Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menyelamatkan Marwah MTQ NTB

Marthadi • Kamis, 2 Juli 2026 | 19:19 WIB
HM Sodri
HM Sodri

Oleh: HM Sodri
Qori asal Lombok, NTB, menetap di Jakarta

 

NUSA Tenggara Barat pernah menjadi salah satu kekuatan yang disegani pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. Prestasi itu tidak lahir secara kebetulan. Di baliknya ada pembinaan, kerja keras, dan semangat para qori serta qoriah yang mengharumkan nama daerah.

Namun, data lima tahun terakhir mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan. Posisi NTB pada MTQ Nasional terus menurun. Tahun 2020, NTB berada di peringkat kelima. Tahun 2025 turun ke peringkat ke-10. Dalam lima tahun, NTB kehilangan lima tingkat. Secara relatif, kemunduran itu mencapai 100 persen.

Yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar turunnya peringkat. Jarak NTB dengan provinsi-provinsi papan atas semakin melebar.

DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten tetap konsisten berada di papan atas. Mereka nyaris tanpa fluktuasi. Rata-rata bertahan di kisaran tiga besar nasional.

Sebaliknya, NTB justru bergerak ke arah sebaliknya. Ini bukan sekadar soal kalah bersaing. Ini pertanda ada sesuatu yang perlu dievaluasi secara serius.

Baca Juga: Perwira TNI Aktif Diduga Terseret Kasus Korupsi MBG

Menurut saya, persoalan utamanya bukan kekurangan bakat. NTB tidak pernah kekurangan qori dan qoriah berbakat. Hampir setiap kabupaten memiliki bibit yang potensial. Banyak pula yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Masalahnya ada pada sistem. Pembinaan masih terkesan berorientasi pada pelaksanaan MTQ. Aktivitas meningkat ketika perlombaan mendekat. Setelah itu kembali menurun. Akibatnya, regenerasi tidak berjalan secara berkesinambungan.

Padahal, provinsi-provinsi yang selalu berada di lima besar memiliki pola berbeda. Mereka membangun sistem. Mereka memiliki pelatih tetap, tim teknis permanen, program karantina yang rutin, hingga pemetaan potensi peserta sejak usia dini. Pembinaan mereka tidak berhenti setelah MTQ selesai.

Di NTB, pola seperti ini masih perlu diperkuat. Database qori dan qoriah belum terintegrasi secara baik. Talent scouting belum dilakukan secara sistematis. Identitas cabang unggulan juga belum benar-benar terbentuk. Akibatnya, prestasi naik turun mengikuti momentum.

Baca Juga: TGH Muammar Arafat: Jika Bukan di Pesantren NU, Lebih Baik Muktamar NU Tidak di NTB  

Persoalan lain yang patut menjadi perhatian ialah dukungan kebijakan pemerintah daerah.
Pembinaan Alquran seharusnya tidak hanya menjadi urusan LPTQ. Ia perlu menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia daerah.

Di sejumlah provinsi, program LPTQ sudah terhubung dengan dunia pendidikan, pondok pesantren, hingga program beasiswa. Pendekatan lintas sektor itu membuat proses pembinaan berlangsung sepanjang tahun.

NTB perlu mulai mengarah ke sana. Pemerintah daerah dapat membentuk tim teknis pembinaan permanen. Karantina tidak hanya dilakukan menjelang MTQ, tetapi secara berkala minimal dua kali dalam setahun. Seluruh kabupaten dan kota juga perlu dihubungkan melalui database digital yang memuat perkembangan qori dan qoriah sejak usia dini.

Yang tidak kalah penting ialah keberpihakan anggaran. Prestasi tidak mungkin dipertahankan tanpa investasi yang memadai. Pembinaan membutuhkan pelatih berkualitas, program latihan berkelanjutan, evaluasi berkala, hingga dukungan fasilitas yang layak.

Jika tren penurunan ini dibiarkan, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun mendatang NTB keluar dari jajaran 10 besar nasional. Lebih dari itu, identitas NTB sebagai daerah yang melahirkan qori dan qoriah berkualitas bisa ikut memudar.

Baca Juga: PLN UIP Nusra Gandeng Polda NTT Amankan Proyek PLTP Ulumbu dan Mataloko, Percepat Transisi Energi

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Apalagi menghakimi LPTQ.

Sebaliknya, tulisan ini lahir dari rasa cinta kepada daerah dan kepedulian terhadap masa depan pembinaan Alquran di NTB. Saya pernah merasakan menjadi bagian dari kafilah NTB pada era 1980-an. Saya memahami bagaimana semangat pembinaan mampu melahirkan prestasi.

Karena itu, saya percaya NTB bisa kembali bangkit. Syaratnya sederhana. Berani mengevaluasi diri. Membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan. Memperkuat manajemen. Dan menghadirkan komitmen anggaran yang nyata.

Prestasi MTQ tidak dibangun dalam semalam. Ia dibentuk melalui kerja panjang yang konsisten.
Kini, pilihannya ada di tangan kita. Tetap berjalan dengan pola lama, atau melakukan pembenahan agar NTB kembali menjadi salah satu kiblat pembinaan Alquran di Indonesia. (*)

 

Editor : Marthadi
#LPTQ NTB #Pembinaan Qori #Prestasi NTB #Pengembangan SDM Alquran #mtq nasional