkan besarnya kontribusi Lombok terhadap IHT di Indonesia, tetapi juga menggambarkan betapa banyak manusia yang terlibat, terdampak, dan bergantung pada roda perekonomian IHT.

Tembakau memberikan penghidupan kepada masyarakat Lombok melalui keberadaan industri pengeringan, jasa angkutan, tenaga kerja musiman pada masa panen, hingga munculnya pedagang-pedagang kecil di sekitar kawasan industri tembakau, terutama di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Dalam kacamata yang lebih luas, IHT juga menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi penerimaan negara setiap tahunnya. Melalui Cukai Hasil Tembakau (CHT), setidaknya APBN Indonesia menerima sekitar Rp200 triliun setiap tahun. Selanjutnya, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) juga disalurkan kembali ke daerah-daerah penghasil tembakau untuk mendukung pengembangan sektor pertanian, kesehatan, dan infrastruktur daerah tersebut.

Dari masa kolonial, pascakemerdekaan, hingga era modern yang penuh regulasi dan inovasi, eksistensi IHT tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa tembakau tidak lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya di Pulau Lombok, dalam berbagai acara keagamaan hingga perkawinan, tembakau bukan hanya pelengkap dalam keberlangsungan acara, tetapi juga menjadi bagian yang dianggap wajib disajikan di samping hidangan-hidangan tradisional di meja tamu.

Dalam konteks yang lebih utuh, tembakau telah menjadi simbol ketekunan masyarakat, sumber ekonomi daerah, serta potongan penting dari mozaik ekonomi nasional Indonesia.

Tembakau sebagai Denyut Ekonomi Nasional: Refleksi dari Pulau Lombok
Tembakau sebagai Denyut Ekonomi Nasional: Refleksi dari Pulau Lombok

Sejarah panjang industri ini masih akan terus tertulis dan bertahan, diiringi berbagai inovasi dari sisi sosial maupun ekonomi. Dari hamparan ladang Pulau Lombok yang berdebu hingga ke kas negara yang berdenyut, begitulah tembakau menorehkan sejarahnya dalam perjalanan ekonomi Indonesia.

(Innaya Amalia Santoso Writer Freelance)

Editor : Siti Aeny Maryam
#pulau #belanda #masyarakat #tembakau #Lombok