Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Optimalisasi Program Benih Tebu untuk Gula NTB

Kimda Farida • Jumat, 26 Juni 2026 | 09:10 WIB
Jannus TH Siahaan
Jannus TH Siahaan

 

Oleh: Jannus TH Siahaan

Pengamat Sosial Politik, Peneliti, Konsultan Komunikasi, dan Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran

Kebijakan pangan nasional kerap terjebak dalam lingkaran setan defisit struktural dan ketergantungan impor. Kesenjangan lebar antara kapasitas produksi domestik dan laju konsumsi terus menghantui, memaksa negara membuka keran impor dalam jumlah jutaan ton setiap tahunnya.

Ironi ini terlihat benderang di Nusa Tenggara Barat (NTB), daerah yang memiliki potensi tebu luar biasa namun pabrik gula Tambora milik PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu di waktu lalu masih harus mendatangkan gula mentah impor demi menjaga kontinuitas produksinya.

Langkah Kementerian Pertanian menyebarkan benih tebu unggul bersertifikat dari Kebun Benih Datar (KBD) mulai Juni 2026 menjadi oase segar yang harus disambut dengan optimisme tinggi oleh para petani di bumi Nggahi Rawi Pahu.

Program perbenihan nasional yang digagas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai proyek seremonial belaka. Dengan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp1,7 triliun untuk peremajaan lahan secara nasional, kehadiran benih varietas unggul baru seperti AAS dan NXI 4T menawarkan jalan keluar bagi stagnasi produktivitas tebu di Dompu.

Bagi daerah yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Tebu Nasional ini, intervensi hulu berupa penyediaan bibit berkualitas tinggi adalah kunci mutlak untuk mengakhiri ketergantungan pada bahan baku impor dan menyelamatkan ekosistem pertanian lokal dari kehancuran jangka panjang akibat kesalahan memilih bibit.

Selama bertahun-tahun, produktivitas tebu rakyat di Kecamatan Pekat, Dompu, cenderung stagnan akibat dominasi tanaman keprasan (ratoon) tua yang belum diremajakan. Masuknya benih unggul asal Kebun Benih Datar hasil pengembangan tahun 2025 seluas 1.571 hektare menjadi angin segar yang sangat dinantikan. Varietas AAS yang memiliki potensi produktivitas mencapai 200 ton per hektare dengan kadar rendemen gula mencapai 10 persen hingga 11 persen akan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan dibandingkan dengan kondisi eksisting yang hanya menghasilkan rendemen rata-rata 7,31 persen.

Baca Juga: Mengawal Tebu dari Ujung Timur Dompu, Kepala Desa Calabai Perjuangkan Air, Jalan Tani, hingga Kepastian Panen Petani

Di tengah carut-marut tata niaga gula nasional, di mana rembesan gula rafinasi impor telah memukul harga produk sampingan seperti tetes tebu yang anjlok menjadi Rp1.000 per liter pada Maret 2026, peningkatan efisiensi melalui varietas unggul menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan usaha tani tebu.

Di tingkat tapak, tantangan operasional tidak kalah pelik. Analisis spasial menggunakan pemetaan geospasial menunjukkan terjadinya penyusutan lahan kemitraan aktif di Kecamatan Pekat dari luas awal 3.600 hektare menjadi hanya tersisa sekitar 2.000 hektare karena petani beralih ke tanaman jagung. Selain itu, konflik sosial akibat masuknya kawanan ternak liar di kawasan Doroncanga kerap merusak tanaman tebu di lahan HGU milik perusahaan, bahkan memicu kerentanan kebakaran lahan yang menghanguskan ratusan hektare area kebun.

Akibat minimnya pasokan tebu segar lokal, pabrik terpaksa mengolah gula mentah impor menggunakan bahan bakar batu bara pada boiler mereka, sebuah kemunduran bagi konsep agroindustri ramah lingkungan yang seharusnya memanfaatkan sisa ampas tebu (bagasse).

Melalui analisis tekno-ekonomi, jika petani Dompu mengadopsi varietas AAS secara masif, hasil gula kristal per hektare dapat dihitung dengan persamaan matematis (Pg =Yt ×(R/100). Pg adalah potensi hasil gula, Yt produktivitas tebu, dan R persentase rendemen. Perhitungan agronomis membuktikan bahwa varietas unggul AAS mampu menghasilkan hingga 21 ton gula per hektare, jauh mengungguli metode tradisional yang hanya menghasilkan sekitar 4,386 ton gula per hektare.

Skenario ini membuktikan bahwa untuk mencapai target swasembada regional sebesar 48.000 ton gula, lahan yang dibutuhkan menyusut drastis dari 10.943 hektare menjadi hanya 2.285 hektare. Efisiensi spasial ini meminimalkan kebutuhan pembukaan kawasan hutan baru dan mengurangi gesekan penggunaan lahan dengan komoditas pesaing.

Keberhasilan program tebar benih ini di Dompu kini berada di pundak kolaborasi pemerintah daerah dan pihak korporasi. Pemerintah Kabupaten Dompu harus bersikap tegas dalam menegakkan regulasi zonasi pelepasan ternak liar di kawasan lingkar Tambora agar tidak lagi merusak investasi hulu pertanian. Tanpa jaminan keamanan lahan dari invasi ternak liar, benih unggul bantuan kementerian hanya akan menjadi santapan gratis kawanan ternak dan menyisakan kerugian bagi petani rakyat.

Pada saat yang sama, PT SMS harus mereformasi kelembagaan kemitraan inti-plasma dengan mengedepankan transparansi uji rendemen tebu di laboratorium pabrik secara terbuka. Mengorganisasikan petani ke dalam koperasi tebu rakyat adalah langkah taktis untuk memperkuat posisi tawar mereka di tengah bayang-bayang tingginya biaya produksi.

Dengan pengawalan ketat lintas sektoral, momentum tebar benih kementerian ini akan mengantarkan Dompu menjadi episentrum swasembada gula yang kokoh di gerbang Indonesia Timur.

Namun, keberhasilan program benih unggul ini tidak akan ditentukan oleh kualitas varietas semata, tapi juga oleh kemampuan Pemerintah Provinsi NTB menjadikannya sebagai bagian dari peta jalan industri gula daerah. Pemerintah provinsi harus mengambil peran sebagai koordinator utama yang menyatukan kepentingan petani, perusahaan, pemerintah kabupaten, lembaga pembiayaan, dan kementerian terkait dalam satu kerangka pembangunan gula terpadu.

Baca Juga: Kades Adam Malik Dorong Kebangkitan Ekonomi Petani Doropeti Lewat Perkebunan Tebu

Melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi, distribusi benih harus dikawal hingga tingkat kelompok tani, disertai pendampingan teknis, pemetaan lahan potensial, serta sistem monitoring berbasis data untuk memastikan benih unggul benar-benar ditanam dan menghasilkan peningkatan produktivitas di lapangan.

Di tingkat kabupaten, khususnya Dompu, tanggung jawab yang lebih konkret menanti. Pemerintah daerah harus menjamin kepastian ruang usaha tebu melalui penertiban ternak liar, pengendalian kebakaran lahan, perbaikan infrastruktur jalan produksi, serta percepatan penyelesaian konflik agraria yang berpotensi menghambat investasi.

Dinas Pertanian Kabupaten Dompu juga perlu membentuk tim pendamping khusus yang bertugas mengawal proses peremajaan tanaman, memberikan pelatihan budidaya varietas baru, serta memastikan petani memperoleh akses terhadap pupuk, alat mekanisasi, dan pembiayaan usaha tani.

Tanpa dukungan ekosistem produksi yang memadai, potensi genetik benih unggul akan sulit diterjemahkan menjadi peningkatan hasil nyata.

Di sisi lain, PT Sukses Mantap Sejahtera tidak boleh hanya berperan sebagai pembeli hasil panen. Sebagai penggerak utama rantai nilai gula NTB, perusahaan perlu memperluas program kemitraan berbasis produktivitas, menyediakan demplot varietas unggul, memperkuat layanan penyuluhan lapangan, serta menerapkan sistem pengukuran rendemen yang transparan dan dapat diaudit petani.

Pembentukan koperasi tebu modern yang didukung perusahaan akan memperkuat posisi tawar petani sekaligus menciptakan rantai pasok bahan baku yang lebih stabil bagi pabrik.

Dengan meningkatnya pasokan tebu lokal, ketergantungan terhadap gula mentah impor dapat dikurangi secara bertahap, sementara pemanfaatan ampas tebu sebagai sumber energi pabrik dapat mengembalikan industri gula Dompu ke jalur agroindustri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sementara itu, pemerintah pusat harus memastikan program benih unggul ini tidak berhenti pada tahap distribusi. Kementerian Pertanian perlu menjadikan NTB sebagai salah satu proyek percontohan swasembada gula nasional dengan dukungan berkelanjutan berupa riset varietas yang sesuai dengan kondisi agroklimat Tambora, bantuan mekanisasi, penguatan irigasi, hingga skema pembiayaan khusus bagi petani tebu. 

Pada saat yang sama, kebijakan perdagangan nasional harus melindungi insentif produksi domestik melalui tata kelola impor yang lebih disiplin dan berpihak pada peningkatan serapan tebu lokal.

Jika seluruh mata rantai kebijakan ini bekerja secara sinkron, program benih unggul yang dimulai pada 2026 tidak hanya akan meningkatkan produktivitas kebun tebu Dompu, tetapi juga berpotensi mengubah NTB menjadi salah satu lumbung gula paling strategis di Indonesia Timur. (*)

Editor : Kimda Farida
#Benih Tebu Unggul #tebu #swasembada gula #NTB #gula