Salah satu yang terdampak diantaranya adalah bangunan Sekolah Filial Semokan Ruak di Desa Batu Rakit, Kec. Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Gempa darat berkekuatan 7 SR membuat satu bangunan kelas rata dengan tanah dan hingga saat ini belum dibangun kembali.
Saat ini Sekolah Filial Semokan Ruak memiliki 3 ruang kelas dan 1 ruang guru, hal ini tentu tidak dapat mendukung jumlah kelas sesuai dengan tingkatan. Terbatasnya ruang kelas mengharuskan proses belajar terbagi menjadi dua rombongan belajar (rombel).
Setiap rombel melaksanakan pembelajaran di dalam satu kelas. Rombel pertama merupakan gabungan siswa kelas 1-3, sedangkan rombel kedua adalah gabungan siswa kelas 4-6. Bahkan tidak jarang ruang guru juga kerap beralih fungsi untuk memfasilitasi proses belajar mengajar.
Terkait hal itu program Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Inovasi (PPMI) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) bulan Juli lalu melakukan analisis terhadap kondisi ruang belajar dan proses belajar mengajar di SD Filial Semokan Ruak.
Analisis ini dilakukan dengan cara bertahap dimulai dari observasi lapangan, diskusi dengan guru dan kegiatan workshop bersama siswa untuk mengidentifikasi elemen ruang kelas mereka melalui instrumen yang telah disiapkan sebelumnya.
“Workshop ini diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih peka dengan lingkungan belajar yang ada di sekitarnya. Apabila siswa sadar dengan potensi ruang kelasnya, lama kelamaan akan timbul rasa memiliki sehingga dapat lebih nyaman untuk belajar dan beraktivitas di dalam ruangan”, ujar Pimpinan kegiatan Kukuh Rizki Satriaji Kukuh dari Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior, FSRD ITB
Selain Kukuh, kegiatan ini juga digawangi oleh Yogie Candra Bhumi, Hatif Adiar Almantara, Eljihadi Alfin, serta mahasiswa Maria Kristeva, dan Kalista Prasetya. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan Andi Abdul Qodir dan Arum Kartika Ningbudi dari komunitas Karasa.bdg, yang sudah biasa melakukan kegiatan-kegiatan berbasis komunitas.
“Dari hasil observasi yang dilakukan, siswa SD Filial memiliki energi yang cukup besar, dan dengan kebiasaan sehari-hari yang sering membantu orangtua di kebun, mereka memiliki keterampilan dan kecakapan dalam mengolah benda-benda di sekitar mereka.
Hal ini perlu kita salurkan dengan kegiatan belajar yang melibatkan siswa lebih aktif dan tidak menutup kemungkinan untuk proses belajar mengajar dilakukan di luar kelas dengan melihat potensi yang ada di sekitar sekolah. Hal ini yang kita coba terapkan dalam beberapa hari berkegiatan dengan siswa SD Filial.” sambung Eljihadi salah satu Tim Trauma Healing ITB yang juga bertugas di Desa Batu Rakit pasca bencana dua tahun lalu menambahkan,
Kunjungan ini membuka peluang diskusi tentang pengoptimalan ruang belajar pada sekolah dasar bagi pihak sekolah SD Filial dan SDN 04 Sukadana yang menjadi sekolah induk dengan dosen-dosen FSRD ITB sehingga ruang belajar yang terbatas tetap dapat menjadi optimal saat proses belajar mengajar berjalan.
Dengan adanya pelatihan yang telah diberikan diharapkan guru-guru SD Filial dan SDN 04 Sukadana dapat melihat potensi ruang kelas meski dalam keterbatasan untuk mengembangkan metode belajar yang lebih melibatkan banyak elemen ruang dan lingkungan. (r2/*)
Editor : Administrator