Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kesenjangan Budaya Politik oleh Robyan Bafadal Peminat Masalah Sosial Politik

Lombok Post Online • Jumat, 31 Oktober 2025 | 18:39 WIB

Capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming memberikan pandangan saat debat kelima Pilpres 2024.(DERY RIDWANSAH/ JAWAPOS)
Capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming memberikan pandangan saat debat kelima Pilpres 2024.(DERY RIDWANSAH/ JAWAPOS)

LombokPost - Bulan ini pemerintahan Prabowo-Gibran memasuki usia satu tahun. Setelah mengikuti pemilihan presiden beberapa kali akhirnya Prabowo memenangkan pemilihan.

Tahun 2009 berpasangan dengan Megawati sebagai Calon Wakil Presiden Prabowo kalah. Begitu pula ketika menjadi Calon Presiden di Pemilu 2014 dan 2019 Prabowo kalah dua kali.

Tahun 2014 berpasangan dengan Hatta Radjasa dan tahun 2019 berpasangan dengan Sandi Uno.

Baca Juga: Ganjar Pesan ke Kader PDIP NTB, Evaluasi Hasil 2024 dan Bekerja Keras untuk Pemilu 2029

Baru tahun 2024 Prabowo menang yang mau tidak mau diakui karena faktor Gibran.

Meski dituduh plango plongo bahkan ijazah palsu untuk mendaftar tidak bisa dipungkiri kemenangan Prabowo karena faktor Gibran dan dia anak Jokowi presiden petahana.

Petahana bisa memanfaatkan segala modal yang dimiliki untuk memenangkan pasangan yang didukungnya karena dia tidak bisa mencalonkan diri lagi.

Baca Juga: Digitalisasi Pemilu di Provinsi NTB Terkendala Infrastruktur

Pemimpin baru harapan baru biasanya begitu. Maka pasangan baru menawarkan banyak hal baru.

Dana transfer ke daerah dipangkah habis-habisan sambil memperbesar kementerian yang membantunya. Daerah diminta melakukan penghematan sementara pemerintah pusat melakukan banyak pemborosan.

Pemerintah baru menawarkan Program Makan Bergizi Gratis untuk anak sekolah. Mungkin ini semacam peningkatan pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah pada masa lalu.

Baca Juga: KPU NTB Beri Rekomendasi Evaluasi Regulasi Pemilu

Bedanya pada masa dimasak oleh dapur sekolah atau orang tua murid sehingga tidak pernah terdengar keracunan.

Sekarang makan diurus oleh pengusaha yang lucunya sebelumnya tidak pernah mengurus masalah makanan. Maka tidak heran banyak terjadi keracunan hingga tidak sedikit sekolah yang menolak menerima MBG ini. Dan masih banyak hal baru ditawarkan pemimpin baru.

Bagaimana kepuasan pemilih terhadap satu tahun pemerintahan baru? Tulisan ini mengutip satu hasil survei lembaga Poltracking. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan publik kepada kinerja setahun pemerintahan Prabowo-Gibran sebesar 78,1 persen. Responden ditanya soal penilaian terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat ini.

Hasilnya, sebanyak 78,1 persen responden menjawab puas, sedangkan sebanyak 19,3 persen mengatakan tidak puas. Sebanyak 2,6 persen memilih tidak tahu/tidak jawab. Ada gabungan tingkat kepuasan pemerintahan Prabowo-Gibran, jadi secara gabungan, Presiden Prabowo dan Wapres Gibran. 78,1 persen mengatakan puas, 19,3 persen yang tidak puas.

Di samping kepuasan itu di media sosial dapat dilihat berseliweran tagar selama setahun kepemimpinan pemerintahan baru. Pertama #kaburAjaDulu. Fenomena ini sebenarnya sudah aja sejak tahun 2023 namun mulai meningkat sejak Februari 2025. Tagar ini munculsebagai keresahan anak muda tentang kesenjangan sosial yang makin menjadi di Indonesia.

Pelemahan KPK dan pemangkasan anggaran pendidikan serta layanan publik lain demi proyek ambisius MBG presiden misalnya membuat mereka jengah. Mereka mulai mencari pekerjaan dan beasiswa ke luar negeri untuk sementara meninggalkan kepenatan di Indonesia sambil mempersiapkan diri menjadi warga global.

Jangan lupa Prabowo juga pernah kabur ke luar negeri. Setelah dipecat dari ketentaraan Prabowo kemudian menuju ke luar negeri untuk memulai karir baru di bidang baru. Prabowo baru muncul kembali menjelang Pemilihan Ketua Golkar tahun 2005 namun kalah oleh Jusuf Kalla yang menjabat sebagai Wakil Presiden kala itu. Dan menjadi ilham mendirikan Partai Gerindra yang akhirnya menjadi salah satu partai besar di Indonesia masa kini. Jadi tidak ada hubungan antara #KaburAjaDulu dengan nasionalisme karena presiden terpilih memberikan contoh.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Kedua #IndonesiaGelap. Tagar Indonesia Gelap atau #IndonesiaGelap menjadi trending topik di media sosial X pada Senin, 17 Februari 2025. Tagar Indonesia Gelap adalah slogan yang digunakan oleh warganet untuk menyoroti berbagai permasalahan dalam pemerintahan era Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tagar itu makin dikenal publik setelah pada hari itu juga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di berbagai kampus menggelar demonstrasi bertajuk Indonesia Gelap. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang tidak pro rakyat.

Tajuk Indonesia Gelap itu dimaknai sebagai ketakutan warga Indonesia terhadap nasib masa depan bangsa. Dia menilai di era kepemimpinan Prabowo ini masyarakat justru kerap dihantui isu dan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Menurut dia, pemilihan tagar itu juga untuk menunjukkan adanya kontradiksi cita-cita pemerintah terhadap generasi muda. Pemerintah ingin mencetak generasi emas 2045. Namun tindakan pemerintah saat ini justru menghambat impian itu sebab, calon generasi emas saat ini dalam posisi dikekang.

Ketiga #ResetIndonesia. Sesuai dengan asal kata reset ingin menata ulang bangsa ini. Gerakan ini ingin menata ulang Indonesia secara fundamental. Sering kali diwujudkan melalui tagar dan gerakan publik untuk mendorong reformasi di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan sosial. Gerakan ini muncul sebagai respons kritis terhadap kondisi yang dianggap tidak adil atau stagnan, dengan tujuan mewujudkan tata kelola yang lebih baik, keadilan, dan keberlanjutan. Gerakan ini lebih dari sekadar kritik, melainkan sebuah ajakan aktif untuk membangun kembali Indonesia dengan sistem yang lebih baik, mulai dari kepemilikan tanah hingga tata kelola pemerintahan.

Jadi sebenarnya apakah pemilih puas atau tidak terhadap satu tahun pemerintahan?

Mungkin masih sesuai dengan apa yang ditulis Rusadi Kantaprawira dalam bukunya Sistem Politik Indonesia  (terbit pertama kali tahun 1985). Menurutnya massa kemudian memiliki budaya politik kaula-parokial sementara elit memiliki budaya politik partisipan. Massa kemudian tidak menggunakan dengan penuh hak politiknya karena berbagai macam alasan sementara kaum elit sungguh-sungguh menggunakan hak politiknya dengan aktif sekali. Hal ini tidak lepas dari makin tingginya pendidikan yang diraih elite. Sementara massa kemudian tidak ingin aktif dalam politik atau sekadar manut saja keputusan pemerintah berkebalikan dengan elit yang kritis terhadap pemerintah.

Maka dari hasil survei di atas massa kemudian merasa puas dengan kinerja pemerintah sementara elit masih tidak puas dalam pemerintah. Mungkin itu yang bisa menjelaskan hasil survey satu tahun pemerintahan. (*)

Editor : Pujo Nugroho
#prabowo #Indonesia #presiden #petahana #Makan Bergizi Gratis