Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Keran Membisu di Balik Ember Kosong Warga Rembiga

Nurul Hidayati • Kamis, 8 Januari 2026 | 15:42 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LombokPost - Ada sebuah ironi yang menyayat hati di sudut Kota Mataram. Sejak Senin, 5 Januari 2026, warga di wilayah Rembiga harus terbangun dalam sunyi yang tidak biasa.

Bukan sunyi karena ketenangan pagi, melainkan sunyi dari suara gemericik air yang biasanya mengisi bak-bak mandi.

Keran-keran itu membisu, seolah mati suri, meninggalkan warga dalam kebingungan yang kini sudah memasuki hari keempat.

Tanggal 5 Januari seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh semangat. Itu adalah hari di mana gerbang-gerbang sekolah kembali dibuka, saat anak-anak kita dengan seragam rapi bersiap menjemput masa depan.

Namun, apa yang mereka dapati? Bukan kesegaran air untuk membasuh wajah, melainkan tatapan lelah orang tua yang memandangi ember-ember kosong.

Di saat pendidikan menuntut fokus dan energi, warga justru disibukkan oleh perjuangan paling purba manusia: mencari setetes air untuk bertahan hidup.

Bantuan memang datang. Truk tangki dari PDAM dan BPBD NTB hadir membelah jalanan, membawa harapan dalam ribuan liter air bersih. Namun, mari kita jujur pada nurani: seberapa jauh beberapa ember air bisa mencukupi kebutuhan satu keluarga?

Air bukan hanya soal minum. Air adalah soal martabat kebersihan, soal mencuci pakaian sekolah anak yang mulai kusam, soal sanitasi yang layak, dan soal ketenangan seorang ibu di dapur.

Bantuan tersebut hanyalah penawar dahaga sesaat bagi Sebagian warga, bukan solusi bagi nadi kehidupan yang terputus.

 Baca Juga: Warga Keluhkan Tagihan PDAM Melonjak, Dewan Panggil Manajemen Pekan Depan!

Pemandangan paling menyentuh adalah ketika langit mendung tak lagi dianggap sebagai ancaman mendung, melainkan "malaikat penyelamat". Warga Rembiga kini berdiri di bawah cucuran atap, menampung tetesan air hujan hanya agar bisa mencuci piring atau sekadar menyiram toilet.

Di tengah kemajuan Kota Mataram yang kita banggakan, melihat warga harus kembali ke cara-cara tradisional demi bertahan hidup adalah sebuah tamparan keras bagi pelayanan publik kita.

Air adalah hak dasar. Ia adalah urat nadi yang tak boleh berhenti berdenyut, apalagi di tengah pemukiman kota yang padat. Empat hari tanpa air bukan sekadar gangguan teknis, itu adalah beban mental yang berat bagi setiap kepala keluarga.

Kita semua berharap, bisikan air di keran-keran warga Rembiga segera kembali terdengar. Sebab, di balik setiap tetes air yang mengalir, ada senyum anak sekolah yang bisa berangkat dengan segar, ada ibu yang bisa mengurus rumah dengan tenang, dan ada martabat warga yang kembali pulih.

Jangan biarkan Rembiga terus menanti dalam tak kunjungan aliran air, karena air adalah kehidupan, dan kehidupan tak bisa menunggu terlalu lama. (Nissa Cahyani - Warga Rembiga Mataram)

Editor : Kimda Farida
#dapur #air #warga #pdam #keran #terputus