Oleh: Rizalul Fiqry
(Dosen STKIP Taman Siswa Bima)
MASYARAKAT Bima–Dompu, terutama komunitas Dou Donggo, memiliki tradisi tersendiri dalam menyampaikan nasihat. Ungkapan yang diwariskan turun-temurun itu tidak hanya sarat filosofi, tetapi juga memuat nuansa mistis dan spiritual yang kuat.
Dahulu, petuah tersebut kerap terdengar pada berbagai momentum kehidupan, terutama sebelum seseorang memulai proses penting. Intinya selalu mengingatkan tentang kesiapan dan konsekuensi dari setiap pilihan.
Beberapa di antaranya adalah nika wau ampomu nika (nikah dulu baru menikah), rongga waupu ampomu tu’u (sampai dahulu baru memulai perjalanan), dan renta ampomu nuntu (bertutur dulu baru berbicara).
Nasihat-nasihat tersebut biasanya muncul ketika seseorang sedang berguru atau memohon restu kepada tetua adat. Pada masa lalu, ungkapan ini bahkan dipercaya sebagai sarana untuk “memperjelas apa yang belum terjadi”, seakan ada kekuatan non-fisik yang bisa dimintai petunjuk sebelum melangkah.
Meski terdengar mistikus, keyakinan ini sejatinya menuntun seseorang untuk menjalani proses secara matang dan penuh kesadaran spiritual.
Apabila dicermati lebih mendalam, sederet petuah tersebut memuat konsep pendidikan karakter dan pembelajaran reflektif yang kuat.
Masyarakat Bima–Dompu dibentuk untuk memahami bahwa setiap pilihan selalu melahirkan konsekuensi. Karenanya, sikap tenang, kebijaksanaan, dan kemampuan menimbang risiko menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.
Ungkapan nika wau ampomu nika bukan sekadar ajakan menyiapkan pesta pernikahan. Pesan utama yang hendak ditegaskan ialah kewajiban bagi setiap laki-laki untuk memahami hakikat pernikahan. Yaitu tanggung jawab, peran, dan konsekuensi dalam kehidupan berumah tangga.
Pesan rongga waupu ampomu tu’u mengarahkan seseorang untuk memikirkan dan merencanakan perjalanan dengan teliti. Setiap langkah, risiko, serta tujuan (baik atau buruk) perlu dipetakan terlebih dahulu. Manfaatnya adalah kesiapan mental dan kejelasan arah sebelum memulai sebuah proses, apa pun bentuknya.
Sementara renta ampomu nuntu menunjukkan kepekaan masyarakat Bima–Dompu dalam menggunakan bahasa. Renta berarti proses belajar bertutur, yakni kemampuan memilih dan menempatkan kata secara tepat dan bijak.
Adapun nuntu menggambarkan wujud komunikasi sosial yang melibatkan orang lain. Nasihat ini sejalan dengan prinsip dou rangga (lelaki sejati) mengenai “tiga ujung yang harus dijaga”: lidah, kemaluan, dan senjata (tolu mbua reme ndi jaga, reme rera, reme ama ra ompu, reme cila). Artinya, tutur kata mengandung kekuatan besar dalam menciptakan kesepahaman ataupun pertentangan.
Pada akhirnya, nasihat lama dalam tradisi Dou Donggo sejatinya bukan sekadar dialog mistik. Di baliknya terdapat pedoman hidup yang dibangun atas kepercayaan mendasar dan terus dijaga sebagai prinsip moral: ka ao, ka iu, ka ade (memahami, merasakan, lalu bersungguh-sungguh menjalankan). Nilai inilah yang membuat petuah leluhur tetap relevan bagi generasi hari ini, meski ucapannya nyaris tidak terdengar lagi.
Editor : Jelo Sangaji