Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) KLU kini tengah memacu mengejar ketertinggalan tersebut. Salah satunya dengan menguatkan peran guru-guru di sekolah dan menggandeng sejumlah pihak lain seperti NGO. ”Literasi memang PR besar kita saat ini, kita sedang berupaya sekarang untuk memperbaiki angka predikat ini,” ujar Kepala Dikbudpora KLU Adenan, Kamis (2/2).
Dikatakannya, Dikbudpora telah bekerja sama dengan NGO dan pusat perbukuan. Tak hanya itu, pihaknya juga ikut melibatkan guru penggerak yang akan memacu ketertinggalan tersebut. ”Angka literasi Lombok Utara terendah se-NTB di mana untuk provinsi di angka 1,60 persen, sementara nasional di angka 1,65 persen,” sambungnya.
Persoalan rendahnya minat baca ini juga mendapat perhatian dari Balai Perbukuan Nasional dan IOA. Minimnya minat membaca ini dikarenakan kurangnya kesadaran tentang kebutuhan membaca. Di samping itu, juga minimnya rangsangan yang diberikan kepada pelajar terhadap ketertarikan dalam membaca. ”Beberapa waktu lalu kita ada rapat koordinasi dengan Balai Buku dan IOA, dan kita akan dibantu ribuan buku baca,” jelasnya.
”Karena kita Dikbudpora KLU leading sector pendidikan, ya akhirnya menjadi tugas yang harus dituntaskan,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk menuntaskan rendahnya minat baca tersebut, Balai Guru Penggerak, IOA, dan Balai Perbukuan Nasional akan menerjunkan 1.300 guru. Konsep IOA tersebut lebih kepada arah pengetatan dan disiplin kerja. ”Jangankan guru, saat ini kita di dinas saja dimonitor kinerjanya. Telat lima menit saja sudah terdeteksi,” bebernya.
Dibeberkan Adenan, rencananya IOA akan menjadikan Desa Akar-Akar sebagai sampel kerja mereka. Selain itu, nantinya dari pusat perbukuan akan mendukung program literasi ini dengan memberikan bantuan 6.000 buku bacaan. ”Kita juga dibantu 6.000 buku baca akan mendukung program literasi,” tandasnya. (fer/r9) Editor : Baiq Farida