Tahun ini sejumlah satuan pendidikan mendapat bantuan DAK fisik. Rinciannya, 10 SD dengan jenis kegiatan rehabilitasi ruang kelas. Total anggaran mencapai Rp 3,9 miliar. Kegiatan pembangunan ruang kelas baru (RKB) untuk tiga SD, totalnya Rp 1,063 miliar dan rehabilitasi ruang kelas untuk enam SMP. Anggarannya Rp 2,8 miliar.
”DAK fisik yang kami terima mencapai Rp 7,8 miliar,” tegas dia.
Pelaksanaan kegiatan DAK fisik bersifat swakelola. Artinya, rehabilitasi bangunan atau gedung sekolah dilaksanakan oleh satuan pendidikan itu sendiri. Meski begitu, Disdik Kota Mataram tetap melakukan pemantauan.
”Ini kan uangnya langsung ditransfer pusat secara bertahap ke sekolah dan pengerjaannya ada di tangan sekolah, tetapi kami tetap mengawasi kegiatan itu,” jelasnya.
Taufik mengatakan, untuk anggaran DAK fisik tahun ini jauh menurun, dibandingkan tahun lalu. Penurunan mencapai Rp 10 miliar lebih. Kondisi ini dipicu lantaran sekolah tidak jujur mengisi Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
”Banyak sekolah kita yang menyatakan dirinya baik dan lengkap dari segala hal untuk mengejar akreditasi, padahal riil di lapangan, tidak seperti itu,” ungkap dia.
Akibatnya, sekolah yang seharusnya mendapatkan bantuan, malah tidak dapat. Kenyataan itu sangat disayangkan. Mengingat pedoman Kemendikbud memberikan bantuan anggaran pendidikan sumbernya dari Dapodik. Dari sana, pemerintah menjaring semua data terkait data kelembagaan dan kurikulum sekolah, data siswa, data guru dan karyawan, serta data sarana dan prasarana setiap sekolah.
”Tidak usah mengejar akreditasi dengan cara seperti itu, kalau kurang lengkap atau malah tidak ada ya jujur saja,” tegas Taufik.
Dirinya meminta, agar sekolah meninggalkan kebiasaan buruk ini. Saat memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, data di Dapodik masing-masing sekolah harus dibenahi. Terutama sarana dan prasarana (sarpras).
”Jangan nanti marah-marah ini nggak pernah dapat bantuan anggaran DAK, lah di dapodik aja dibilang lengkap, makanya sekolah perintahkan operator update setiap hari,” tandas dia.
Terpisah, Kepala SMPN 17 Mataram Woody Hexana bersyukur karena tahun ini sekolahnya mendapatkan bantuan DAK fisik. Peruntukannya, perbaikan ruang kelas yang rusak akibat gempa bumi 2018 lalu Rp 435 juta.
”Alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada dana perbaikan,” ujarnya.
Bantuan tersebut didapatkan, lantaran pihaknya selalu mengupdate dapodik. Isinya apa saja yang kurang di SMPN 17 Mataram. “Kalau kami mengandalkan APBD kota, tentu ini tidak bisa, maka kami hanya bertumpu pada pemerintah pusat, kami laporkan di dapodik,” pungkasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida