Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belajar Komunikasi Kesehatan dari Ruang Tunggu RS Universitas Airlangga

Lombok Post Online • Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB
Amanda Girizani Ghofianam Mahasiswa Program Studi Kedokteran dengan NIM 111251252, Universitas Airlangga
Amanda Girizani Ghofianam Mahasiswa Program Studi Kedokteran dengan NIM 111251252, Universitas Airlangga

LombokPost - KETIKA pertama kali saya melangkah ke Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) untuk tugas field study mata kuliah Komunikasi Kesehatan, saya tidak hanya datang sebagai mahasiswa kedokteran, tetapi juga sebagai pengamat. Saya datang dengan tujuan sederhana berupa memahami bagaimana komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien benar-benar terjadi di dunia nyata, bukan hanya di dalam buku teks. ataupun PPT dari dosen.

  1. Komunikasi di Garis Depan Pelayanan

Salah satu hal pertama yang saya perhatikan adalah interaksi petugas front office dengan pasien. Di meja registrasi, seorang petugas laki-laki menyambut pasien lansia yang tampak kebingungan mencari nomor antrean.

Dengan nada lembut, ia menjelaskan, “Bapak bisa daftar di sini dulu, nanti kami bantu cek data di sistem. Tidak perlu khawatir, nanti saya pandu sampai selesai.” Kalimat sederhana itu “tidak perlu khawatir” menjadi contoh nyata empathetic communication.

Petugas tidak hanya menyampaikan informasi administratif, tetapi juga menenangkan emosi pasien. Di sinilah saya memahami, bahwa komunikasi dalam konteks kesehatan bukan sekadar “transfer data,” melainkan “transfer rasa aman.”

Namun, saya juga melihat tantangan. Ketika antrean mulai menumpuk, tempo percakapan berubah menjadi lebih cepat, dan beberapa pasien tampak kebingungan dengan istilah medis yang  digunakan. Di titik ini, saya menyadari  pentingnya communication pacing menyesuaikan kecepatan dan bahasa agar pasien tetap memahami informasi dengan baik meski dalam situasi sibuk.

  1. Sistem Registrasi: Antara Efisiensi dan Human Touch

RSUA kini telah mengintegrasikan dua sistem registrasi: pendaftaran langsung di loket dan reservasi daring melalui aplikasi RSUA Online. Bagi pasien muda dan terbiasa dengan teknologi, layanan online ini jelas efisien karena mereka dapat memilih jadwal dokter, melihat estimasi antrean, hingga mengunggah hasil lab sebelumnya tanpa harus datang lebih awal.

Namun, di sisi lain, bagi pasien lanjut usia atau mereka yang kurang akrab dengan teknologi, sistem ini bisa menjadi tantangan. Hal ini menjadi refleksi penting bagi saya bahwa inovasi digital dalam pelayanan kesehatan tidak boleh meninggalkan aspek literasi kesehatan masyarakat.

Komunikasi digital tetap memerlukan sentuhan manusia, baik melalui panduan sederhana, papan informasi yang jelas, maupun petugas yang siap membantu pasien beradaptasi dengan sistem baru.

  1. Poster Edukatif: Bahasa Visual di Ruang Tunggu

Selagi mengamati ruang tunggu, mata saya tertuju pada deretan poster edukatif di sekitar ruang tunggu poli. Salah satu poster bertema “Bulan Peduli Migrain” menampilkan ilustrasi seorang wanita yang mengalami sakit kepala beserta penjelasan ringkas dengan singkatan yang unik.

Sebagai mahasiswa, saya merasa pesan-pesan visual ini sangat efektif. Warna kontras, kalimat ringkas, dan informasi praktis membuat poster dapat dengan mudah dipahami pasien. Poster bukan sekadar dekorasi; ia berfungsi sebagai komunikasi satu arah yang mendidik.

  1. Pelajaran untuk Calon Dokter

Dari hasil pengamatan singkat ini, saya menyimpulkan bahwa RS Universitas Airlangga telah berupaya membangun sistem komunikasi kesehatan yang cukup baik dengan menggabungkan pelayanan manusiawi, inovasi digital, dan edukasi visual. Namun, keberhasilan komunikasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh cara setiap petugas memilih kata, nada, dan sikap saat berhadapan dengan pasien.

Sebagai calon dokter, saya belajar bahwa komunikasi bukanlah pelengkap dari tindakan medis, melainkan bagian inti dari penyembuhan itu sendiri. Di balik setiap antrean, klik aplikasi, dan poster edukatif, tersimpan pelajaran besar tentang empati, kejelasan pesan, dan pentingnya membangun kepercayaan antara tenaga medis dan pasien.

Di RSUA, saya tidak hanya belajar tentang pelayanan rumah sakit, tetapi juga tentang seni berbicara dengan hati. Bahwa dalam dunia medis yang serba cepat, masih ada ruang untuk senyum, kalimat yang menenangkan, dan selembar poster yang membuat pasien merasa dipahami. Menurut saya, di situlah letak sejati dari komunikasi kesehatan, yaitu menyembuhkan pasien, bahkan sebelum obat diberikan. (*)

Editor : Kimda Farida
#online #Airlangga #layanan #dosen #rumah sakit #pasien