Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

OMONG KOSONG

Redaksi • Rabu, 8 Juli 2026 | 14:20 WIB
OPINI
OPINI

​​LombokPost - Dalam bahasa sehari-hari, 'omong kosong' sering kali diidentikkan dengan bualan atau omongan tidak bermakna. Tapi di ranah epistemologi, konsep ini bergeser secara signifikan pasca-penerbitan risalah legendaris Harry Frankfurt yang berjudul On Bullshit. Ini menarik, karena Frankfurt justru mengangkat omong kosong ini menjadi sebuah kategori analitis yang serius. Omong kosong tidak lagi menjadi sekedar kebohongan biasa, tapi ia adalah tindakan diskursif yang dilakukan manusia tanpa mempedulikan nilai kebenaran. Seorang pembual atau pembohong sebenarnya tidak berniat menentang kebenaran secara sengaja, ia hanya apatis terhadap kebenaran, karena fokus utamanya adalah memanipulasi audiens demi mencapai tujuannya.

​Bagaimana prototipe verbal ini terbentuk dalam peradaban kita? Proses terjadinya omong kosong melibatkan perkawinan silang antara kekakuan intelektual dan tuntutan sosial. Ketika seseorang atau sebuah institusi dipaksa atau merasa ditekan oleh kewajiban moral untuk berbicara mengenai suatu perkara yang berada jauh di luar batas kognisi dan kompetensi mereka, omong kosong ini lahir sebagai juru selamat. Ditopang oleh bias kognitif seperti Dunning-Kruger effect, seseorang yang mengalami defisit informasi akan meramu jargon-jargon canggih demi menutupi kekosongan substansi. Sederhananya, omong kosong adalah produk sisa (byproduct) dari obsesi manusia yang ingin terlihat mahatahu di hadapan audiens yang mahamudah terpukau.

​​Lantas, untuk apa kita memelihara komoditas verbal yang tampak sangat tidak berguna ini? Jawabannya mungkin mengejutkan Anda. Omong kosong memiliki fungsi utilitarian yang masif sebagai pelumas sosial (social lubricant). Tanpa adanya omong kosong, roda komunikasi akan macet, segala bentuk diplomasi akan runtuh, dan mungkin acara kumpul-kumpul keluarga saat arisan akan berubah menjadi medan perang yang menegangkan. Kebenaran yang telanjang sering kali terlalu dingin dan melukai ego manusia. Oleh karena itu, omong kosong diproduksi sebagai sebuah simulakra (realitas semu yang nyaman), yang berfungsi sebagai peredam kecemasan massal dan tentu saja, mengkonsolidasikan kekuasaan tanpa perlu repot-repot menghadirkan bukti empiris.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran Hanya Omon-Omon, Satu Lawatan Harusnya Bisa Hasilkan Kesepakatan Strategis

​​Dalam kultur modern abad ke-21, bentuk omong kosong yang paling populer dan digandrungi mewujud antara lain dalam industri self-help dan khotbah para pemandu bakat spiritual modern. Di sini, omong kosong dikemas secara higienis dalam berbagai rupa infografis yang estetik dalam ceramah-ceramah maupun media sosial. Kalimat-kalimat klise seperti "Semesta akan mendukung vibrasi positifmu" atau "Miskin adalah pola pikir" diadopsi secara massal sebagai kebenaran mutlak. Bentuk populer ini sangat digemari karena ia menawarkan kepuasan dopaminergik instan, sebuah pseudo-solusi yang membuat korbannya merasa telah menyelesaikan masalah hidup mereka hanya dengan mengubah mindset, sementara struktur ekonomi riil di sekitar mereka tetap saja mencekik.

​Memasuki ruang sakral dunia politik, omong kosong tidak lagi menjadi produk sampingan, ia adalah komoditas utama dan bahan bakar generator kekuasaan. Di panggung elektoral, kita disuguhi seni retorika yang penuh dengan sofisme dan demagogi. Politisi - walaupun tentu saja tidak semuanya - adalah para pengrajin omong kosong yang menggunakan teknik linguistic engineering tingkat tinggi. Mereka memproduksi diktum-diktum bombastis seperti "kesejahteraan berkeadilan", "perubahan revolusioner" atau "kedaulatan rakyat" yang jika dibedah secara konseptual tidak memiliki jangkar realitas sama sekali. Di era pasca-kebenaran (post-truth), omong kosong politik bermutasi menjadi narasi alternatif yang sengaja dirancang bukan untuk meyakinkan logika berpikir, melainkan untuk memanipulasi sentimen primordial dan afeksi massa demi meraup suara.

​Bahkan kuil suci sains yang diklaim sebagai benteng objektivitas pun tidak luput dari infiltrasi omong kosong ini. Di ranah ini, ia menyamar dengan sangat anggun dalam jubah pseudosains dan academic gobbledygook. Misalnya, demi mendapatkan dana hibah penelitian atau menaikkan indeks sitasi, para akademisi kadangkala terjebak dalam lingkaran setan memproduksi artikel ilmiah yang dipenuhi jargon esoterik yang sengaja dibuat rumit demi mengaburkan metodologi yang cacat atau kesimpulan yang nihil. Komersialisasi sains juga melahirkan produk-produk dengan klaim medis bombastis seperti merek air minum kemasan yang diawali kata "nano", "bio", atau "quantum", yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar air mineral biasa yang diberi label harga sepuluh kali lipat lebih mahal.

Baca Juga: Trump Hanya Omon-Omon, Iran Masih Simpan Persenjataan Ampuh

​Dalam lanskap sosial sehari-hari, omong kosong menjelma menjadi berbagai macam rupa-rasa pada ruang-ruang pergaulan yang berbeda. Dalam pergaulan korporasi ia menjadi bahasa yang kita sebut sebagai basa-basi institusional dan hiperbola korporat. Perhatikan bagaimana dunia profesional menciptakan ekosistem bahasanya sendiri yang penuh dengan istilah synergy, moving forward, touch base, dan holistic approach. Di tingkat akar rumput, omong kosong sosial berfungsi sebagai topeng teatrikal untuk menjaga harmoni artifisial, di mana semua orang berpura-pura peduli pada pencapaian orang lain demi mendapatkan validasi balik yang sama palsunya.

​Bagaimana dengan dunia hukum? Di dalam ruang sidang, omong kosong dilegalkan melalui seni interpretasi tekstual yang elastis atau dikenal sebagai legal interpretivism. Hukum yang sejatinya diciptakan untuk menegakkan keadilan, sering kali direduksi menjadi permainan semiotika yang mahal. Para pendekar hukum yang mahir mampu memutarbalikkan substansi sebuah pasal menggunakan retorika yang tampak valid secara silogis, namun absurd secara moral. Frasa-frasa latin kuno seperti ignorantia juris non excusat ditiupkan bukan untuk mencerahkan, melainkan untuk mengintimidasi para pendengar awam. Dalam titik ekstrimnya, omong kosong yurisprudensi ini mampu mengubah definisi "bersalah" menjadi hanya sekedar masalah "kekurangan kelengkapan berkas administrasi".

Ruang transendental agama pun sangat sering dijadikan panggung oleh para oportunis untuk mementaskan omong kosong ini. Atas nama dogma suci, oknum-oknum manipulator ini meramu ayat-ayat suci demi melegitimasi hal-hal remeh-temeh seperti obat herbal, minyak wangi, air mineral, atau pada kelas yang lebih tinggi, demi melegitimasi syahwat politik praktis. Di sini, omong kosong mengalami sakralisasi, ia tidak boleh dipertanyakan karena skeptisisme akan langsung dicap sebagai tindakan penistaan atau heterodoksi. Ketika pemikiran kritis diredam oleh ancaman metafisik, omong kosong keagamaan tumbuh subur, mengubah iman yang sejatinya mencerahkan menjadi instrumen pembius massa yang membuat umatnya pasrah menerima ketidakadilan duniawi demi kavling imajiner di akhirat kelak.

Baca Juga: Ketua DPRD Lombok Barat Lalu Ivan Indaryadi Minta Investor Tak Hanya Omong Doang

Tak kalah anggun dari ruang hukum dan agama, dunia ekonomi dan finansial modern justru menjadi salah satu inkubator paling subur bagi perkembangbiakan omong kosong ini. Di ranah ini, omong kosong tidak lagi sekedar bualan, melainkan dikomodifikasi menjadi instrumen spekulasi dan kebijakan yang menentukan hajat hidup orang banyak.

​Mari kita bedah bagaimana lanskap makroekonomi memelihara omong kosong ini melalui apa yang disebut sebagai economic forecasting (peramalan ekonomi). Setiap tahun, para ekonom dengan setelan jas mahal memproduksi grafik-grafik rumit dan model ekonometrika matematis untuk meramal pertumbuhan pasar. Akan tetapi, ketika krisis besar menghantam, model-model ini menjadi lumpuh total, dan lantas para arsitek finansial ini akan membuat kilah dengan meramu jargon-jargon seperti “market correction” (koreksi pasar) atau “technical rebound” untuk menutupi fakta sederhana bahwa pasar saham sering kali bergerak seacak lemparan koin, dan ramalan mereka tidak lebih akurat dari ramalan cuaca.

​Di tingkat mikro dan korporasi, omong kosong ini bermutasi menjadi teatrikal valuasi dalam ekosistem startup dan teknologi finansial. Istilah-istilah bombastis seperti disruption, monetisasi, bakar uang, hingga glorifikasi aset digital seperti cryptocurrency, sering kali hanyalah eufemisme dari skema Ponzi modern yang dipercanggih. Investor dan founder saling melempar omong kosong tentang "mengubah dunia" demi menaikkan valuasi perusahaan yang bahkan belum pernah menghasilkan keuntungan riil sepeser pun.

​Di ranah kebijakan kesejahteraan, kita juga akrab dengan doktrin “trickle-down economics” sebuah narasi usang yang menjanjikan bahwa jika orang-orang kaya menjadi semakin kaya, kemakmuran secara otomatis akan menetes ke bawah secara ajaib kepada si miskin. Ini adalah bentuk omong kosong ekonomi yang paling merusak, sebuah mitos yang terus dipelihara lewat lobi-lobi politik untuk melegitimasi ketimpangan struktural, sementara tetesan yang dijanjikan tidak pernah turun melampaui level retorika.

Mungkin kita harus jujur mengakui bahwa omong kosong telah menjadi salah satu pilar penyangga peradaban manusia. Ia ada di mana-mana, meresap ke dalam struktur berpikir kita, dari bilik suara hingga mimbar khotbah, dari laboratorium hingga kedai kopi. Menolak omong kosong secara total mungkin adalah utopia yang naif, karena hidup tanpa sedikit bualan rasanya akan terlalu hambar dan melelahkan.

Dus, di paragraf akhir tulisan ini, sebuah pertanyaan krusial patut saya ajukan kepada Anda, jika tulisan saya yang sedang Anda baca ini ternyata juga bagian dari konspirasi omong kosong yang dikemas secara akademis dan estetis, apakah Anda akan tetap mengangguk setuju demi menjaga keharmonisan intelektual kita, atau Anda justru sedang menyiapkan omong kosong tandingan yang jauh lebih meyakinkan? (Lalu Faqih Saiful Hadie: Aktivis dakwah, penulis, pemerhati seni, sosial dan budaya NTB)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#laboratorium #legendaris #narasi #perkawinan #sederhana