Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mencegah Stroke di Nusa Tenggara Barat dalam Rangka Hari Stroke Sedunia

Hamdani Wathoni • Selasa, 28 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Dr. dr. Rohadi, Sp.BS, Subsp.N-Onk (K)., FICS.,FINPS, SH. M.H.(Kes)
Dr. dr. Rohadi, Sp.BS, Subsp.N-Onk (K)., FICS.,FINPS, SH. M.H.(Kes)

Opini Kesehatan oleh:

DR. dr. Rohadi Sp.BS, Subsp.N-Onk (K), S.H, M.H.Kes

Ahli Bedah Saraf RSUD Provinsi NTB/Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Momentum Hari Stroke Sedunia

Setiap tanggal 29 Oktober, dunia memperingati Hari Stroke Sedunia (World Stroke Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman stroke dan pentingnya tindakan pencegahan sejak dini. Stroke bukan hanya masalah medis, melainkan juga masalah sosial dan ekonomi yang memengaruhi kualitas hidup individu dan keluarga.

Di Indonesia, stroke masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan utama, bahkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stroke mencapai 10,9 per 1.000 penduduk. Kondisi ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan survei sebelumnya.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), situasi ini juga sangat mengkhawatirkan. Perubahan gaya hidup, peningkatan konsumsi makanan olahan, kebiasaan merokok, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama meningkatnya kasus stroke. Lebih dari sekadar penyakit pada usia lanjut, stroke kini mengancam kelompok usia produktif bahkan usia yang sangat muda terutama mereka yang memiliki beban kerja tinggi dan kurang memperhatikan kesehatan.

Kondisi dan Tantangan Stroke di NTB

NTB merupakan wilayah dengan karakteristik geografis kepulauan yang menyebabkan tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan kesehatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB (2024), stroke termasuk dalam lima besar penyebab kematian tertinggi di rumah sakit umum daerah. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol tinggi, dan obesitas ditemukan pada sebagian besar pasien yang datang ke fasilitas kesehatan.

Di beberapa kabupaten di NTB banyak masyarakat yang hanya datang ke rumah sakit setelah terjadi gejala berat, seperti kelumpuhan mendadak atau penurunan kesadaran. Hal ini menunjukkan pentingnya deteksi dini (screening) yang belum optimal. Selain itu, keterbatasan fasilitas stroke unit di rumah sakit daerah menjadi kendala dalam menangani pasien secara cepat dan tepat waktu.

Faktor Risiko dan Gaya Hidup yang Berperan

Stroke terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, baik karena sumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Faktor risiko yang paling umum di NTB meliputi:

1. Hipertensi (tekanan darah tinggi)

2. Diabetes Mellitus

3. Dislipidemia (kolesterol tinggi)

4. Merokok dan konsumsi alkohol

5. Kurang aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat

Masyarakat NTB, terutama di daerah urban seperti Mataram dan Lombok Barat, kini menghadapi “epidemi gaya hidup modern” yang ditandai oleh kurangnya aktivitas fisik, pola makan cepat saji, dan stres pekerjaan. Di sisi lain, di daerah rural dan kepulauan, akses terhadap layanan kesehatan preventif masih terbatas.

Kesenjangan ini menjadikan tantangan pencegahan stroke di NTB bersifat multidimensi belum lagi masalah maldistribusi SDM Dokter dan Fasilitas terkait perawatan stroke yang menjadi masalah yang serius dan perlu diatensi oleh semua kita terutama pemerintah setempat dan stakeholder terkait.

Strategi Pencegahan dan Pendekatan Komprehensif

Pencegahan stroke dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama: pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

1. Pencegahan Primer

Fokus utama adalah menghindari faktor risiko sebelum timbul penyakit. Langkah-langkah konkret di NTB antara lain:

- Meningkatkan edukasi masyarakat melalui kampanye publik seperti 'Cegah Stroke dengan CERDIK (Cek Kesehatan Rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas Fisik, Diit Seimbang, Istirahat Cukup dan Kelola Stress'.

- Mendorong pelaksanaan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) hingga tingkat desa.

- Mengaktifkan Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular)  untuk pencegahan di setiap puskesmas untuk pemeriksaan rutin.

- Kolaborasi lintas sektor antara Dinas Kesehatan, BPJS, IDI, dan organisasi masyarakat untuk kegiatan screening Hari Stroke.

2. Pencegahan Sekunder

Ditujukan bagi mereka yang sudah memiliki faktor risiko namun belum mengalami stroke. Program yang bisa dikembangkan:

- Pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala.

- Edukasi dan pengawasan penggunaan obat antihipertensi dan antidiabetes.

- Penguatan sistem rujukan cepat (FAST: Face drooping, Arm weakness, Speech difficulty, Time to call).

3. Pencegahan Tersier

Difokuskan pada pasien pasca-stroke agar tidak terjadi kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup. Langkah-langkahnya:

- Program rehabilitasi pasca-stroke dengan melibatkan fisioterapis termasuk perkuat system home care di Masyarakat.

- Pembentukan kelompok pendamping pasien stroke di kabupaten/kota.

- Pelatihan keluarga pasien tentang perawatan di rumah dan pemantauan tekanan darah.

Peran Tenaga Kesehatan dan Pemerintah Daerah

Tenaga kesehatan di NTB memiliki peran strategis dalam mencegah stroke melalui edukasi berkelanjutan tentang gaya hidup sehat dan deteksi dini hipertensi.

Pemerintah daerah perlu memperkuat jejaring layanan stroke terpadu, antara lain dengan mengembangkan Stroke Center di rumah sakit rujukan provinsi dan kabupaten, memberikan pelatihan manajemen stroke akut, serta memanfaatkan telemedisin untuk menjangkau daerah kepulauan seperti Sumbawa, Dompu dan Bima.

Kesimpulan : Sinergi untuk NTB Bebas Stroke

Hari Stroke Sedunia bukan sekadar seremonial, tetapi pengingat bahwa pencegahan adalah kunci utama. Di NTB, upaya ini menuntut sinergi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah. Dengan menerapkan gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin, serta pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah dan gula darah, masyarakat NTB dapat menurunkan risiko stroke secara signifikan.

Pemerintah perlu memperkuat sistem layanan stroke dari hulu ke hilir, mulai dari edukasi publik, deteksi dini, penanganan cepat, hingga rehabilitasi. Melalui kesadaran kolektif, NTB dapat mewujudkan 'NTB Sehat, Bebas dari Penyakit Stroke' di masa depan

Editor : Kimda Farida
#Kesehatan #Provinsi NTB #IDI NTB #hari stroke sedunia #stroke