Tercatat 393 praja dalam pengawasan ketat kampus. ”Kami sudah mulai ajaran baru awal bulan ini, tanggal 7 September,” jelasnya terkait tahun ajaran baru.
Masih dengan kebijakan sebelumnya, semua praja tidak diberikan izin keluar asrama. ”Untuk menjaga kondisi, kami meminta mereka untuk stay atau tidak keluar dari lingkungan kampus,” tegasnya.
Agar tidak bosan atau jenuh, kampus telah menjadwalkan kegiatan menjaga kebugaran. ”Kegiatan baris berbaris, senam pagi dan kegiatan yang bisa menambah daya tahan tubuh mereka, ada juga yang ikut gym,” terang Amin.
Jadwal dan lokasi praktik kerja lapangan (PKL) menyesuaikan. Biasanya dilakukan sebelum cuti dan lokasinya tersebar di desa. ”Kalau sekarang, kami melaksanakannya di lingkungan kampus,” kata dia.
Praja juga diberikan materi dan praktik, dalam bidang agri bisnis. Misalnya berkebun, usaha pertanian, hingga pemeliharaan tanaman di lingkungan kampus. ”Untuk meningkatkan kompetensi keahlian mereka,” jelas Amin.
Bukan hanya praja, untuk mendukung belajar daring, IPDN Kampus NTB terus meningkatkan kompetensi para dosen. ”Kami menggelar bimtek,” ujarnya.
Saat ini, semua peserta didik di IPDN Kampus NTB, sudah berstatus kepangkatan Nindya Praja. ”Mereka sudah ada berada di tingkat tiga di IPDN, sebelumnya itu Madya Praja,” terang dia.
Nindya Praja biasanya langsung dikirim, untuk menempuh pendidikan di kampus utama IPDN di Jatinangor. ”Tetapi ada arahan dan penyesuaian kebijakan dari pusat,” kata Amin.
Demi pencegahan Covid-19, diputuskan Praja tetap belajar di kampus regional. ”Jadinya mereka belajar dua tahun di kampus ini,” tandasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida