------------------------------------
Pondok Pesantren Alam Sayang Ibu, menawarkan pembelajaran islami yang intens. Pondok yang ada di Desa Dasan Griya, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat ini juga menciptakan program pembelajaran yang sangat kekinian. ”Kita menghadapi persoalan krisis membaca. Itu berimplikasi ke kemampuan berpikir dan kreativitas,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Alam Sayang Ibu Jamaludin Abdullah.
Dirinya percaya, kreativitas akan lahir ketika manusia berimajinasi. Hal tersebut tercipta jika manusia memiliki literasi. Literasi ini bisa didapatkan melalui membaca. Apa pun itu, asal dibaca akan menstimulus otak untuk berpikir. Dengan itu dia berpikir, bagaimana mendekatkan literasi melalui mengaji.
Pihaknya coba menjadikan ritual mengaji tidak hanya sebagai penenang hati. Itu akan sama saja artinya dengan seorang penikmat musik yang merasa tenang jika mendengarkan musik. Mengenal lebih dalam makna dari ayat demi ayat dalam Alquran. Disertai dengan berpikir dan memahaminya secara seksama. Tidak hanya mengaji dalam tahsin, namun juga tadabur.
Dengan itu dia percaya nilai manis akan dipetik di tiap penggalan ayat-Nya. Seperti membuat hati tergerak dan otak berikir dan berkreativitas. Juga menemukan potensi yang tersembunyi di setiap individu yang tenggelam bersamanya.
Berangkat dari kondisi tersebut, lahirlah gagasan yang ditanamkan di pondok pesantren yang berbasis riset ini. Mereka menawarkan metode Bhatasa (Baca, Hafal, Tadabur, Tulis, Aksi). Dibungkus simpel dan mudah dicerna dalam buku Lima Yuhyikum. Diaplikasikan dengan sederhana, menarik dan tidak membosankan dalam kegiatan rutinan pondok Diary Quran. ”Saya coba menginisiasi model mengaji kita tingkatkan dari sekedar tahsin, tahfiz, ke tafhim (pemahaman),” tuturnya.
Kegiatan Diary Alquran sudah lama dilakukan Pondok Pesantren Alam Sayang ibu. Sejak awal dibangun, 2017 lalu sang ustad terus berexperimen terkait bagaimana mengemas kegiatan sebaik mungkin. Kegiatan ini tidak masuk dalam kurikulum resmi, namun menjadi extra yang wajib.
Langkah dalam mengikuti kegiatan Diary Alquran akan ditemani oleh buku pedoman Lima Yuhyikum. Santri akan dituntun untuk menjalankan metode yang diterapkan.
Mulai dari membaca berulang kali hingga mendapatkan ide pokok dari penggalan ayat. Selain itu, dengan sering melafalkannya, secara tidak langsung otak mampu menerima dan menghafal ayat tersebut. Namun dalam metode ini, menghafal adalah bonus. Setelah itu, santri diminta untuk membaca dan memahami makna ayat. Ayat dalam buku ini pun ditulis bilingual.
Bonus kedua dalam metode ini juga adalah, santri akan terbiasa dalam berbahasa Inggris. Kemudian, santri akan merenungkan implikasi ayat tersebut dalam kehidupan keseharian mereka.
”Dari sini otak bekerja, anak akan berpikir. Terjadi dialog antar dirinya sendiri atau dengan temannya,” kata pria lulusan doktoral pascasarjana UIN Jakarta itu.
Setiap kata yang terlintas wajib dituliskan pada halaman kosong bertajuk kata kunci dan goresan. Ini akan menjadi tadabur dan proses memahami ayat tersebut oleh santri. Metode terakhir terdapat inspirasi dan aksi. Yakni hayalan atau imajinasi yang terbesit dalam otak santri saat men-tadaburi ayat tersebut.
Imajinasi inilah yang nantinya akan dilakukan dalam langkah nyata berupa aksi. ”Tahap akhir inilah yang kita harapkan mereka mendapatkan ide untuk melakukan riset,” ujarnya. (sanchia vaneka/r9)
Editor : Baiq Farida