Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengaji Qur’an, Mengeja Kebudayaan, Merekat Kemanusiaan (Sebuah Refleksi dari Arena MTQ Provinsi NTB 2026)

Redaksi • Jumat, 12 Juni 2026 | 09:42 WIB
Lalu Faqih Saiful Hadie: Aktivis Dakwah, Sekretaris II LPTQ NTB
Lalu Faqih Saiful Hadie: Aktivis Dakwah, Sekretaris II LPTQ NTB

LombokPost - Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2026 di Praya, Lombok Tengah, telah mewujud sebagai sebuah epistemologi baru dalam melihat relasi agama dan kebudayaan. Pawai taaruf dan malam pembukaan telah tampil sebagai ekspresi kultural yang mempertemukan antara yang sakral (the sacred) dan yang profan (the profane). Di bawah langit Praya, agama tidak mewujud sebagai menara gading yang tak tersentuh, melainkan sebagai oasis yang membumi melalui dialektika kebudayaan yang dinamis dan inklusif.

​Dalam pawai taaruf yang digelar sebagai bagian dari tradisi penyelenggaraan MTQ, masyarakat disuguhkan dengan tontonan yang meruntuhkan sekat-sekat eksklusivisme. Tampak di sini bahwa pawai ta’aruf dan rangkaian acara pembukaan ini secara ontologis adalah sebuah event budaya (cultural event). Di sinilah teks-teks langit yang suci mengalami proses pembumian, meminjam istilah Gus Dur, di mana nilai-nilai universal Alquran berdialog secara mesra dengan kebudayaan lokal Sasak, Samawa, dan Mbojo. Kebudayaan dalam konteks ini berperan sebagai medium of expression, sebuah wadah estetik yang mengkonversi doktrin teologis yang abstrak menjadi perilaku sosial yang konkret, indah, dan dapat dinikmati oleh indra kemanusiaan.

​Ada getar emosional yang menyergap dada, sebuah perasaan haru yang halus tapi menghujam, ketika menyaksikan jalannya pawai di sepanjang jalan protokol Kota Praya. Sebagai bagian dari entitas penyelenggara, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga dan penghormatan setinggi-tingginya, khususnya kepada saudara-saudara kita warga Kristen dan Hindu yang ada di Kota Praya. Partisipasi aktif mereka bukan sekadar penggembira di pinggir jalan, melainkan bagian integral dari denyut nadi acara. Kehadiran mereka memancarkan energi persaudaraan yang melampaui batas-batas dogmatis, sebuah manifestasi nyata dari toleransi yang tidak sekadar kosmetik, melainkan substantif.

Baca Juga: Kemeriahan Pembukaan MTQ NTB 2026 ke-31 di Lombok Tengah, Serambi Kuliner Diserbu hingga Pengunjung Rela Lesehan di Rumput

Pun demikian ​ketika malam pembukaan tiba, puncak dari estetika multikultural itu tersaji dalam sebuah karya koreografi kolosal. Di bawah sorot lampu panggung yang dramatis, ratusan seniman muda bergerak seirama, membentuk formasi-formasi geometris yang rumit namun ritmis. Yang membuat bulu kuduk saya merinding bukan hanya kemegahan visualnya, melainkan fakta bahwa ternyata para penari tersebut adalah anak-anak muda pelajar yang berasal dari berbagai latar belakang agama : Muslim, Hindu, Kristen, dan Katolik. Dari tribun kehormatan, bersama para tamu lainnya saya menyaksikan mereka membaur tanpa jarak, menggerakkan tubuh mereka dalam frekuensi estetika yang sama. Mereka sedang tidak menari di atas perbedaan, tapi mereka sedang merajut tenun kebangsaan dengan benang-benang keberagaman.

​Keterlibatan para penari lintas-iman dalam koreografi kolosal ini adalah antitesis dari narasi polarisasi yang sering diproduksi oleh para pedagang komoditas politik identitas. Mereka tak akan pernah mau tahu bahwa di atas panggung MTQ, para seniman muda ini sesungguhnya sedang mempraktikkan apa yang dalam filsafat dialog disebut sebagai I-Thou relationship oleh Martin Buber, yakni sebuah relasi yang memandang sesama bukan sebagai objek (It) yang asing, melainkan sebagai subjek (Thou) yang setara dan harus dihormati. Mereka tidak sedang berdebat tentang teologi di ruang seminar yang dingin, tapi mereka sedang merayakan kemanusiaan di bawah hangatnya persaudaraan.

​MTQ XXXI NTB ini telah berhasil mengembalikan hal esensial dari kitab suci itu sendiri. Alquran diturunkan bukan untuk menciptakan sekat-sekat eksklusi sosial, melainkan sebagai hudan lin-nas (petunjuk bagi seluruh umat manusia). Maka MTQ sejatinya adalah ajang untuk mempererat persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah). Ini adalah perintah eksplisit Alquran, salah satunya terekam abadi dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, yang menegaskan bahwa penciptaan manusia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah cetak biru Ilahiyah (divine design) agar kita saling mengenal (li-ta'arafu). Kata taaruf yang menjadi brand pawai itu sendiri berakar dari sini, yang berarti proses afektif untuk saling mengenal dan saling memahami secara mendalam.

Baca Juga: Pemkot Mataram Janjikan Umrah bagi anggota Kafilah yang Juara 1 MTQ Tingkat ProvinsiBaca Juga: Pemkot Mataram Janjikan Umrah bagi anggota Kafilah yang Juara 1 MTQ Tingkat Provinsi

​Dalam ekosistem keberagaman di NTB, pelaksanaan MTQ ini menjadi antitesis yang segar bagi kejenuhan sosial akibat menguatnya gejala puritanisme yang radikal. Masyarakat NTB seakan disadarkan kembali bahwa kesalehan individual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Anda tidak bisa mengklaim mencintai Tuhan yang tidak tampak, jika pada saat yang sama Anda menaruh benci pada manusia ciptaan-Nya yang tampak nyata di depan mata. Maka kebudayaan, melalui event MTQ ini, menjadi jembatan hermeneutis yang mempertemukan kebenaran teks-teks agama dengan realitas kemajemukan sosial.

​Melalui lensa sosiologi agama, apa yang terjadi di Praya hari itu adalah bentuk nyata dari civic pluralism. Kehadiran warga Kristen dan Hindu yang bahu-membahu mensukseskan acara umat Islam ini menunjukkan bahwa ruang publik (public sphere) di Lombok Tengah telah mencapai tingkat kedewasaan yang tinggi. Mereka, saudara-saudara kita yang non-Muslim itu tahu bahwa mereka tidak kehilangan keimanannya hanya karena membantu mensukseskan acara MTQ, dan kita umat Islam pun yakin bahwa keislaman kita tidak akan berkurang karena menerima bantuan dari sesama warga negara yang berbeda keyakinan. Ini adalah sebuah simfoni sosiologis yang menempatkan agama sebagai faktor integratif, bukan disintegratif.

​Akan tetapi di tengah harmoni yang begitu indah dan memukau ini, selalu saja ada anomali sosial yang menggelitik nalar sehat kita. Di sudut-sudut gelap ruang digital dan di warung-warung kopi berventilasi buruk, masih saja ada segelintir minoritas masyarakat yang hobi nyinyir dan mendadak merasa menjadi penjaga iman yang paling otoritatif. Mereka sibuk mendebat dengan fatwa-fatwa amatir yang mereka tabur di kolom-kolom komentar, mempertanyakan mengapa warga non-Muslim ikut campur dalam acara MTQ, seolah-olah kemurnian iman mereka akan terdistorsi oleh senyuman ramah seorang penari Hindu atau lambaian tangan hangat seorang warga Kristen.

Baca Juga: Kasat Pol PP NTB Pimpin Langsung Pengamanan Pembukaan MTQ XXXI di Lombok Tengah

​Keheranan saya menggunung ketika melihat bagaimana kaum puritan domestik ini begitu cemas terhadap kontaminasi akidah, namun di saat yang sama mereka hidup dari infrastruktur yang dibangun atas dasar kebersamaan multikultural. Mereka mengkritik partisipasi warga non-Muslim di MTQ sambil mengetik kritik tersebut di ponsel pintar buatan kafir, menggunakan kuota internet dari perusahaan multinasional, dan mungkin sambil mengunyah camilan yang pabriknya dimandori oleh seorang agnostik. Sungguh sebuah standar ganda yang dipelihara dengan sangat konsisten dan penuh dedikasi.

Saya masih belum menemukan formulasi yang benar-benar tepat untuk memaklumi cara pandang kelompok minoritas yang selalu bising ini, sebab saya sendiri tidak memandang perbedaan sebagai ancaman epistemik yang harus dieliminasi, tapi justru  sebaliknya, sebagai dinamika kosmis yang harus dirayakan. Demikian pula dengan keindahan koreografi kolosal yang dimainkan para seniman muda dari lintas iman itu, saya melihatnya  sebagai karya seni yang menyatukan, bukan sebagai konspirasi global untuk mendegradasi kemurnian akidah sebagaimana yang mereka kesankan di kolom-kolom komentar media sosial. Sepertinya memang butuh keahlian khusus untuk bisa menemukan celah dosa di dalam sebuah acara yang justru sedang mengagungkan firman-firman Tuhan.

​Maka, biarkanlah kafilah MTQ XXXI NTB ini terus berlalu dengan megah, meninggalkan gonggongan bising dari nalar-nalar yang terpenjara dalam tempurung eksklusivisme itu. Keberhasilan Lombok Tengah menjadi tuan rumah yang inklusif adalah tamparan estetis bagi siapa saja yang ingin mengubah wajah NTB menjadi kaku dan garang di hadapan perbedaan. Hari ini kita menyaksikan bahwa persaudaraan yang terbangun selama berabad-abad di tanah ini telah mengkristal menjadi monumen sosial yang tidak mudah diruntuhkan oleh sekedar ketikan jempol yang didorong oleh kedengkian atas nama agama.

Dus, dari arena MTQ NTB di Lombok Tengah yang dilandasi tema "Islam rahmatan lil alamin" ini, kita ingin belajar bahwa membaca Alquran (tilawah) harus berujung pada kemampuan membaca realitas kemanusiaan. Jika setelah mendengar lantunan ayat suci dan melihat indahnya persaudaraan lintas-iman ini hati kita masih dipenuhi nyinyir dan sinis, maka mungkin yang perlu diperiksa bukan kualitas sound system di venues majelis, tapi kualitas hati dan spiritualitas kita sendiri yang barangkali sedang mengalami sindrom authoritarian personality yang akut.

​Akhirulkalam, mungkin kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada minoritas masyarakat yang terus konsisten memelihara kenyinyiran dan sisnisme mereka di tengah kemegahan MTQ ini, sebab riak-riak kecil yang mereka timbulkan justru menjadi pengingat berharga, bahwa perjalanan kita dalam merawat nalar publik dan kedewasaan beragama memang belum selesai. Kita diingatkan untuk bersyukur bahwa di tengah provokasi untuk berpikir sempit dan bersikap kaku, kita masih dianugerahi kelapangan hati untuk merayakan perbedaan dengan penuh sukacita. (*)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Lombok Tengah #mtq #partisipasi #NTB #keyakinan